Jakarta - Beberapa provinsi di Indonesia telah menetapkan status siaga darurat untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lebih dari 13 juta warga berisiko mengalami masalah kesehatan akibat karhutla. Menurut laporan Pusat Krisis Kementerian Kesehatan RI per 11 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota dari 7 provinsi yang terdampak. Dari jumlah tersebut, kasus ISPA pada balita berusia 0-5 tahun mencapai 62.400 kasus.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa asap dari karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun. Paparan terhadap zat-zat ini dapat menyebabkan ISPA, iritasi pada mata dan kulit, memperburuk kondisi asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Upaya Perlindungan Kesehatan
Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan PPOK, termasuk pekerja yang berada di luar ruangan. Untuk itu, Kemenkes telah mengerahkan 2.106 tenaga medis dan kesehatan serta mendistribusikan jutaan logistik medis ke daerah yang terdampak.
Distribusi perlengkapan medis dan obat-obatan mencakup 2.892.040 masker, 280 unit konsentrator oksigen, 100 face shield, 36 tabung oksigen, 41 ribu pasang sarung tangan medis, 9 unit air purifier, 4.908 alat pelindung diri (APD), 350 dus pemberian makanan tambahan (PMT), serta berbagai jenis obat-obatan dan vitamin.
Pelayanan Kesehatan Tanggap Darurat
Pemerintah telah menyiapkan 1.691 puskesmas dan 36 rumah sakit rujukan untuk memberikan pelayanan kesehatan terkait dampak karhutla. Selain itu, pos kesehatan dan ruang oksigen juga disediakan, serta program "Oase Udara" di beberapa daerah di Kalimantan untuk memastikan pasokan oksigen bagi warga yang mengalami sesak napas.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat mengurangi dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh karhutla dan melindungi masyarakat dari risiko yang lebih besar.