Ekonomi

Korelasi Antara Kegiatan Politik dan Investasi Pasar Modal Menurun

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa pengaruh politik terhadap keputusan investasi di pasar modal semakin berkurang.

A
Ananta Prana
14 July 2026 31 pembaca
Dieut BEI Jeffrey Hendrik mengklaim kondisi politik saat ini tidak lagi memiliki pengaruh besar terhadap keputusan investasi di pasar modal. (Foto: CNN Indonesia/ Muhammad Falah)
Dieut BEI Jeffrey Hendrik mengklaim kondisi politik saat ini tidak lagi memiliki pengaruh besar terhadap keputusan investasi di pasar modal. (Foto: CNN Indonesia/ Muhammad Falah)

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik membantah anggapan bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipengaruhi oleh pidato Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kondisi politik saat ini tidak lagi memiliki pengaruh besar terhadap keputusan investasi di pasar modal.

Jeffrey mengatakan korelasi antara aktivitas politik dan pergerakan pasar saham terus menurun, seiring semakin matangnya ekonomi dan demokrasi suatu negara. "Kalau kami melihat dari waktu ke waktu, korelasi antara politik dengan keputusan investasi itu semakin berkurang. Kalau kita bicara di tahun 80-an, korelasi antara aktivitas politik dengan pergerakan pasar itu masih tinggi, dan itu juga terjadi di banyak negara yang ekonomi dan demokrasinya maju," kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (13/7).

Ia menilai tren serupa juga terjadi di Indonesia. Bahkan, di negara maju seperti Amerika Serikat, hubungan antara dinamika politik dan pergerakan pasar saham disebut sudah semakin kecil. "Kami melihat tren di Indonesia juga begitu, dan itu sudah berlangsung cukup lama, bahwa korelasi antara kegiatan politik dengan kegiatan investasi di pasar modal itu sudah tidak terlalu tinggi korelasinya," ujarnya.

Jeffrey menjelaskan bahwa keputusan investor saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi fundamental ekonomi dan ketidakpastian global dibandingkan dinamika politik domestik. Ia mencontohkan berbagai sentimen global sepanjang satu tahun terakhir, seperti kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, keputusan bank sentral AS (The Fed), hingga konflik di Timur Tengah, yang dinilai lebih berpengaruh terhadap pergerakan IHSG.

"Jadi kalau kami mengaitkan, lebih mengaitkan ke situ bahwa terjadinya eskalasi, kemudian deeskalasi, kemudian pengumuman dari Bank Sentral Amerika, pengumuman dari pemerintah Amerika," ujar Jeffrey. "Jadi dinamika-dinamika itu justru yang berdampak lebih langsung kepada pergerakan di pasar ketimbang hal-hal lain yang tadi disampaikan," pungkasnya.

Artikel Terkait