Jakarta - Budidaya maggot yang dilakukan di Swara Hijau Farm di Klender, Jakarta Timur, menunjukkan bahwa satu kilogram maggot mampu mereduksi 5 hingga 10 kilogram sampah organik setiap harinya. Hal ini diungkapkan oleh Endang Mintarja, Ketua kelompok tani tersebut, dalam sebuah diskusi.
Endang menjelaskan bahwa kemampuan maggot dalam mengolah sampah bergantung pada beberapa faktor, seperti jenis bahan organik, usia larva, serta kondisi pemeliharaan. "Satu kilo maggot bisa mereduksi sampah sehari sekitar 5 sampai 10 kilo," ujarnya.
Proses Pengolahan Sampah dengan Maggot
Maggot yang dibudidayakan di Swara Hijau Farm berasal dari lalat Black Soldier Fly (BSF). Pada fase larva, maggot mengonsumsi bahan organik untuk mendukung pertumbuhannya. Proses ini dikenal sebagai biokonversi, yang merupakan pengolahan bahan organik dengan bantuan organisme hidup.
Namun, sampah tidak bisa langsung dimasukkan ke dalam wadah yang berisi larva. Endang menjelaskan bahwa bahan organik yang diterima harus dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mesin, kemudian dicampur dengan EM4 (Effective Microorganisms 4) dan molase. Campuran ini kemudian difermentasi semalaman sebelum diberikan kepada maggot.
Menurutnya, meskipun sampah yang sudah disimpan lebih lama masih dapat digunakan, biasanya akan menghasilkan bau yang lebih menyengat. "Yang udah lama juga mau, cuma kan jadi baunya lebih busuk ya. Makanya lebih bagus sih kalau di kita sistemnya pakai fermentasi," jelasnya.
Pemilihan Sampah Organik untuk Budidaya
Sampah organik yang digunakan di Swara Hijau Farm berasal dari masyarakat, restoran, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Meskipun semua berasal dari bahan organik, jenis sampah tetap menjadi pertimbangan dalam proses budidaya. Contohnya, kulit jeruk tidak digunakan sebagai pakan maggot di tempat tersebut. "Jadi tidak boleh dikasih ke maggot," ungkap Endang.
Aturan tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan dan pengelolaan bahan yang diterima agar sesuai dengan kebutuhan budidaya. Selain itu, jumlah pakan juga harus diperhatikan agar tidak menumpuk dan menimbulkan bau, sehingga pengelola dapat memantau konsumsi larva dan menjaga kebersihan area budidaya.
Manfaat Hasil Budidaya Maggot
Proses biokonversi tidak hanya menghilangkan sampah, tetapi juga menghasilkan residu yang perlu dikelola lebih lanjut. Di Swara Hijau Farm, maggot yang telah tumbuh dimanfaatkan dalam beberapa bentuk. Sebagian dijual dalam kondisi segar, sebagian digunakan sebagai pakan ternak, dan sebagian lainnya dipelihara untuk menghasilkan indukan baru.
Endang menjelaskan bahwa pembagian ini membantu kelompok tani dalam memanfaatkan hasil budidaya dan menjaga keberlanjutan perkembangbiakan maggot. Selain larva, residu budidaya yang dikenal sebagai kasgot juga digunakan sebagai pupuk untuk tanaman, sehingga hasil pengolahan sampah organik tidak hanya berupa maggot, tetapi juga mendukung kegiatan pertanian di lokasi tersebut.
Pentingnya Pengelolaan Sampah yang Baik
Meskipun maggot memiliki kemampuan dalam mengolah sampah organik, pengelolaan budidaya yang tepat tetap diperlukan. Bahan pakan harus disiapkan dengan baik, jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan larva, dan sisa makanan harus dipantau agar tidak menumpuk. Kebersihan wadah dan kondisi area budidaya juga sangat penting, terutama ketika kegiatan dilakukan di tengah permukiman.
Pengalaman yang diperoleh dari Swara Hijau Farm menunjukkan salah satu cara efektif dalam memanfaatkan maggot BSF untuk mengolah sampah organik. Namun, angka reduksi 5-10 kilogram sampah per kilogram maggot per hari yang disampaikan oleh Endang sebaiknya dipahami sebagai gambaran praktik di lokasi tersebut, bukan sebagai standar yang berlaku di semua sistem budidaya.