Kesehatan

Mengenal Risiko Pneumonia pada Lansia Sebelum Terlambat

Pneumonia merupakan ancaman serius bagi kesehatan, terutama bagi orang tua. Edukasi mengenai pneumonia pneumokokus menjadi fokus dalam kampanye yang diadakan oleh Pfizer Indonesia.

A
Ananta Prana
05 October 2026 26 pembaca
Foto: Angelina Vioni/detikcom
Foto: Angelina Vioni/detikcom

Jakarta - Pneumonia atau infeksi paru-paru masih menjadi masalah kesehatan yang serius, terutama bagi kelompok lanjut usia (lansia). Pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai penyakit ini, khususnya pneumonia pneumokokus, tergolong rendah. Hal ini menjadi perhatian dalam kampanye edukasi bertajuk 'Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti' yang diselenggarakan oleh Pfizer Indonesia. Dalam acara tersebut, Pfizer Indonesia mengundang dokter spesialis, dokter keluarga, serta perwakilan pasien dan caregiver di Jakarta untuk membagikan hasil survei mengenai kesehatan pernapasan orang dewasa.

Survei terbaru yang dirilis oleh YouGov menunjukkan bahwa 41% orang dewasa di Indonesia belum pernah mendengar istilah pneumonia pneumokokus. Sementara itu, 44% responden mengaku pernah mendengarnya, tetapi tidak memahami kondisi medis tersebut. Hanya 15% yang benar-benar mengenal dan memahami penyakit ini dengan baik.

Pneumonia Pneumokokus dan Kesalahpahaman yang Ada

Pneumonia pneumokokus adalah infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Penyakit ini berbeda dengan flu yang disebabkan oleh virus, meskipun keduanya dapat menyerang saluran pernapasan. Survei juga menunjukkan adanya kesalahpahaman mengenai pneumonia, di mana 20% responden beranggapan bahwa pneumonia sama dengan flu, sementara 48% lainnya memilih jawaban netral.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, dr. Joyce Bratanata, mengungkapkan bahwa pneumonia adalah infeksi pada saluran napas bagian bawah yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, virus, dan jamur. "Kalau pneumonia, itu ada disebabkan oleh mikroba ya. Mikroba itu apa? Benda kecil sebenarnya, tapi dia itu bisa menjadi patogen. Jadi bisa bakteri penyebabnya, bisa virus, bisa jamur. Ya itu tiga yang utama," jelas dr. Joyce dalam diskusi panel kampanye.

Menurutnya, infeksi saluran pernapasan akut dapat berkembang menjadi pneumonia. Oleh karena itu, kesehatan orang tua harus diperhatikan, terutama ketika muncul keluhan yang tidak kunjung membaik. Banyak orang Indonesia yang mengaitkan risiko pneumonia dengan penyakit paru-paru. Sebanyak 42% responden menyebut orang dengan penyakit paru-paru sebagai kelompok yang lebih berisiko mengalami pneumonia serius, sedangkan hanya 11% yang menyebut orang dengan penyakit jantung dan 9% untuk penyandang diabetes.

Pentingnya Memperhatikan Perubahan Kesehatan Lansia

Padahal, risiko pneumonia pada lansia juga berkaitan dengan kondisi kesehatan lain yang dimiliki. Dr. Joyce menyebutkan bahwa lansia seringkali memiliki satu atau lebih komorbid, seperti diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, hingga stroke. "Kalau misalnya orangnya lansia, apalagi 60 tahun ke atas, punya penyakit diabetes, asma, kardiovaskular, riwayat stroke," tambahnya.

Selain itu, kelompok dengan kondisi imunitas yang terganggu juga perlu lebih waspada. Kebiasaan merokok dan paparan asap rokok turut disebut sebagai faktor yang dapat meningkatkan kejadian pneumonia. Lebih dari separuh orang dewasa di Indonesia (55%) secara rutin merawat orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua. Mereka membantu orang tua ke dokter, mengatur konsumsi obat, dan mengambil keputusan terkait kesehatan anggota keluarga.

Bagi keluarga yang merawat lansia, mengenali perubahan kondisi tubuh sangat penting. Menurut dr. Joyce, gejala yang tampak sederhana perlu diperhatikan, terutama jika tidak kunjung membaik atau kondisi semakin memburuk. Batuk yang berlangsung beberapa hari dan tidak membaik harus dikonsultasikan ke dokter, terutama jika disertai demam, tubuh semakin lemas, atau napas terasa lebih berat.

