Kesehatan

Kerja Sama Baru BPOM RI dan China: Fokus pada Vaksin dan Teknologi AI

Indonesia dan China sedang mempersiapkan Memorandum of Understanding (MoU) baru yang akan memperkuat kerja sama di bidang regulasi produk kesehatan, termasuk vaksin dan kecerdasan buatan. Kunjungan in...

E
Eko Prasetyo
24 September 2026 22 pembaca
Foto: BPOM RI
Foto: BPOM RI

Jakarta - Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu pasar besar untuk industri farmasi dan produk kesehatan global. Namun, dalam kunjungan ke Beijing, Indonesia hadir bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai mitra strategis dengan sistem regulasi yang diakui secara internasional. Kunjungan ini dipimpin oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof dr Taruna Ikrar, M.Biomed, PhD, bersama delegasi BPOM RI.

Salah satu agenda utama dalam kunjungan ini adalah memperkuat kerja sama dengan National Medical Products Administration (NMPA) China. Pertemuan ini bertujuan untuk memfasilitasi penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) baru antara BPOM dan NMPA, yang akan memperluas kerja sama regulasi antara kedua negara.

Memperluas Cakupan Kerja Sama

"Draft sudah selesai dan dalam waktu dekat akan dilakukan penandatanganan," ungkap Taruna Ikrar di Beijing. Kerja sama yang sedang disiapkan tidak hanya terbatas pada pengawasan obat, tetapi juga mencakup vaksin, produk biologis, bahan baku farmasi, obat berbahan alam, kosmetik, serta penguatan teknologi regulasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam ekosistem kesehatan.

Kerjasama ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan kesehatan dan meningkatkan posisi dalam rantai pasok farmasi global. Sementara itu, bagi China, Indonesia menawarkan aset penting dalam industri kesehatan modern, yaitu kapasitas regulatori yang telah diakui secara internasional.

Taruna menekankan pentingnya investasi dan transfer teknologi dari China ke Indonesia, khususnya dalam sektor vaksin dan produk biologis. "Beberapa teknologi, terutama teknologi vaksin, akan masuk ke Indonesia melalui investasi dan kerja sama industri. Yang kita dorong bukan hanya masuknya produk, tetapi juga investasi, transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri, dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia," jelasnya.

Modal Baru dalam Diplomasi Kesehatan

Hubungan Indonesia dan China di sektor kesehatan kini tidak lagi bersifat satu arah. Indonesia telah mendapatkan pengakuan sebagai WHO-Listed Authority (WLA) dari World Health Organization (WHO), yang menegaskan bahwa BPOM memenuhi standar internasional dalam regulasi vaksin. Pengakuan ini memperbesar peluang Indonesia untuk berkolaborasi secara regulatori dan meningkatkan akses produk kesehatan di tingkat global.

Taruna menambahkan, "Indonesia memiliki keunggulan dalam sistem regulasi dan tata kelola produksi karena BPOM sudah menjadi WHO-Listed Authority. Ini bukan hanya pengakuan terhadap BPOM, tetapi juga modal strategis bagi industri farmasi dan kesehatan Indonesia untuk semakin terhubung dengan ekosistem global." Dalam industri farmasi modern, kekuatan regulator berpengaruh langsung terhadap kepercayaan, investasi, inovasi, dan akses pasar.

Dengan pencapaian WLA, Indonesia dapat menggunakan status ini sebagai instrumen diplomasi ekonomi dan kesehatan. Melalui mekanisme regulatory reliance, hasil evaluasi dari otoritas regulatori terpercaya dapat dijadikan referensi dalam proses regulasi, sambil tetap mempertahankan kewenangan regulator nasional.

Perubahan ini membuat posisi Indonesia dalam kerja sama internasional semakin strategis, di mana Indonesia tidak hanya menawarkan pasar besar, tetapi juga kapasitas regulatori, basis industri, sumber daya manusia, biodiversitas, dan peluang pengembangan teknologi kesehatan.

Di Beijing, Taruna Ikrar juga berpartisipasi dalam International Biomedical Industry Innovation Conference dan forum mengenai AI + New Medical Technology, yang melibatkan akademisi dan inovator dari Universitas Tsinghua. Dalam forum ini, Taruna membahas pemanfaatan kecerdasan buatan dalam teknologi kedokteran baru, termasuk pengembangan dan pengawasan Advanced Therapy Medicinal Products (ATMPs).

“Regulator tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi. Regulasi harus mampu menjaga keselamatan masyarakat, tetapi pada saat yang sama juga harus adaptif terhadap inovasi,” ujarnya. Kerja sama dengan universitas, pusat penelitian, industri, dan regulator kelas dunia menjadi bagian penting dari strategi Indonesia dalam membangun ekosistem kesehatan masa depan.

Taruna berharap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Tsinghua dapat dikolaborasikan dengan Indonesia melalui riset, transfer teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Dengan rangkaian kunjungan ini, Indonesia menunjukkan bahwa negara ini tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi kesehatan global, tetapi juga sedang membangun kapasitas untuk menjadi mitra dalam inovasi, investasi, produksi, dan regulasi kesehatan di tingkat internasional.

Artikel Terkait