Hari pencegahan bunuh diri sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 10 September. Menurut laporan dari WHO, lebih dari 720 ribu orang di seluruh dunia meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Di Indonesia, tren kematian akibat bunuh diri mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa prevalensi bunuh diri di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 1,87 per 100.000 penduduk. Namun, angka ini mungkin tidak mencakup seluruh kasus yang terjadi karena banyak yang belum tercatat.
“Di balik setiap angka, ada kehidupan, keluarga, dan orang terdekat yang terdampak,” ungkap Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Ditjen Kesehatan Primer dan Komunitas, Kementerian Kesehatan RI, dr Imran Pambudi, MPHM, dalam sebuah keterangan.
Strategi Pencegahan Bunuh Diri
Penting untuk mengubah cara pandang, pembicaraan, dan respons terhadap isu bunuh diri. Tiga hal yang perlu diubah adalah stigma menjadi empati, menghakimi menjadi mendengarkan, dan diam menjadi membuka ruang untuk berbicara. Menurut dr Imran, pencegahan bunuh diri dapat dilakukan oleh orang-orang di sekitar individu yang berisiko. Satu percakapan bisa menjadi langkah awal menuju pertolongan. Beberapa cara yang bisa dilakukan meliputi:
- Berani bertanya
- Mendengarkan tanpa menghakimi
- Tidak menghakimi
- Menghubungkan individu dengan bantuan yang tepat
“Kita tidak harus menjadi tenaga profesional untuk mulai peduli,” tambahnya.
Perubahan Narasi dalam Diskusi
Pakar psikologi, Annelia Sari Sani, M.PSI., menekankan pentingnya mengubah narasi dari diam menjadi percakapan terbuka saat menghadapi individu yang berpotensi melakukan bunuh diri. Misalnya, mengubah pernyataan seperti "Jangan bicara soal bunuh diri, nanti malah kepikiran" menjadi "Mari kita berani membicarakannya." Demikian juga, pernyataan "Dia kurang bersyukur/mencari perhatian" sebaiknya diubah menjadi "Apa yang sedang kamu alami? Saya siap mendengarkan."
“Pencegahan bunuh diri bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan. Kadang, pencegahan dimulai jauh sebelum seseorang sampai ke fasilitas kesehatan, dari satu orang yang bersedia mendengarkan,” tuturnya.
Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan adalah:
- Lihat: Perhatikan perubahan perilaku
- Dengar: Dengarkan tanpa menghakimi
- Tanggap: Validasi dan tanyakan dengan empati
- Hubungkan: Arahkan ke bantuan yang tepat
Layanan Bantuan dari Kemenkes
Untuk memberikan dukungan, Kemenkes menyediakan layanan hotline untuk pencegahan bunuh diri. Layanan kesehatan mental ini tidak dipungut biaya dan menawarkan dukungan psikologis awal serta informasi bagi mereka yang mengalami tekanan, keputusasaan, atau dorongan untuk mengakhiri hidup.
Untuk mengakses layanan ini, berikut adalah langkah-langkahnya:
- Panggilan Suara: Hubungi 119 ext 8 atau kunjungi www.healing119.id, lalu pilih opsi call.
- Chat WhatsApp: Kunjungi www.healing119.id, lalu klik tombol WA di halaman utama.
Kesadaran dan dukungan dari masyarakat sangat penting dalam mencegah bunuh diri dan membantu mereka yang membutuhkan.