BANJARMASIN — Langkah kemanusiaan di perairan Laut Jawa bergerak dalam irama yang serba hati-hati. Sejak peristiwa naas terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 pada Minggu (13/9/2026) dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, dasar laut menyimpan cerita perjuangan para petugas yang bertaruh keselamatan. Masuk pekan ketiga pencarian, tantangan terberat justru datang dari kondisi fisik bangkai kapal yang ringkih dan sewaktu-waktu bisa bergeser.
Bertaruh Keselamatan di Antara Lambung Kapal yang Labil
Menyelami kedalaman laut demi mencari para korban bukanlah perkara mudah. Tim SAR gabungan terpaksa menahan langkah untuk menembus lorong-lorong dalam kapal demi keselamatan para personel di lapangan.
Risiko besar yang mengintai di dasar air ditegaskan secara langsung oleh Kasubbag Umum Basarnas Banjarmasin Budiono.
"Sangat berisiko bagi penyelam masuk ke dalam badan kapal," ungkap Budiono.
Menghadapi situasi riskan tersebut, tim penyelam dari unsur Basarnas, TNI AL, serta potensi SAR lainnya mengambil langkah taktis dengan memprioritaskan evakuasi jasad yang berada di area luar kapal. Sebagai bentuk ikhtiar maksimal, petugas di lapangan berupaya meretas akses dengan memecahkan kaca-kaca jendela demi menjangkau korban yang tertahan di interior kapal. Di tengah kerja keras penuh bahaya ini, Budiono menyampaikan permohonan tulus agar masyarakat berkenan menyelipkan doa demi keselamatan dan kesehatan seluruh tim di lapangan dalam menuntaskan misi kemanusiaan ini.
Opsi Pengangkatan Bangkai Kapal dan Kolaborasi Lintas Negara
Ketika akses penyelaman terbatas, strategi pengangkatan bangkai kapal (salvage) menjadi tumpuan harapan baru. Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banjarmasin mengonfirmasi bahwa seperangkat peralatan salvage berkapasitas ekstra besar sudah disiapkan di Singapura.
Skema besar ini digarap oleh penanggung jawab asuransi internasional Protection and Indemnity (P&I) bersama pemilik KM Virgo, yang kini tinggal merampungkan penunjukan pelaksana operasional dari mitra internasional.
Kepala KSOP Kelas I Banjarmasin Heri Purwanto merinci kesiapan armada pendukung utama tersebut.
"Dan semuanya itu sudah dipastikan peralatannya berupa crane barge (kapal kran apung), lengkap dengan main boom (sistem lengan utama)," terang Heri Purwanto.
Di area lokal, PT Jasalindo dipercaya sebagai mitra pendamping yang telah bergerak sejak fase awal musibah. Perusahaan ini memainkan peran krusial lewat pengoperasian remotely operated vehicle (ROV) guna merekam gambaran visual bangkai kapal di dasar laut. Sembari menanti tibanya kapal kran apung dari Singapura, tim lokal melakukan analisis awal dan mitigasi risiko di sekitar lokasi.
"Kita semua berharap seluruh perlengkapan salvage tersebut sudah berada di lokasi operasi dalam waktu kurang dari satu minggu sesuai dengan janji pemilik KM Virgo yang disampaikan kepada pimpinan Kementerian Perhubungan," tutur Heri.
Rekapitulasi Operasi SAR Memasuki Hari Ke-16
Hingga masa pencarian memasuki hari ke-16 pada Senin (28/9/2026) pukul 22.00 WITA, Basarnas memperbarui catatan resmi penanganan korban. Dari total 243 penumpang yang terdaftar dalam manifes KM Virgo Transport 8, sebanyak 179 orang telah berhasil ditemukan. Rinciannya mencakup 108 penumpang selamat dan 71 jiwa meninggal dunia, sementara 64 korban lainnya masih dalam proses pencarian tak kenal lelah oleh tim SAR gabungan.