Momen makan bersama di rumah sering kali menjadi satu-satunya waktu bagi seluruh anggota keluarga untuk berkumpul setelah seharian sibuk dengan urusan masing-masing. Meski dinamika di meja makan tidak selalu tenang karena perbedaan ritme setiap orang, rutinitas ini sebenarnya menyimpan kesempatan berharga bagi orangtua untuk menanamkan etika dasar pada anak. Melansir Good Housekeeping, sejumlah ahli membagikan panduan praktis untuk membantu buah hati belajar berinteraksi serta menghargai orang lain sejak dini.
Menciptakan Ruang Bebas Disrupsi dan Mengasah Kesabaran
Langkah pertama yang dapat diterapkan adalah menjadikan area makan steril dari gawai seperti ponsel pintar atau tablet. Ahli etiket bersertifikat dan penulis, Mariah Humbert, menjelaskan alasannya: “Ponsel atau tablet di meja makan mengganggu percakapan dan hubungan,”. Kebiasaan ini juga melatih fokus orangtua saat berinteraksi, sebab Direktur pendidikan Celebree School, Kristen Miller, mengingatkan bahwa “Anak tahu kapan kita mendengarkan dan kapan kita hanya setengah mendengarkan,”.
Selain membatasi gawai, anak-anak juga perlu dibiasakan untuk tidak langsung menyantap makanan sebelum semua orang duduk rapi. Menurut Mariah Humbert, “Berlatih di rumah mengajarkan rasa terima kasih,” sekaligus melatih kepedulian dan kesabaran. Namun, Psikoterapis berlisensi sekaligus pakar parenting, Bahar Rinsler, LMFT, menekankan pentingnya menyesuaikan ekspektasi dengan usia anak, mengingat “Anak kecil mungkin belum mampu menunggu lebih dari 15 atau 20 menit,”. Agar anak tidak bosan saat menunggu, Psikiater bersertifikat di Chroma Wellness Center, Robert Dean Davies, M.D., menyarankan agar mereka dilibatkan dalam tugas ringan, seperti menata meja atau menuangkan air.
Melatih Seni Berkomunikasi dan Kepedulian Sosial
Sesi makan bersama juga berfungsi sebagai tempat latihan bagi anak untuk saling mendengarkan tanpa menyela. Menurut Kristen Miller, “Meja makan juga tempat mereka belajar percakapan dua arah,” di mana anak dilatih bercerita, bertanya, serta menunjukkan empati. Robert Dean Davies, M.D., menambahkan bahwa kepastian mendapatkan giliran bicara tanpa dipotong membuat anak lebih percaya diri dalam menyusun dan menyampaikan pikirannya.
Sikap peduli juga bisa ditunjukkan melalui tindakan sederhana, seperti menawarkan lauk atau membantu anggota keluarga lain sebelum mengambil bagian sendiri. Mariah Humbert menyampaikan bahwa “Ini cara yang baik untuk menunjukkan perhatian kepada orang lain,” misalnya dengan membantu adik mengambilkan lauk atau menawarkan porsi terakhir.
Menjaga Sopan Santun Saat Menolak Hidangan
Anak tentu tidak wajib menyukai seluruh sajian yang ada di meja. Namun, mereka perlu diajarkan cara mengekspresikan ketidaksukaan secara sopan tanpa celaan. Kristen Miller menegaskan bahwa “Anak tidak harus menyukai setiap makanan di meja,”. Dibandingkan mengeluarkan komentar negatif yang dapat memicu rasa tidak nyaman, orangtua dapat membiasakan anak mengucapkan frasa santun seperti “tidak, terima kasih” ketika enggan mencicipi menu tertentu.