JAKARTA— Tanda-tanda disleksia pada anak harus dikenali oleh orang tua dan guru sejak anak mulai belajar membaca, termasuk saat mempelajari bentuk dan bunyi huruf. Kesulitan dalam membaca biasanya mulai terlihat ketika anak memasuki jenjang sekolah dasar. Dokter spesialis anak yang juga merupakan subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan, Farid Agung Rahmadi, menjelaskan bahwa gangguan belajar spesifik yang berkaitan dengan kesulitan membaca atau disleksia dapat dikenali dari kesulitan anak dalam membedakan dan mengidentifikasi huruf.
Hal ini disampaikan oleh dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K), yang merupakan anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dalam sebuah seminar daring mengenai disleksia pada anak yang diadakan oleh IDAI pada hari Selasa.
Tanda Disleksia pada Anak Kelas 1-3 SD
Menurut Farid, gejala disleksia pada anak yang berada di kelas 1 hingga 3 sekolah dasar dapat terlihat ketika mereka mengalami kesulitan dalam membedakan atau mengidentifikasi huruf serta bunyinya. "Ketika kelas 1 sampai 3, anak mengalami kesulitan belajar membedakan atau mengidentifikasi huruf ini bunyinya bagaimana. Ketika ditambah dengan huruf vokal, maka juga sulit untuk mengeja," ujar Farid.
Selain itu, anak dengan disleksia mungkin juga mengalami kesulitan dalam membaca kata-kata sederhana. Mereka cenderung membaca dengan lebih lambat, menghindari aktivitas membaca dan menulis, serta sering mengeluh merasa cepat lelah, pusing, atau mengantuk saat membaca.
Pada anak yang berada di kelas 4 hingga 6 sekolah dasar, gangguan belajar ini dapat terlihat dari nilai yang rendah pada mata pelajaran tertentu, meskipun anak sebenarnya memahami informasi yang diberikan. Mereka juga mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan soal atau pekerjaan rumah, serta mengalami stres saat ujian hingga merasa bodoh.
Perbedaan Hasil Tes Lisan dan Tertulis
Farid menjelaskan bahwa tanda disleksia juga dapat diidentifikasi dari perbedaan hasil antara tes lisan dan tes tertulis. "Ketika soalnya dibacakan, anak jauh lebih baik hasilnya daripada tes yang tertulis," katanya. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu memperhatikan pola kesulitan belajar anak, termasuk perbedaan antara kemampuan memahami informasi secara lisan dan hasil akademik di bidang tertentu.
Namun, Farid mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan belajar spesifik hanya karena mereka kesulitan belajar membaca saat masih di taman kanak-kanak (TK). "Jangan menegakkan istilahnya, anak ini gangguan belajar spesifik padahal masih TK," ujarnya.
Stimulasi dan pengenalan huruf sebaiknya dilakukan sejak dini. Jika anak mengalami kesulitan saat diajari mengenal huruf dan membaca pada usia TK, pembelajaran yang dilakukan secara berulang dan lebih terstruktur dapat menjadi solusi. Orang tua dan guru juga harus memperhatikan tanda-tanda kesulitan belajar yang berlangsung selama minimal enam bulan, termasuk memperhatikan kesenjangan antara pemahaman lisan dan nilai akademik anak di bidang tertentu.
Farid menekankan pentingnya memberikan perhatian lebih kepada anak yang memiliki orang tua dengan riwayat gangguan belajar spesifik, keterlambatan perkembangan bahasa atau bicara, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), prematuritas dengan berat badan lahir yang sangat rendah, serta masalah perinatal.
Ketika orang tua menemukan anak mengalami kesulitan belajar, Farid menyarankan agar mereka segera berkomunikasi dengan guru mengenai masalah tersebut. Jika kesulitan belajar anak terus berlanjut, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan penilaian dan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan anak.