Hiburan

Kreativitas di Tengah Keterbatasan: Kisah Faisal Sahuri Merawat Seni Wayang dengan Kertas Dupleks

S
Safeera Anisa
18 September 2026 30 pembaca
Faisal Sahuri (16), menunjukkan wayang kulit dan wayang kertas buatannya saat ditemui di sela Pekan Raya Kajen 2026 di Alun-alun Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah pada Kamis (27/8/2026). (YUSUF BASTIAR/KOMPAS.COM)
Faisal Sahuri (16), menunjukkan wayang kulit dan wayang kertas buatannya saat ditemui di sela Pekan Raya Kajen 2026 di Alun-alun Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah pada Kamis (27/8/2026). (YUSUF BASTIAR/KOMPAS.COM)

PEKALONGAN – Semangat melestarikan seni pertunjukan tradisional terus menyala di kawasan lereng Pegunungan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Seorang dalang muda sekaligus pembuat wayang asal Desa Telogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Faisal Sahuri (16), membagikan karya serta pengalamannya saat ditemui di sela agenda Pekan Raya Kajen 2026 yang berlangsung di Alun-alun Kajen, Kabupaten Pekalongan, pada Kamis (27/8/2026).

Awal Mula Ketertarikan dan Rintangan Biaya

Perjalanan Faisal dalam dunia pewayangan telah mengakar sejak ia baru berusia lima tahun. Keinginan mendalam untuk memiliki tokoh-tokoh wayang secara mandiri sempat membentur kendala finansial, mengingat harga wayang berbahan kulit sapi tergolong tinggi bagi dirinya. Padahal, proses pembuatan wayang kulit asli dari bahan kulit sapi dapat memakan durasi hingga satu tahun.

Mengenang masa-masa awal perjuangannya tersebut, Faisal mengungkapkan:

“Dulu itu saya ingin membikin wayang dari kulit sapi yang asli. Tapi karena saya enggak punya uang, uangnya juga enggak cukup, akhirnya saya beli kertas dupleks,”

Inovasi Wayang Kertas untuk Melestarikan Tradisi

Hambatan dana tidak memadamkan antusiasme remaja belia ini. Ia memutar otak hingga melahirkan terobosan dengan memanfaatkan lembaran kertas dupleks. Agar struktur wayang ciptaannya berdiri kokoh, kertas tersebut dirangkap dua, sebelum kemudian digambar, ditatah, serta dipoles pewarnaan secara mendetail menggunakan pensil maupun alat tatah.

Meski tingkat ketahanan wayang kertas tidak sekuat bahan kulit, Faisal menegaskan bahwa medium bahan bukanlah persoalan utama. Berkat alternatif ini, ia beserta rekan-rekannya tetap dapat memainkan lakon wayang diiringi tabuhan gamelan demi memastikan warisan kebudayaan tetap hidup di tengah generasi seumurnya.

Tidak ada tag untuk artikel ini

Artikel Terkait