Kesehatan

Memelihara Ayam Petelur di Rumah: Kualitas Telur dan Perawatan yang Tepat

Memiliki ayam petelur di rumah dapat memberikan keuntungan dalam hal kualitas telur, namun ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar telur yang dihasilkan benar-benar berkualitas.

A
Ananta Prana
27 September 2026 24 pembaca
Ayam-ayam petelur peliharaan Lili Suwali, pegiat urban farming di Bekasi. Unik, masing-masing ayam punya namanya sendiri. (Foto: Adelia Magda Firdausi/detikhealth)
Ayam-ayam petelur peliharaan Lili Suwali, pegiat urban farming di Bekasi. Unik, masing-masing ayam punya namanya sendiri. (Foto: Adelia Magda Firdausi/detikhealth)

Jakarta - Apakah memiliki ayam petelur sendiri di rumah menjamin kualitas telurnya lebih baik? Meskipun pakan dan kesehatan ayam dapat lebih terkontrol, hal ini tidak selalu menjamin kualitas telur yang lebih tinggi. Menurut Dokter Spesialis Gizi Klinik dr Ulfa Yaze, SpGK, salah satu keuntungan dari memelihara ayam sendiri adalah pemilik dapat lebih memahami kondisi ayam, termasuk makanan dan kesehatan yang diberikan.

"Kalau kita yang memelihara ayam sendiri, kita pasti sudah mikirin nutrisi untuk ayamnya, makanan ayamnya juga. Udah tahu karena mau dikonsumsi sendiri, pasti kita akan ngasih makanan yang sehat juga buat si ayam," jelas dr Yaze.

Kebersihan Kandang Sangat Penting

Namun, kualitas telur tidak hanya bergantung pada pakan. Kondisi kesehatan ayam dan kebersihan lingkungan tempat ayam dipelihara juga sangat penting. Ramadhan Ginanjar, seorang content creator kebun rumahan dari Cimahi dengan akun Instagram @hunian.jb, menjelaskan bahwa ia merancang kandang agar kotoran ayam lebih mudah dikelola.

Ia menggunakan alas kandang dari tanah dan dedaunan kering, serta memanfaatkan kebiasaan ayam yang mengais tanah dengan cakarnya sehingga kotoran dan dedaunan tercampur secara alami. "Alas kandang ayam saya itu langsung ke tanah kemudian ditambah dedaunan kering, tujuannya supaya kotoran ayam yang jatuh lebih cepat mengering dan menjadi pupuk sehingga tidak menimbulkan bau yang menyengat," ungkap Ganjar.

Meskipun demikian, pembersihan kandang tetap harus dilakukan secara rutin. Hal yang sama juga diterapkan oleh Lili Suwali, seorang pensiunan yang memelihara 20 ekor ayam petelur di rumahnya. Ia membersihkan kandang setiap hari dan mengumpulkan kotoran ayam secara berkala untuk diolah menjadi pupuk kohe. "Kita harus melakukan pencegahan, seperti rutin membersihkan kandang, teratur dalam memberi pakan, minum, dan vitamin, serta kesehatan ayam petelur yang dipelihara," kata Lili.

Memperhatikan Kesehatan Ayam

Kondisi ayam juga harus diperhatikan. Berdasarkan pengalaman para pemelihara ayam petelur, ayam yang sakit atau stres dapat menunjukkan perubahan perilaku dan produktivitas telur. Rita Andayani, seorang content creator gaya hidup berkelanjutan dari Kebun Samara di Yogyakarta, menyebutkan beberapa tanda ayam yang tidak sehat.

"Kalau ayam yang sekiranya dia sakit itu dia pasti lemes, tidak nafsu makan. Terus warna jenggernya itu lebih pucat," kata Rita, yang telah memelihara ayam petelur selama hampir dua tahun. Menurutnya, kondisi telur juga dapat berubah, seperti cangkang yang menjadi lebih pucat atau tipis ketika ayam mengalami masalah. Oleh karena itu, pemilik ayam sebaiknya tidak hanya fokus pada telur yang dihasilkan, tetapi juga rutin memeriksa kondisi ayam dan kandangnya.

Setelah telur dipanen, kualitasnya juga harus diperhatikan sebelum dikonsumsi. Menurut dr Ulfa Yaze, SpGK, kondisi cangkang dapat menjadi indikator penting saat memilih telur. "Kalau telurnya bagus itu biasanya cangkangnya bersih, warnanya cokelat, mengilap. Jadi tidak yang warnanya sudah pudar atau banyak bintik-bintik," jelas dr Yaze.

Dengan demikian, telur yang akan dikonsumsi sebaiknya dipilih berdasarkan kondisi fisiknya, terutama kebersihan dan kondisi cangkangnya.

Selain kualitas telur, penanganan setelah panen juga sangat penting. Rita menerapkan prinsip first in first out (FIFO), di mana telur yang dipanen lebih dulu harus dikonsumsi terlebih dahulu. "Kalau misalnya yang kemarin belum habis, ya tak makan dulu yang kemarin, yang hari ini aku simpan dulu," ujarnya.

Sementara itu, dr. Yaze menyarankan agar telur disimpan dengan baik dan tidak perlu dicuci sebelum disimpan. "Kalau bisa ya disimpan, terus pas mau dimasak ya udah langsung dipecahin aja," kata dr Yaze. Menurutnya, telur yang disimpan di kulkas dapat bertahan lebih lama dibandingkan telur yang disimpan pada suhu ruang, dan sebaiknya telur ditempatkan dalam wadah tersendiri agar tidak bersentuhan dengan makanan lain.

Dengan demikian, memelihara ayam petelur sendiri dapat menjadi cara yang baik untuk menyediakan sumber telur bagi keluarga. Namun, kualitas telur yang dihasilkan tetap harus didukung oleh kesehatan ayam, kebersihan kandang, serta cara penyimpanan yang tepat.

Artikel Terkait