Nasional

Menembus Laut Jawa yang Kelam: Jerit Penumpang dan Asa Dede Farandika yang Tak Pernah Padam

S
Safeera Anisa
09 October 2026 28 pembaca
ABK KM Virgo, Dede Farandika di rumah orangtuanya di Banyuwangi. (KOMPAS.COM/Fitri Anggia)
ABK KM Virgo, Dede Farandika di rumah orangtuanya di Banyuwangi. (KOMPAS.COM/Fitri Anggia)

Panggilan Darurat di Kamar Awak Kapal

Rasa lelah usai menyelesaikan giliran tugas di dek kendaraan membuat Dede Farandika (30) tertidur lelap di kamar anak buah kapal (ABK). Namun, ketenangan di dalam pelayaran KM Virgo Transport 8 menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu runtuh mendadak pada Minggu (13/9/2026) dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB di tengah perairan Laut Jawa. Tubuhnya diguncang keras oleh seorang kawan yang datang membawa kabar buruk.

“Ayo, Yo, bangun! Kapal miring,” kenang Dede mengulang ucapan rekannya saat memberikan kesaksian pada Kamis (8/10/2026). Spontan, pria yang berprofesi sebagai kelasi di dek kendaraan ini langsung menyambar dan mengenakan jaket pelampung di kamar ABK, lalu bergegas mencari celah untuk bertahan hidup sewaktu lambung bahtera semakin miring hingga akhirnya terbalik.

Rasa Ketidakberdayaan di Tengah Teriakan Minta Tolong

Di tengah kepanikan ratusan penumpang dan awak kapal yang kalut menyelamatkan diri, jeritan ketakutan terdengar saling bersahutan memecah heningnya malam. Dede menyaksikan sendiri bagaimana para penumpang berjuang mati-matian mencari bantuan. Akan tetapi, posisi lantai kapal yang kian curam membuat langkahnya terkunci; ia tak berdaya mengulurkan tangan lantaran harus berjuang menjaga keseimbangannya sendiri agar tidak jatuh.

“Penumpang itu banyak yang teriak minta tolong. Tapi, kami juga enggak bisa nolong karena kapalnya sudah miring,” tutur Dede menggambarkan pilunya momen tersebut.

Gulungan Ombak Malam dan Lima Meter Pertaruhan Nyawa

Satu-satunya tumpuan harapan Dede saat itu adalah merayap menuju bagian depan kapal. Namun, baru mengayunkan beberapa langkah, pijakannya lepas dan tubuhnya merosot. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, ia terus merayap hingga matanya menangkap bayangan rakit penyelamat yang sudah mengembang di permukaan air.

Ketika ia berusaha mendekati sarana penyelamat itu, hantaman ombak raksasa tiba-tiba menerjang dari rusuk kiri tubuhnya. Sapuan gelombang tersebut menghempaskannya langsung ke gulita air laut. Dalam kepungan air, Dede memaksakan diri berenang sejauh kurang lebih lima meter demi menggapai rakit. Begitu berhasil memanjat naik, ia mendapati lima orang survivor lain telah berada di dalamnya. Di atas rakit kecil itu, enam nyawa manusia saling menguatkan, terombang-ambing di laut lepas hingga rentang pukul 08.00 atau 09.00 WIB sebelum secercah harapan datang dari perahu nelayan yang melintas.

Kehangatan Rumah dan Kerinduan Pada Rekan yang Hilang

Usai diselamatkan oleh nelayan, Dede dievakuasi menggunakan kapal perang KRI Nala-363 menuju Banjarmasin. Langkah kakinya kemudian membawanya pulang ke Banyuwangi, kembali ke pelukan hangat kedua orangtuanya, Sulastri dan Ribut Andiwono. Sebagai putra pertama, kepulangannya yang selamat menjadi pelipur cemas bagi keluarga.

Kendati kini fisiknya telah aman berada di rumah, trauma akan detik-detik karamnya KM Virgo Transport 8 belum sepenuhnya sirna dari benak Dede. Lewat gawai di tangannya, ia terus memantau kabar terbaru seputar pencarian para korban lewat mesin pencari maupun jejaring media sosial.

"Masih cari-cari di Tiktok biasanya muncul video-video," ungkapnya.

Hatinya kian teriris saat teringat pada lima kawan sesama awak kapal yang sampai saat ini keberadaannya belum ditemukan. Ia hanya bisa menyisipkan doa agar proses evakuasi membawa kabar pasti bagi seluruh keluarga yang menanti.

“Semoga seluruh korban segera ditemukan. Apa pun keadaannya, yang penting bisa kembali ke keluarganya,” ucap Dede penuh harap.

Artikel Terkait