"Nah kalau pada lansia, kalau dia tidak perbaikan 3-4 hari, apalagi ada gejala misalnya selain demam, dia lebih lesu, lebih banyak tidur, kita perhatikan 15 menit sampai 20 menit diajak bicara tuh napasnya kayak agak ngos-ngosan," jelasnya.

Dalam kondisi tertentu, lansia juga dapat mengalami penurunan saturasi oksigen. Dr. Joyce menambahkan bahwa kondisi seperti mengantuk, bengong, atau berbicara tidak nyambung dapat menjadi tanda yang perlu segera diperiksa. "Jadi masih bisa ngomong kalau ditanya, masih sadar, tapi kita bilangnya effort of breathing. Jadi sepertinya kok ngomongnya itu agak narik napasnya kayak panjang gitu, kayak usaha lebih," katanya.

Oleh karena itu, keluarga tidak perlu menunggu kondisi orang tua memburuk untuk memperhatikan kesehatannya. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan komunikasi dengan dokter dapat membantu mengetahui kondisi tubuh, termasuk ketika belum muncul gejala. Bagi banyak responden, menjaga kesehatan juga sejalan dengan keyakinan mereka. Hampir delapan dari sepuluh (79%) setuju bahwa menjaga kesehatan dengan mengikuti saran medis merupakan bagian dari ikhtiar, berdampingan dengan tawakal.

Presenter TV dan publik figur Fenita Arie juga berbagi pengalamannya mengenai pneumonia yang membuatnya lebih memperhatikan kesehatan, baik dirinya maupun orang-orang terdekat, termasuk mertuanya. Fenita mengisahkan bahwa awalnya ia mengira batuk dan pilek yang dialaminya adalah keluhan biasa, namun kondisinya memburuk hingga mengalami kesulitan bernapas dan harus mendapatkan penanganan medis.

Pengalaman tersebut membuat Fenita lebih peduli terhadap kesehatan orang-orang terdekatnya. Ia menyarankan agar anak dan caregiver lebih aktif menanyakan kondisi kesehatan orang tua. "Kita benar-benar nemenin orang tua kita, datangin ke dokter konsultasi, dan kita bilang bahwa misalnya Bapak ada sakit ini, Ibu sakit ini, terus apakah harus juga dilihat lagi cek untuk masalah paru-parunya, itu penting banget," ujarnya.

Momen-momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mulai membicarakan kesehatan paru. Percakapan tidak harus dimulai dengan pengetahuan medis yang mendalam, tetapi dapat diawali dengan pertanyaan sederhana mengenai kondisi kesehatan dan keluhan yang dirasakan. Di sisi lain, dr. Kristin Tjandra dari Prodia juga mendorong masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya melalui pemeriksaan dan membangun komunikasi dengan dokter.

"Kebanyakan kita di Indonesia, khususnya datang ke dokter itu selalu ada keluhan. Batuk dulu, demam dulu, bahkan demam sesak napas pun masih menolak lho ke dokter," ujarnya. Dr. Meidi Nursasih dari Kimia Farma juga mengingatkan agar masyarakat segera berkonsultasi kepada dokter apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan.

Bagi keluarga, kampanye ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan paru-paru sama pentingnya dengan menjaga berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari seperti bekerja, mengasuh anak, dan menghabiskan waktu bersama orang tua. Kampanye ini mengajak orang dewasa untuk memandang kesehatan mereka sebagai bagian dari menjaga satu sama lain, termasuk ketika orang yang mereka cintai tampak sehat dan aktif.

"Merawat seseorang juga berarti memahami risiko kesehatan yang mungkin tidak mereka sadari sendiri. Temuan ini menegaskan pentingnya menyampaikan informasi yang jelas dan mudah dipahami tentang pneumonia kepada keluarga di Indonesia, terutama mereka yang mendampingi orang tua lanjut usia atau orang tersayang dengan kondisi kronis," kata Deborah Seifert, Cluster Lead, Pfizer Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

"Melalui 'Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti', kami ingin membantu masyarakat merasa siap untuk bertanya dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai risiko yang akan mereka hadapi, sehingga mereka dapat terus menjalani kehidupan sehari-hari yang berarti bagi mereka," tambahnya.

Artikel Terkait