🔴 Breaking
ZYRX Mendapatkan Pembiayaan Sebesar Rp178,8 Miliar dari Bank Permata Prabowo Sampaikan Permohonan Maaf atas Upaya Pencak Silat Masuk Olimpiade yang Belum Terwujud Pendaftaran UIN Jakarta 2026: Jalur Non Tes dengan Nilai SNBT Dividen Rp45 per Saham, Investor ARNA Dapat Keuntungan Menarik Livin' oleh Mandiri Luncurkan Fitur QR Internasional di Korea Selatan Bahlil: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Masih Dalam Pertimbangan Inovasi Deteksi Penyakit Kucing: Dosen Universitas Brawijaya Kembangkan Kit Deteksi Panleukopenia BRI Umumkan Pembagian Dividen Menggembirakan, DPR Catat Angka Mencapai 92 Persen Kementerian Pertanian Tetapkan Harga Kedelai Acuan di Rp11.500 per Kg untuk Stabilitas Pasar Pendaftaran UTBK SNBT 2026: Download Kartu Peserta Mulai Besok ZYRX Mendapatkan Pembiayaan Sebesar Rp178,8 Miliar dari Bank Permata Prabowo Sampaikan Permohonan Maaf atas Upaya Pencak Silat Masuk Olimpiade yang Belum Terwujud Pendaftaran UIN Jakarta 2026: Jalur Non Tes dengan Nilai SNBT Dividen Rp45 per Saham, Investor ARNA Dapat Keuntungan Menarik Livin' oleh Mandiri Luncurkan Fitur QR Internasional di Korea Selatan Bahlil: Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Masih Dalam Pertimbangan Inovasi Deteksi Penyakit Kucing: Dosen Universitas Brawijaya Kembangkan Kit Deteksi Panleukopenia BRI Umumkan Pembagian Dividen Menggembirakan, DPR Catat Angka Mencapai 92 Persen Kementerian Pertanian Tetapkan Harga Kedelai Acuan di Rp11.500 per Kg untuk Stabilitas Pasar Pendaftaran UTBK SNBT 2026: Download Kartu Peserta Mulai Besok
Nasional

Kritik Tajam Terhadap Kebijakan Pembelajaran Daring oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI

My Esti Wijayanti, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, mengekspresikan ketidaksetujuan terhadap wacana pembelajaran daring dan mengecam dampaknya bagi siswa.

Jarot Kusna

Penulis

24 March 2026
9 kali dibaca
Kritik Tajam Terhadap Kebijakan Pembelajaran Daring oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayanti, mengungkapkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap wacana mengenai kegiatan belajar daring bagi siswa. Ia menilai bahwa kebijakan ini memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap proses pendidikan anak-anak di Indonesia. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa sesi belajar secara daring tidak dapat menggantikan pengalaman pendidikan yang optimal yang diperoleh di lingkungan sekolah.

My Esti Wijayanti menyoroti berbagai masalah yang muncul akibat implementasi kebijakan ini. Ia mencatat, "Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran ketika belajar dari rumah. Keterbatasan akses terhadap teknologi dan internet juga menjadi penghalang bagi mereka yang berada di daerah terpencil." Pernyataan ini menekankan realitas bahwa tidak semua siswa memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses teknologi yang diperlukan untuk mengikuti pembelajaran daring dengan efektif.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembelajaran daring dapat menyebabkan hilangnya interaksi sosial antara siswa dan guru. Hal ini berpotensi merugikan perkembangan sosial dan emosional para siswa. "Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga untuk bersosialisasi," tambahnya. My Esti menunjuk pada pentingnya interaksi langsung dalam menciptakan pengalaman belajar yang menyeluruh dan bermakna bagi anak-anak.

Di sisi lain, ia juga mengkritik pemerintah yang dianggap kurang responsif terhadap tantangan yang dihadapi oleh para pelajar dan pengajar. "Kami berharap pemerintah dapat mengevaluasi kembali kebijakan ini dan memberikan solusi yang lebih efektif. Kesejahteraan pendidikan harus menjadi prioritas utama," ungkapnya. Kritik ini mencerminkan harapan agar kebijakan pendidikan dapat lebih inklusif dan beradaptasi dengan kebutuhan siswa di era digital ini.

Sementara itu, beberapa guru dan orang tua juga menyampaikan keluhan serupa, mengindikasikan bahwa tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran daring bukan hanya terbatas pada siswa, tetapi juga meluas kepada seluruh pemangku kepentingan dalam pendidikan. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa hampir 60% orang tua merasa bahwa anak-anak mereka tidak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dibandingkan dengan saat belajar di sekolah.

Melihat semua isu yang telah diungkapkan, My Esti Wijayanti mendorong adanya dialog yang lebih konstruktif antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. "Kami membutuhkan kolaborasi yang solid untuk memastikan pendidikan yang berkualitas bagi semua anak," katanya. Harapannya, perubahan dan peningkatan dalam kebijakan pendidikan dapat segera direalisasikan agar siswa tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki keterampilan sosial yang baik.

Dengan demikian, kritik terhadap kebijakan pembelajaran daring ini diharapkan dapat membuka jalan bagi perbaikan yang lebih baik di masa mendatang. Berbagai pihak masih menunggu langkah konkret dari pemerintah untuk menangani isu-isu ini, agar pendidikan di Indonesia kembali ke jalur yang lebih efektif dan bermakna bagi seluruh siswa.

Artikel Terkait

Sumber: www.jpnn.com