Jakarta - Melakukan diet dengan defisit kalori tidak hanya sekadar mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi. Penting untuk memperhatikan komposisi makanan yang masuk ke dalam tubuh. Pembatasan yang berlebihan pada jenis makanan tertentu dapat menyebabkan masalah seperti kesulitan buang air besar (BAB). Mengapa hal ini bisa terjadi?
Dokter spesialis gizi klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa kondisi ini dapat muncul ketika defisit kalori dilakukan tanpa mempertimbangkan asupan serat dan cairan yang cukup. "Defisit kalori itu tetap harus ada yang dimakan seratnya. Lemaknya lemak sehat. Karbohidrat tetap perlu juga, sama protein," ungkap dr. Yaze dalam sesi live TikTok detikHealth.
Kesalahan Umum dalam Diet Defisit Kalori
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah fokus berlebihan pada konsumsi protein. Di sisi lain, sayuran dan sumber serat lainnya justru dikurangi atau bahkan dihilangkan dari menu. "Kalau misalnya kamu defisit kalori dan yang dimakan cuma protein aja, nggak ada seratnya, biasanya terjadi sulit BAB," jelasnya.
Asupan cairan juga tidak boleh diabaikan saat menjalani diet kalori. Jika jumlah cairan yang diminum berkurang, maka kesulitan dalam BAB bisa semakin meningkat. "Kalau misalnya defisit kalori terus minumnya juga jadi kurang, ya udah pasti akhirnya jadi sulit BAB juga," lanjut dr. Yaze.
Pola Diet yang Terlalu Ketat
Pola diet yang terlalu ketat dapat memperburuk kondisi ini. dr. Yaze memberikan contoh pola makan yang menghilangkan karbohidrat sepenuhnya, menghindari sayur, dan kurangnya asupan cairan, di mana makanan yang dikonsumsi hanya berfokus pada protein. "Biasanya orang main defisit-defisit aja. Misalnya langsung tiba-tiba cut karbo, jadi nol sama sekali nggak ada karbonya. Terus udah nggak suka sayur, karbonya nggak ada, minumnya juga kurang, dimakan cuma protein aja. Akhirnya terjadi gangguan BAB," tuturnya.
Padahal, kebutuhan serat tetap harus dipenuhi meskipun sedang dalam program diet. Kebutuhan serat harian berkisar antara 25 hingga 30 gram. Untuk mencapainya, sayur dan buah harus tetap ada dalam menu harian. Penerapan sederhana adalah dengan mengonsumsi sekitar tiga porsi sayuran dan dua porsi buah setiap hari.
Sumber serat tidak harus berasal dari satu jenis makanan saja. Sayuran dan buah bisa dikombinasikan dengan makanan lain sesuai kebutuhan. Protein juga tetap diperlukan dalam menu diet karena dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Sumber protein bisa berasal dari telur, tahu, tempe, kacang-kacangan, daging, ayam, ikan, hingga susu.
Karbohidrat juga tidak perlu dihilangkan sepenuhnya saat menjalani defisit kalori. Pengurangan kalori harus disertai dengan pola makan yang memiliki komposisi gizi yang seimbang. Oleh karena itu, jika mengalami kesulitan BAB setelah memulai diet, penting untuk mengevaluasi kembali pola makan yang diterapkan. Periksa apakah asupan serat dan cairan sudah mencukupi atau ada kelompok makanan yang terlalu banyak dipangkas.
Defisit kalori memang diperlukan untuk menurunkan berat badan. Namun, mengejar defisit dengan menghilangkan sayur, mengurangi asupan cairan, atau memangkas karbohidrat secara berlebihan justru dapat membuat pola makan menjadi tidak seimbang dan memicu gangguan BAB.