Ekonomi

Menjembatani Dunia Akademik dan Bisnis: Langkah Nyata Mendorong Srikandi Usaha Siap Naik Kelas

S
Safeera Anisa
22 October 2026 3 pembaca
Tiga pengusaha perempuan berbagi pengalaman membangun bisnis dan memperkuat kolaborasi yang diselenggarakan FMI Jatim dan BMN Institute menggelar WOW 2026 di Hotel Platimun Tunjungan, Selasa (20/10/2026) siang. (KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU)
Tiga pengusaha perempuan berbagi pengalaman membangun bisnis dan memperkuat kolaborasi yang diselenggarakan FMI Jatim dan BMN Institute menggelar WOW 2026 di Hotel Platimun Tunjungan, Selasa (20/10/2026) siang. (KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU)

SURABAYA – Kolaborasi lintas sektor kini menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan besar yang kerap dihadapi kaum perempuan dalam membesarkan roda bisnisnya. Meski menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar, tidak sedikit pelaku usaha wanita yang menemui tembok penghalang, terutama minimnya ruang pamer kemampuan serta terbatasnya akses jejaring di tengah cepatnya arus digitalisasi.

Langkah konkret untuk mengurai hambatan tersebut mengemuka dalam gelaran Womenpreneur Talkshow bertajuk Women Empowering Women (WOW) di Hotel Platinum Tunjungan, Surabaya, pada Selasa (20/10/2026) siang. Forum ini diprakarsai oleh Forum Manajemen Indonesia (FMI) Koordinator Wilayah Jawa Timur bekerja sama dengan BMN Institute.

Ketangguhan dan Konsistensi Jadi Kunci Usaha

Melalui ajang ini, para wirausahawan perempuan diajak untuk saling bertukar kisah inspiratif, mempertajam jiwa kepemimpinan, serta memperluas koneksi jaringan bisnis. Diskusi ini menghadirkan tiga pengusaha sekaligus praktisi perempuan sebagai narasumber, yaitu Maria Sumargo (pemilik GBT Laras Imbang), Alfawzia Nurrahmi (pendiri Pruf Ritz Communications Hub), dan drg. Cintantya Intan (Dental Director Gladwill Aesthetic Dental).

Dalam paparannya, Maria Sumargo menyoroti bahwa peluang untuk berkembang sebenarnya terbuka lebar tanpa memandang gender. Sayangnya, banyak unit usaha wanita yang menjanjikan justru belum mendapatkan sorotan publik yang memadai. Bagi Maria, faktor pembeda dalam dunia bisnis adalah mentalitas untuk terus belajar serta daya tahan saat menerjang badai persoalan.

“Kunci sukses bisnis, seperti yang saya pelajari dari Papa dan Kakek saya, adalah fokus, konsisten, dan komitmen. Masalah pasti akan selalu datang, tetapi seberapa bertahan dan tidak mudah menyerah kita dalam menghadapinya, itulah yang menentukan,” ujar Maria.

Sinergi Antara Akademisi dan Praktisi Lapangan

Inisiatif WOW sendiri menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda besar Seminar Nasional FMI yang telah bergulir sejak 2008. Untuk wilayah Jawa Timur, perhelatan ke-18 ini diselenggarakan secara hibrida pada 20–22 Oktober 2026 dengan menyedot perhatian sekitar 900 peserta dari 180 perguruan tinggi, 85 kota, dan 25 provinsi. Sebanyak 350 peserta di antaranya hadir langsung di lokasi acara.

Sekretaris Jenderal FMI dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya, Tuwanku Aria Auliandri, menegaskan pentingnya menjembatani teori kampus dengan dinamika riil pasar.

“Penguatan daya saing bangsa tidak lepas dari peran pelaku usaha, termasuk perempuan. Lewat rangkaian seminar ini, termasuk WOW, kami ingin menyambungkan dunia akademik dengan praktik bisnis nyata,” kata Aria.

Hal senada diungkapkan oleh Chief of Business Management National (BMN) Activities Series, Rizki Priyoko. Ia menjelaskan bahwa rangkaian acara yang meliputi Seminar Nasional FMI, Call for Papers, Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), hingga kompetisi mahasiswa dirancang untuk mengaitkan kebutuhan industri dengan pemikiran kritis akademisi.

“Yang ingin dicapai adalah keterwakilan dan sinergi antar-helix, khususnya bisnis dan akademisi, yang berdampak langsung pada mahasiswa. Mereka bisa bersentuhan langsung dengan dunia bisnis riil melalui talkshow bersama para pelaku usaha,” tuturnya.

Inovasi Mahasiswa dan Jangkauan Kolaborasi Nasional

Wadah interaksi ini juga diwujudkan melalui Business Management National Competition (BMNC). Di sini, para mahasiswa ditantang menyelesaikan business case nyata yang diambil langsung dari studi kasus perusahaan, seperti GBT. Maria Sumargo, yang juga bertindak sebagai juri kompetisi, mengaku kagum atas keberanian gagasan para peserta.

“Teman-teman mahasiswa ini punya ide-ide yang luar biasa dan kadang out of the box. Walaupun ada ide yang secara realita agak sulit dieksekusi saat ini, mereka sangat antusias dan tampil maksimal saat presentasi,” imbuhnya.

Beberapa ide segar yang dimunculkan mahasiswa antara lain konsep layanan spooring mobil bergerak memanfaatkan truk kontainer 40 kaki, hingga strategi ekspansi bisnis GBT ke mancanegara seperti Malaysia dan India dengan mempertimbangkan aspek bahasa serta budaya lokal.

Rizki Priyoko menambahkan bahwa hasil pemikiran mahasiswa ini dapat memberikan masukan berharga bagi research and development (R&D) perusahaan. Pada tahun ini, BMNC berhasil menjaring 85 tim peserta yang berasal dari berbagai penjuru Tanah Air, mulai dari Medan, Palu, Kupang, hingga Merauke.

“Indonesia itu luas, bukan hanya Pulau Jawa. Misi FMI mengusung kata Indonesia sehingga kegiatan seperti ini harus menjangkau seluruh wilayah,” ucap Rizki.

Artikel Terkait