Kematian seorang pekerja perempuan di sebuah lembaga penelitian antipes yang terletak di Irkutsk, Rusia, menarik perhatian publik setelah muncul dugaan bahwa insiden tersebut berkaitan dengan penyakit pes. Menurut laporan, sekitar 200 individu yang diduga melakukan kontak dengan korban kini berada dalam pengawasan medis. Namun, penyebab pasti dari kematian pekerja tersebut masih menunggu konfirmasi resmi, meskipun diketahui ia mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum teridentifikasi. Otoritas setempat juga menyatakan bahwa situasi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk tetap dalam kondisi stabil.
Perlu Data dan Informasi yang Jelas
Di tengah berkembangnya informasi mengenai kasus ini, mantan Direktur Penyakit Menular WHO untuk Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menekankan pentingnya mendapatkan data dan informasi yang lebih jelas serta konfirmasi resmi mengenai situasi tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa ada lima hal penting yang perlu diketahui tentang penyakit pes.
Fakta-fakta Mengenai Penyakit Pes
Penyakit pes dikenal sebagai penyebab dari Black Death atau Wabah Hitam yang terjadi antara tahun 1346 hingga 1353, yang mengakibatkan kematian puluhan hingga ratusan juta orang di Eropa, Asia, dan Afrika. Prof Tjandra menyebut peristiwa tersebut sebagai salah satu pengalaman paling kelam dalam sejarah pandemi global. Di Indonesia, wabah pes juga pernah terjadi pada awal abad ke-20, khususnya di Pulau Jawa, seperti yang dijelaskan dalam laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Lebih lanjut, Prof Tjandra mengungkapkan bahwa laman WHO yang diperbarui pada 29 September 2026 menyebutkan bahwa penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Ia menjelaskan bahwa penyakit ini merupakan zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, dan selanjutnya dapat menular antar manusia melalui kontak langsung dengan bagian tubuh yang terinfeksi atau melalui partikel yang terhirup saat bernapas. Hal ini menjadikan penyakit pes sebagai masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus. Di Rusia, sekitar 200 orang yang melakukan kontak dengan kasus tersebut kini berada dalam pengawasan medis.
Penyakit pes memiliki beberapa bentuk, di antaranya bubonic plague yang ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening, serta bentuk lainnya yang dapat menyebar melalui sirkulasi darah atau menyebabkan septikemia. Terdapat juga pneumonic plague yang menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan pneumonia. Kasus pekerja laboratorium di Rusia tersebut dilaporkan mengalami pneumonia, meskipun belum ada penjelasan rinci mengenai manifestasinya.
Prof Tjandra menambahkan bahwa penyakit pes dapat berakibat fatal, dengan angka kematian untuk bubonic plague berkisar antara 30% hingga 60%. Sementara itu, pneumonic plague dikenal sangat ganas dan pasien dapat meninggal jika terlambat mendapatkan perawatan. Ia juga mengingatkan bahwa meskipun tidak ada kasus pes yang dilaporkan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, bukan berarti negara ini sepenuhnya bebas dari penyakit tersebut. BRIN mencatat adanya fenomena silent period, di mana penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih memiliki potensi untuk muncul kembali.
Peneliti BRIN juga menemukan bakteri penyebab pes serta vektor dan reservoirnya, seperti pinjal dan tikus, di beberapa wilayah enzootik di Indonesia. Oleh karena itu, Prof Tjandra mengingatkan agar perkembangan situasi di Rusia terus dipantau dan Indonesia tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya penyakit pes.
“Kita perlu memantau dengan ketat tentang apa yang terjadi di Rusia ini, dan kita juga harus terus berhati-hati tentang kemungkinan pes di negara kita,” ujarnya.