JAKARTA, (12 Oktober 2026) – Aktor sekaligus sutradara Reza Rahadian melangkah ke ajang perfilman global dengan memperkenalkan proyek layar lebar terbarunya bertajuk Casparina. Karya ini diusung dalam forum Asian Project Market yang menjadi bagian dari Asian Contents & Film Market (ACFM) pada gelaran Busan International Film Festival. Proyek tersebut berakar dari rekam jejak kelam yang menimpa neneknya sendiri, ketika status kewarganegaraan Indonesia sang nenek dicabut secara sepihak pasca-peristiwa 1965.
Takdir Terasing dan Tragedi Politik 1965
Garis besar cerita Casparina diilhami oleh perjalanan hidup Francisca Casparina Fanggidae, seorang jurnalis yang kehilangan status warga negaranya pada tahun 1965. Saat gelombang gejolak politik menghantam tanah air, ia sedang berada di luar negeri untuk mewakili Indonesia di sebuah forum internasional, namun akses kepulangannya ditutup lantaran sikap kritisnya terhadap rezim yang baru berkuasa. Pilihan politik itu memaksa sang jurnalis terpisah dari enam buah hatinya dan menjalani hidup terbuang di pengasingan selama 32 tahun, yang bermula dari Beijing hingga berlanjut ke Belanda sebelum akhirnya sanggup kembali terhubung dengan keluarganya.
Keretakan Hubungan Ibu dan Anak dalam Sinopsis "Casparina"
Dalam penceritaan filmnya, fokus narasi diwujudkan lewat karakter Rina, seorang wartawati yang harus hidup dalam pembuangan akibat penolakannya terhadap penguasa. Setelah 34 tahun berlalu, sepucuk surat mengabarkan tumbangnya rezim lama dan memberikan ruang baginya untuk kembali ke tanah air. Kepulangan Rina disambut perasaan cemas saat berjumpa kembali dengan kedua anaknya, Andi dan Lila, yang telah tumbuh dewasa tanpa pernah merasakan kehadiran seorang ibu dalam hidup mereka. Pertemuan tersebut menyisakan trauma mendalam dan kekecewaan anak-anaknya atas rentang waktu yang terenggut, hingga perlahan-lahan mereka berupaya merajut kembali benang kasih dan memahami besarnya pengorbanan yang telah diberikan demi bangsa serta keluarga.
Pengorbanan Personal dan Pesan Reza Rahadian
Latar belakang sejarah yang kelam serta dinamika keibuan dari sudut pandang anak-anak yang kehilangan figur ibu menjadi daya tarik utama yang mendorong Reza Rahadian mengangkat tema ini. Masa-masa di mana status kewarganegaraan seseorang dapat dihilangkan secara mendadak tanpa pemberitahuan dipandang sebagai latar waktu yang sangat kuat. Peristiwa bersejarah tersebut telah merenggut kebersamaan neneknya dari anak-anaknya selama 32 tahun. Dilansir Variety pada Senin (12/10/2026), Reza mengungkapkan, "Ini adalah cerita yang sangat penting bagi saya," sembari menyampaikan harapannya agar publik menyadari bahwa tiap keputusan pahit memiliki konsekuensi tersendiri yang kerap dipicu oleh tekanan tak kasat mata. Lebih lanjut, ia menghendaki agar penonton mampu menyelami "arti menjadi seorang ibu yang absen selama 32 tahun", sekaligus menangkap kepedihan para anak yang terpaksa merahasiakan identitas ibu mereka demi keselamatan jiwa.
Proses Penggarapan Skenario dan Misi di Pasar Film Busan
Dari sudut pandang produser, Arya Ibrahim dan Gita Fara memandang Casparina sebagai representasi dari huru-hara politik 1965 yang merusak tatanan keluarga serta melahirkan gelombang warga terasing di mancanegara. Bagi mereka, perjalanan hidup Casparina yang dijuluki sebagai "korban sebuah zaman" memuat refleksi penting atas sejarah dan identitas bangsa, sekaligus menjadi pengingat agar tragedi serupa tidak terulang kembali. Saat ini, naskah cerita Casparina masih berada dalam tahapan awal penulisan skenario, di mana Reza Rahadian berkolaborasi bersama Kamila Andini. Melalui keikutsertaan di Busan, para produser berupaya menjajaki kerja sama dengan calon mitra, pencarian pendanaan, hingga peluang ko-produksi internasional. Langkah ini melanjutkan kesuksesan karya terdahulu Reza, di mana film panjang perdana yang disutradarainya, Pangku (On Your Lap), sukses menyabet empat penghargaan di ajang Busan Vision Awards 2025, termasuk kategori pilihan penonton dan Fipresci.