BANYUWANGI — Stereotip bahwa kopi robusta selalu identik dengan rasa pahit pekat perlahan terhapus oleh hasil racikan para petani di kawasan timur Jawa. Hasil panen biji kopi dari Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kini berhasil menyita perhatian lewat kekayaan sensasi rasa yang tak biasa.
Kejutan Cita Rasa dari Lereng Kalibaru
Kopi varietas Tugusari yang dirawat warga setempat terbukti sanggup melahirkan spektrum aroma dan rasa yang sangat beragam. Saat diseduh, sampel kopi ini memunculkan jejak rasa manis karamel, jeruk, hingga pisang, bertaut harmonis dengan sentuhan cokelat, malt, serta gula merah. Keunikan profil rasa tersebut lahir dari ketelitian penerapan metode olah pascapanen bertajuk Natural Classic.
Peran penting para petani di balik dapur produksi menjadi kunci utama yang menjaga kualitas biji kopi dari kebun hingga siap masuk meja pengujian. Menurut Sukarmin, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Bintang Kopi Sejahtera, kedisiplinan mengawal proses pascapanen kini mulai menampakkan hasil manis. Kedisiplinan itulah yang membawa produk lokal mereka melenggang ke tingkat nasional dalam Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) XVIII-2026.
Dominasi Banyuwangi Barat di Panggung KKSI XVIII-2026
Skala persaingan dalam ajang ini terbilang sangat ketat, melibatkan hingga 247 sampel kopi kategori Robusta dari berbagai penjuru negeri. Namun, tiga nama perwakilan dari Kalibaru sukses menembus barisan 20 besar. Mereka adalah Sukarmin, Abd. Majid Abdullah Adam dari KTH Wono Asri, serta Mustafida Ali yang mewakili Poktan Kemiri Jaya Abadi Desa Banyuanyar.
Capaian manis ini kian lengkap dengan masuknya dua nama peserta asal Kecamatan Glenmore, yakni Mattori dan Mohamad Aziz, dalam jajaran top 20 tersebut. Kehadiran mereka menegaskan pengakuan atas tingginya potensi komoditas kopi dari wilayah Banyuwangi bagian barat.
Kabar keberhasilan ini disampaikan langsung oleh Sukarmin pada Senin (12/10/2026). Dalam pernyataannya, ia menegaskan:
"Masuknya sampel kopi kami ke jajaran 20 besar di ajang seluas nasional ini menjadi bukti bahwa konsistensi petani Kalibaru dalam menjaga mutu pascapanen mulai membuahkan hasil,"
Sukarmin menaruh harapan besar agar momentum keberhasilan ini mampu mendongkrak popularitas serta daya saing robusta Kalibaru di kancah nasional maupun mancanegara.
Rahasia di Balik Uji Fisik dan Cupping
Sukarmin menggarisbawahi bahwa mutu seangkringan kopi tak semata-mata diukur dari tampilan visual bijinya, melainkan diuji lewat konsistensi dan karakter rasa.
Prosedur penilaian kopi spesialti sendiri menerapkan standar yang cermat. Biji kopi mentah (green bean) wajib melewati pemeriksaan fisik terlebih dahulu sebelum disangrai dan diuji melalui proses penyerputan rasa (cupping). Tim juri memberikan penilaian sensorik yang menitikberatkan pada skor cita rasa, keunikan karakter, hingga kestabilan rasa saat diminum.
Mengenai proses ketat tersebut, Sukarmin menambahkan:
"Karena itu, menjaga mutu menjadi bagian penting dalam menghasilkan kopi yang mampu memenuhi standar penilaian,"
Pembuktian Kualitas dan Harapan Pasar
Apresiasi senada turut disampaikan oleh Ketua KTH Wono Asri yang juga perwakilan Poktan Kemiri Jaya Abadi Desa Banyuanyar, Ahmad Jaelani. Ia menilai pencapaian ini merupakan buah manis dari kesungguhan dan kolaborasi para petani di daerahnya.
Ia mengungkapkan kebanggaannya secara eksplisit:
"Pencapaian ini adalah buah dari kerja keras serta komitmen bersama para petani di Desa Banyuanyar dan sekitarnya. Masuknya perwakilan kami di kompetisi KKSI XVIII ini membuktikan bahwa potensi robusta Kalibaru bukan sekadar narasi, melainkan kualitas nyata yang diakui secara profesional oleh para juri,"
Melalui mutu yang konsisten dan teruji secara profesional, para petani optimistis keberhasilan ini akan menjadi pijakan kuat untuk membuka akses serta memperluas jangkauan pasar kopi robusta Banyuwangi ke depan.