Kesehatan

Kekhawatiran Terkait Penurunan Gaya Hidup dan Dampaknya pada Pemeriksaan Kesehatan

Fenomena penurunan gaya hidup di tengah kondisi ekonomi yang sulit membuat masyarakat lebih selektif dalam pengeluaran. Namun, pakar kesehatan memperingatkan agar hal ini tidak menyebabkan penundaan p...

A
Agus Wigati
07 October 2026 29 pembaca
Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Foto: Gilang Faturahman/detikFoto

Jakarta - Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam pengeluaran, fenomena penurunan gaya hidup atau downgrade lifestyle semakin marak. Meskipun demikian, para ahli kesehatan mengingatkan agar penghematan yang dilakukan tidak mengakibatkan penundaan dalam melakukan medical check-up dan skrining kesehatan.

Dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, yang merupakan dokter sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), menekankan bahwa pemeriksaan kesehatan sering kali dianggap tidak mendesak, terutama oleh individu yang merasa sehat dan tidak merasakan gejala apapun. Namun, menunda pemeriksaan dapat menyebabkan risiko kesehatan yang baru terdeteksi ketika sudah dalam kondisi yang lebih parah.

Pentingnya Skrining Kesehatan Rutin

“Yang saya khawatirkan dari fenomena downgrade gaya hidup adalah masyarakat tidak hanya mengurangi belanja tersier, tetapi juga mulai menunda medical check-up dan skrining kesehatan. Padahal, banyak penyakit berkembang diam-diam tanpa gejala dan bisa dideteksi dini lewat skrining rutin,” ungkap dr. Ray dalam pernyataannya.

Menurut dr. Ray, beberapa kondisi seperti hipertensi, diabetes, anemia, hingga gangguan fungsi organ dapat berkembang tanpa menimbulkan keluhan yang berarti. Seseorang bisa saja merasa sehat dan tetap beraktivitas normal meskipun risiko kesehatan terus meningkat.

“Pemeriksaan kesehatan bukan hanya untuk orang yang sedang sakit. Justru ketika merasa sehat, skrining diperlukan untuk mengetahui apakah ada risiko yang sedang tumbuh tanpa disadari,” jelasnya.

Manfaat Program Cek Kesehatan Gratis

Di tengah situasi ekonomi yang memaksa masyarakat untuk menyesuaikan pengeluaran, dr. Ray mendorong agar masyarakat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan deteksi dini serta memperoleh pemeriksaan kesehatan dasar tanpa menambah beban biaya.

“Kalau biaya menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan, manfaatkan CKG. Sudah gratis, sayang sekali jika tidak digunakan. Datanglah sebelum sakit, bukan setelah penyakit menimbulkan komplikasi,” tegas dr. Ray, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC).

Ia menilai bahwa penghematan yang dilakukan dengan mengorbankan deteksi dini justru dapat berpotensi menjadi beban finansial yang lebih besar di masa depan. Penyakit yang terlambat terdeteksi biasanya memerlukan terapi yang lebih lama dan pengobatan yang lebih rumit, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi produktivitas dan pendapatan keluarga.

“Menunda membeli barang konsumtif mungkin merupakan penghematan. Namun, menunda skrining kesehatan belum tentu menghemat. Bisa jadi kita hanya memindahkan biaya kecil hari ini menjadi biaya pengobatan yang jauh lebih besar pada kemudian hari,” tambahnya.

Oleh karena itu, dr. Ray mengingatkan bahwa fenomena downgrade lifestyle sebaiknya diimbangi dengan pemahaman yang baik tentang kesehatan. Masyarakat perlu cermat dalam memilah pengeluaran mana yang dapat dikurangi dan kebutuhan dasar apa yang tetap harus dipertahankan.

“Silakan downgrade gengsi, hiburan, atau barang yang tidak mendesak. Tetapi jangan ikut menurunkan perlindungan terhadap kesehatan. Manfaatkan CKG, kenali risiko sejak dini, dan jangan menunggu tubuh mengirimkan tagihan dalam bentuk penyakit,” tutup dr. Ray.

Artikel Terkait