Menteri Haji dan Umroh, Mochamad Irfan Yusuf, mengungkapkan bahwa biaya haji untuk tahun depan berpotensi mengalami kenaikan seiring dengan lonjakan harga bahan bakar pesawat, yaitu avtur. "Total biaya penyelenggaraan (haji) InsyaAllah pasti naik karena dari segi Avtur sudah luar biasa kenaikannya. Tapi kami berusaha mencari (solusi) meminta arahan Presiden agar tidak terlalu memberatkan kepada jemaah," ujar Irfan saat ditemui di Istana Kepresidenan pada Senin (28/9).
Diskusi dengan DPR dan Usulan Kenaikan Biaya
Irfan menjelaskan bahwa Kementerian Haji telah melakukan pembahasan mengenai hal ini dalam rapat Panja bersama DPR selama hampir sebulan. Namun, hingga saat ini, belum ada angka pasti terkait usulan kenaikan biaya haji. Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meminta agar biaya haji diturunkan saat pembentukan Kementerian Haji dan Umroh. "Minta turun karena kemarin belum ada situasi geopolitik Timur Tengah yang luar biasa ini. Makanya saya lapor kepada beliau tentang perkembangan terakhir," tambahnya.
Revisi Undang-Undang dan Efisiensi Biaya
Selain membahas biaya penyelenggaraan ibadah haji, Irfan juga menyebutkan bahwa pertemuan tersebut membahas revisi Undang-Undang Pengelolaan Keuangan Haji yang saat ini sedang diproses oleh DPR. Saat pembentukan Kementerian Haji tahun lalu, Prabowo menyatakan bahwa lembaga baru ini diharapkan dapat memberikan hasil nyata, termasuk penurunan biaya haji. Ia juga menekankan pentingnya efisiensi dan pelaksanaan yang bersih dalam menekan biaya haji. "Alhamdulillah, kami sudah bisa turunkan biaya haji dan saya minta terus menteri haji, dia tidak hadir karena dia berada sekarang di Arab Saudi berurusan sama mereka. Saya minta biaya haji harus terus turun dengan efisiensi dan pelaksanaan yang bersih," ungkapnya tahun lalu.
PT Pertamina Patra Niaga sebelumnya telah mengumumkan kenaikan harga avtur untuk penerbangan domestik pada periode September 2026. Di Bandara Soekarno Hatta (CGK), harga avtur bulan ini ditetapkan sebesar Rp 22.471 per liter, meningkat 6,49% dari harga sebelumnya yang sebesar Rp 21.102 per liter. Kenaikan harga avtur ini juga terjadi di beberapa bandara lainnya, termasuk Bandara Juanda di Surabaya dan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar.
Pada bulan Juli lalu, Kitty Andhora, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, menyatakan bahwa penyesuaian harga avtur merupakan bagian dari evaluasi berkala sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Penetapan harga didasarkan pada dinamika harga pasar minyak dunia, pertimbangan aspek fiskal, serta daya beli dan perekonomian masyarakat. Harga avtur sempat mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir, sebelum akhirnya kembali naik pada bulan ini, setelah sebelumnya juga mengalami kenaikan pada bulan April dan Mei 2026.
Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id. Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.