Pada perdagangan Senin, 28 September, sejumlah saham yang tergabung dalam Grup Bakrie menunjukkan pergerakan yang beragam. Hal ini terjadi bersamaan dengan diberlakukannya ketentuan baru oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas minimum harga saham di pasar reguler dari Rp 50 menjadi Rp 1.
Berdasarkan informasi dari RTI Business, pada pukul 10.37 WIB, saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mengalami lonjakan hingga 30,56% menjadi Rp 47, dengan total nilai transaksi mencapai Rp 7,7 miliar. Sementara itu, saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) juga meningkat sebesar 26,67% menjadi Rp 38, dengan nilai transaksi mencapai Rp 37,9 miliar.
Namun, tidak semua saham Grup Bakrie menunjukkan tren positif. Saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mengalami penurunan sebesar 1,28% menjadi Rp 770, diikuti oleh PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang turun 1,33% ke Rp 74, serta PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) yang terkoreksi 1,82% menjadi Rp 162. Selain itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk juga melemah 2,27% menjadi Rp 645.
Analisis Perubahan Kebijakan BEI
Menurut Muhammad Thoriq Fadilla, seorang analis riset dari Bumiputera Sekuritas, perubahan batas harga minimum dari Rp 50 menjadi Rp 1 tidak dapat langsung dianggap sebagai sinyal negatif atau positif bagi saham-saham Grup Bakrie. Ia menekankan bahwa kebijakan ini berlaku untuk semua saham yang terdaftar di BEI, bukan hanya untuk Grup Bakrie.
Thoriq menambahkan bahwa meskipun perubahan tersebut menarik perhatian, banyak saham Bakrie yang telah bertahan pada level Rp 50 untuk waktu yang cukup lama. Ia menjelaskan bahwa perubahan aturan ini tidak serta-merta membuat harga saham yang saat ini berada di kisaran Rp 100, Rp 200, hingga Rp 1.000 jatuh ke Rp 50. Menurutnya, harga saham ditentukan oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran, serta kondisi fundamental masing-masing perusahaan.
Risiko dan Peluang di Pasar Saham
“Dengan kata lain, aturan ini hanya membuka ruang harga yang sebelumnya tidak tersedia di pasar reguler,” jelas Thoriq. Ia juga mengingatkan bahwa meskipun ada risiko untuk kembali ke level Rp 50, risiko tersebut lebih berfokus pada saham-saham yang harganya masih dekat dengan area tersebut dan memiliki fundamental yang belum cukup kuat. Sementara itu, untuk saham-saham Bakrie yang sudah jauh dari Rp 50 dan menunjukkan pertumbuhan laba yang solid, risiko untuk kembali ke level tersebut relatif lebih rendah, asalkan kondisi fundamentalnya tetap stabil.
Untuk mendapatkan informasi terkini dan data berharga, pengguna dapat mengakses berita melalui saluran WhatsApp Katadata.co.id, serta menikmati pengalaman membaca yang lebih nyaman melalui aplikasi mobile Katadata.