WONOGIRI, (19 Oktober 2026) — Dampak kemarau panjang yang menguras debit air Waduk Gajah Mungkur (WGM) membawa berkah tersendiri bagi ingatan sejarah kolektif masyarakat lokal. Ketika permukaan air menyusut hingga batas terendahnya, bentang infrastruktur usang yang puluhan tahun terkubur di dasar perairan perlahan kembali menampakkan wujudnya.
Pemandangan paling memikat hadir di kawasan genangan yang mencakup wilayah Desa Gumiwang Lor, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri. Di sana, berdiri kokoh sebuah jembatan batu kuno dengan desain arsitektur melengkung yang khas. Momen surutnya air waduk ini dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menggarap daratan yang timbul menjadi lahan pertanian produktif, khususnya tanaman cabai dan jagung.
Jejak Penghubung Dua Desa yang Tenggelam Sejak 1981
Jembatan tua ini bukanlah bangunan biasa. Bangunan ini menyimpan memori mendalam sebagai jalur penghubung antar-dua desa sebelum akhirnya tenggelam total seiring rampungnya proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur pada tahun 1981 di era kepemimpinan Presiden Soeharto.
Dalam kondisi hidrologi normal, peninggalan ini sepenuhnya tidak terlihat karena terbenam di bawah air. Bahkan, saat musim penghujan tiba, permukaan jembatan bisa terendam kedalaman air hingga melebihi 3 meter. Namun, hembusan kemarau terik kali ini menyisakan daratan kering yang menyingkap ketangguhan fisiknya.
Meski sudah terendam selama puluhan tahun, tiga tiang fondasi utamanya tetap berdiri tegar tanpa kerusakan berarti, walau bagian pagar pembatasnya telah hancur terkikis zaman. Batuan penyusunnya masih terikat erat satu sama lain dengan perubahan warna alami menjadi abu-abu dan kuning gading akibat rendaman air yang amat lama. Struktur utamanya ditopang oleh pilar batu berukuran masif di bagian tengah yang membelah aliran air serta menyalurkan tumpuan beban jalan.
Swadaya Warga Lokal dan Resep Bangunan Masa Lalu
Keberadaan jembatan ini membangkitkan kenangan emosional bagi para saksi hidup yang pernah tinggal di kawasan tersebut. Salah satunya adalah Yadi (66), seorang petani lokal yang menyaksikan langsung proses pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Sambil menunjuk ke arah genangan air tempat sekolah dasarnya dulu berdiri, Yadi mengisahkan masa lalunya.
"Dulu ini desa semua, ada banyak rumah-rumah. Rumah saya di depan sini, nah sekolah saya di sana".
Yadi menepis anggapan bahwa jembatan bergaya klasik ini dibangun oleh pemerintah kolonial. Menurutnya, fasilitas penyeberangan tersebut murni hasil karya serta gotong royong warga desa setempat yang memanfaatkan keahlian teknik tradisional.
"Bukan jembatan (peninggalan) Belanda, yang bangun orang-orang desa. Unik memang beda dengan jembatan tua lainnya. Orang-orang dulu punya teknik khusus, sudah pintar bangun jembatan lengkung," tutur Yadi.
Ia juga mengingat betul bagaimana warga masa lalu merangkai susunan batu kali tersebut secara teliti.
"Tekniknya pas bangun itu dibuat lengkung dulu, baru batu-batu ditumpuk satu-satu, pakai perekat khusus semacam batu kapur, ada tambahan semen tapi tidak banyak. Saya dulu ikut bantu-bantu ngaduk pas masih SD," kenang Yadi.
Kacamata Akademis: Warisan Teknik Arch Bridge Gaya Romawi Kuno
Dilihat dari sudut pandang rekayasa struktur, keunikan jembatan batu di dasar Waduk Gajah Mungkur ini turut menyita perhatian kalangan akademisi. Riski Wahyudi, seorang pakar jembatan sekaligus dosen teknik sipil, memberikan penjelasannya terkait konstruksi unik tersebut.
"Kalau berdasarkan materialnya disebut jembatan pasangan batu kali," ujar Riski.
Riski memaparkan bahwa model jembatan pelengkung (arch bridge) memanfaatkan struktur berupa kurva busur, parabola, atau setengah lingkaran yang ditopang oleh tumpuan (abutmen) di kedua belah ujungnya.
"Ciri khasnya jembatan batu dan beton berbentuk lengkung," terang Riski.
Mekanisme struktur ini sangat efektif karena saat ada beban atau kendaraan yang melintas di atasnya, tekanan tidak akan terpusat di titik tengah, melainkan didistribusikan secara merata mengikuti lengkungan menuju kedua tumpuan samping. Riski menambahkan bahwa konsep rekayasa seperti ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang dalam peradaban manusia.
"Jembatan pasangan batu kali ini sudah mulai ada sejak zaman Romawi kuno," pungkas Riski.