Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Tonny Harjono, menegaskan kepada para prajurit TNI AU bahwa proses modernisasi tidak hanya terbatas pada pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) baru. Kehadiran alutsista yang modern harus didukung oleh kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, serta kemampuan operasional yang memadai. Pernyataan ini disampaikan oleh Tonny pada puncak perayaan Hari Bhakti ke-79 yang berlangsung di Yogyakarta.
“Modernisasi tidak berhenti pada hadirnya alutsista baru, tetapi harus diikuti kesiapan operasi, sistem yang andal, dan personel yang mampu mengawaki, mengoperasikan, memelihara dan mengembangkannya sehingga benar-benar menghadirkan daya gentara bagi negara,” ujar Tonny di Lapangan Dirgantara Akademi Angkatan Udara (AAU), Yogyakarta pada Rabu, 29 Juli 2026.
Transformasi TNI AU dan Kesiapan Operasional
Pernyataan tersebut sejalan dengan transformasi yang tengah dilakukan oleh TNI AU pada tahun 2025. Doktrin yang ada di TNI AU direvisi untuk menyesuaikan dengan kemampuan pesawat-pesawat baru yang telah dimiliki, seperti jet tempur Rafale dan T-50i. Tonny juga mengingatkan bahwa organisasi dan doktrin harus terus berkembang untuk mengikuti perubahan karakter ancaman yang ada.
“Kesiapan operasional ini tidak hanya ditentukan kemampuan di udara tetapi juga oleh kesiapan pada domain siber, informasi spektrum elektromagnetik hingga antariksa,” tambahnya.
Tugas dan Tanggung Jawab Prajurit TNI AU
Lebih lanjut, Tonny mengingatkan bahwa tugas prajurit TNI AU kini semakin kompleks. Mereka tidak hanya bertanggung jawab untuk menjaga kedaulatan wilayah udara nasional, tetapi juga berperan dalam penanggulangan bencana serta menyiapkan generasi penerus bangsa. “Sesungguhnya kita sedang meneruskan warisan pengabdian para pendahulu dalam setiap penugasan yang diamanahkan kepada TNI AU. Oleh karena itu saya mengajak seluruh prajurit dan aparatur sipil negara untuk menjadikan setiap penugasan sebagai kehormatan, setiap perubahan sebagai dorongan untuk terus belajar dan setiap tantangan sebagai kesempatan meningkatkan profesionalisme, integritas dan kualitas pengabdian kepada bangsa serta negara,” ungkapnya.
Dengan semangat tersebut, TNI AU diharapkan dapat memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa, sebagai wujud bakti TNI AU untuk Indonesia yang lebih maju. Sebelum perayaan puncak Hari Bhakti ke-79, pimpinan militer juga mengundang mantan KSAU, Chappy Hakim, untuk menghadiri jamuan di Museum Dirgantara, Yogyakarta. Tonny menekankan pentingnya menjaga kesinambungan pengabdian di tengah akselerasi pembangunan kekuatan udara.
“Kegiatan Sambung Rasa menegaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan organisasi, Jiwa Dirgantara tetap menjadi landasan pengabdian dalam setiap insan TNI AU,” jelas Tonny.
Hari Bhakti TNI AU yang diperingati setiap tahun pada 29 Juli memiliki latar belakang sejarah yang mendalam, terkait dengan serangan udara Belanda di tiga daerah dan gugurnya tiga pelopor TNI AU di Pangkalan Udara Maguwo. Peristiwa ini berawal pada 21 Juli 1947 saat terjadi Agresi Belanda I, di mana Belanda meluncurkan serangan ke sejumlah daerah, termasuk Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta yang merupakan pusat kekuatan udara RI.
Serangan tersebut memicu balasan dari TNI AU di daerah yang diduduki Belanda, yang dilakukan oleh Kadet Penerbang Sutardjo Sigit, Suharmoko Harbani, dan Mulyono, dengan bantuan penembak udara. Pada 29 Juli 1947, Belanda melancarkan serangan balasan yang mengakibatkan jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan untuk Palang Merah Indonesia, menewaskan tiga tokoh perintis TNI AU, yaitu Komodor Muda Adisucipto, Komodor Muda Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Adisumarmo. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi TNI AU dan sejak 1955, setiap 29 Juli ditetapkan sebagai Hari Bhakti TNI AU.