🔴 Breaking
ZYRX Mendapatkan Pembiayaan Sebesar Rp178,8 Miliar dari Bank Permata Prabowo Sampaikan Permohonan Maaf atas Upaya Pencak Silat Masuk Olimpiade yang Belum Terwujud Pendaftaran UIN Jakarta 2026: Jalur Non Tes dengan Nilai SNBT Dividen Rp45 per Saham, Investor ARNA Dapat Keuntungan Menarik Livin' oleh Mandiri Luncurkan Fitur QR Internasional di Korea Selatan Bahlil: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Masih Dalam Pertimbangan Inovasi Deteksi Penyakit Kucing: Dosen Universitas Brawijaya Kembangkan Kit Deteksi Panleukopenia BRI Umumkan Pembagian Dividen Menggembirakan, DPR Catat Angka Mencapai 92 Persen Kementerian Pertanian Tetapkan Harga Kedelai Acuan di Rp11.500 per Kg untuk Stabilitas Pasar Pendaftaran UTBK SNBT 2026: Download Kartu Peserta Mulai Besok ZYRX Mendapatkan Pembiayaan Sebesar Rp178,8 Miliar dari Bank Permata Prabowo Sampaikan Permohonan Maaf atas Upaya Pencak Silat Masuk Olimpiade yang Belum Terwujud Pendaftaran UIN Jakarta 2026: Jalur Non Tes dengan Nilai SNBT Dividen Rp45 per Saham, Investor ARNA Dapat Keuntungan Menarik Livin' oleh Mandiri Luncurkan Fitur QR Internasional di Korea Selatan Bahlil: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Masih Dalam Pertimbangan Inovasi Deteksi Penyakit Kucing: Dosen Universitas Brawijaya Kembangkan Kit Deteksi Panleukopenia BRI Umumkan Pembagian Dividen Menggembirakan, DPR Catat Angka Mencapai 92 Persen Kementerian Pertanian Tetapkan Harga Kedelai Acuan di Rp11.500 per Kg untuk Stabilitas Pasar Pendaftaran UTBK SNBT 2026: Download Kartu Peserta Mulai Besok
Nasional

Krisis Energi di Filipina: Penumpukan Pesawat di Darat karenaLonjakan Harga Bahan Bakar

Filipina menghadapi krisis energi parah akibat lonjakan harga bahan bakar, menyebabkan banyak pesawat tidak bisa terbang.

Indriani Atmaja

Penulis

24 March 2026
5 kali dibaca
Krisis Energi di Filipina: Penumpukan Pesawat di Darat karenaLonjakan Harga Bahan Bakar

Filipina saat ini sedang menghadapi krisis energi yang sangat parah. Harga bahan bakar yang melonjak drastis, bahkan mencapai 100% dalam beberapa minggu terakhir, telah menyebabkan banyak pesawat tidak bisa terbang. Kondisi ini telah menyebabkan penumpukan pesawat di bandara dan mengganggu aktivitas penerbangan di negara tersebut.

Menurut data terbaru, harga bahan bakar di Filipina telah meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini telah menyebabkan biaya operasional penerbangan menjadi sangat mahal, sehingga banyak maskapai penerbangan tidak bisa lagi menjalankan operasionalnya dengan normal. "Kami sangat kesulitan untuk menjalankan operasional kami karena biaya bahan bakar yang sangat tinggi," kata salah satu pejabat maskapai penerbangan di Filipina.

Krisis energi ini telah menyebabkan banyak penumpang yang terkena dampak. Mereka harus menangguhkan perjalanan mereka atau mencari alternatif lain, seperti menggunakan transportasi darat atau laut. "Saya harus menangguhkan perjalanan saya ke luar kota karena tidak ada pesawat yang tersedia," kata salah satu penumpang yang terkena dampak.

Pemerintah Filipina telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi krisis energi ini. Mereka telah menetapkan harga maksimum bahan bakar dan meningkatkan produksi bahan bakar dalam negeri. Namun, langkah-langkah ini belum efektif dalam mengatasi krisis energi yang sedang terjadi. "Kami sedang berusaha untuk meningkatkan produksi bahan bakar dalam negeri, tetapi prosesnya memerlukan waktu," kata salah satu pejabat pemerintah.

Krisis energi di Filipina ini telah menyebabkan banyak dampak negatif, tidak hanya bagi industri penerbangan, tetapi juga bagi perekonomian negara secara keseluruhan. Pemerintah dan masyarakat Filipina harus bekerja sama untuk mengatasi krisis ini dan mencari solusi jangka panjang untuk menghindari krisis energi di masa depan.

Artikel Terkait

Sumber: www.inews.id