Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menginformasikan mengenai kemajuan dalam pengembangan kandidat obat tuberkulosis (TBC) yang memungkinkan pengobatan dipersingkat menjadi hanya satu bulan. Umumnya, pengobatan TBC saat ini memerlukan waktu berbulan-bulan, tergantung pada jenis TBC dan regimen yang diterapkan.
Budi menjelaskan bahwa kandidat obat tersebut dikembangkan oleh TB Alliance, sebuah organisasi internasional yang fokus pada pengembangan pengobatan untuk mengeliminasi TBC. Selain obat oral, penelitian ini juga mencakup formulasi suntik yang memiliki efek jangka panjang. "Ada beberapa organisasi, saya tuh pertama kali dengarnya dari TB Alliance. Ini adalah NGO internasional yang bergerak di bidang TBC untuk eliminasi. Sudah menemukan beberapa kandidat obat yang minumnya satu bulan saja, instead of empat bulan atau enam bulan, dan dikasih sekali suntik," ungkap Budi saat konferensi pers pada Kamis (22/10/2026).
Pemberian Obat Melalui Suntikan
Menurut Budi, penggunaan suntikan jangka panjang menjadi salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan. Metode ini diharapkan dapat menjaga keberadaan obat dalam tubuh lebih lama. Ia menjelaskan bahwa obat yang diminum harus diserap melalui saluran pencernaan sebelum masuk ke dalam aliran darah, sedangkan obat suntik dapat langsung diberikan ke jaringan atau aliran darah, tergantung pada jenis sediaan yang digunakan. "Karena masuknya ke pencernaan, sedangkan kalau disuntik itu masuk ke darah kan. Darah itu kan muter terus. Unless kita berdarah banyak atau kita diambil darahnya, ya dia selama itu akan ada di tubuh kita," jelasnya.
Uji Klinis dan Peluang di Indonesia
Budi menekankan bahwa meskipun menjanjikan, kandidat obat TBC dengan durasi pengobatan yang lebih singkat masih dalam tahap uji klinis. Ini berarti obat tersebut belum dapat dianggap sebagai terapi yang terbukti efektif dan siap digunakan secara rutin. Pemerintah Indonesia berkeinginan untuk menjadi salah satu lokasi untuk pelaksanaan uji klinis kandidat obat tersebut. "Cuma itu sedang dalam tahap clinical trial. Nah sekarang Indonesia ingin menjadi lokasi clinical trial," katanya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam uji klinis dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengakses inovasi pengobatan lebih cepat, jika hasil penelitian menunjukkan keamanan dan efektivitas yang memadai serta memenuhi semua persyaratan yang berlaku. "Karena clinical trial kan artinya bisa dipakai ke orang Indonesia. Lebih baik, lebih cepat," tuturnya. Meski demikian, durasi pengobatan satu bulan yang disebutkan masih merupakan potensi dari kandidat obat yang sedang diteliti, dan penggunaannya untuk pasien TBC akan tetap bergantung pada hasil uji klinis serta persetujuan dari otoritas terkait.