Jakarta - "Jangan cabut gigi atas, nanti bisa buta." Pernyataan ini mungkin sudah sering Anda dengar dari orang-orang di sekitar. Akibat ketakutan tersebut, banyak individu yang memilih untuk menahan sakit gigi dalam waktu lama dan menghindari kunjungan ke dokter gigi. Padahal, penundaan ini sering kali memperburuk kondisi gigi yang bermasalah.
Asal Mula Mitos yang Dipercaya
Mitos ini tidak muncul tanpa alasan. Letak gigi rahang atas yang berdekatan dengan area mata membuat banyak orang beranggapan bahwa keduanya saling terhubung. Kepercayaan ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Family Medicine and Primary Care pada tahun 2017 menunjukkan bahwa keyakinan keliru mengenai gangguan penglihatan setelah pencabutan gigi atas masih ada di kalangan masyarakat yang diteliti. Selain itu, faktor kebetulan juga berkontribusi. Penurunan penglihatan bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti usia, diabetes, atau glaukoma, dan bisa saja terjadi setelah seseorang mencabut gigi. Dua peristiwa yang terjadi berdekatan sering kali dianggap saling berkaitan, padahal belum tentu demikian.
Jalur Saraf yang Berbeda
Untuk memahami mitos ini, penting untuk mengetahui bahwa gigi dan mata dilayani oleh saraf yang berbeda. Saraf penglihatan yang dikenal sebagai saraf optik (saraf kranial II) berfungsi mengirimkan sinyal visual dari retina ke bagian belakang otak. Saraf ini hanya bertanggung jawab untuk penglihatan dan tidak memiliki cabang yang mengarah ke gigi.
Sementara itu, saraf gigi atas merupakan cabang dari saraf trigeminus (saraf kranial V). Cabang-cabang kecilnya menjangkau akar gigi dan hanya membawa sensasi seperti nyeri, sentuhan, dan suhu. Saraf ini tidak mengirimkan informasi visual. Anda bisa membayangkan dua kabel listrik yang berada di dalam satu gedung. Meskipun keduanya mungkin berada di dekat satu sama lain, mereka melayani fungsi yang berbeda. Memutus satu kabel tidak akan mempengaruhi kabel lainnya.
Namun, mengapa ada yang merasakan "hubungan" antara keduanya? Hal ini disebabkan oleh satu keluarga saraf. Saraf trigeminus memiliki tiga cabang, di mana satu cabang mengatur sensasi di sekitar mata, satu cabang mengatur gigi atas dan pipi, dan satu lagi mengatur gigi bawah. Oleh karena itu, sakit gigi atas kadang-kadang bisa terasa menjalar ke area sekitar mata atau pelipis. Ini hanya merupakan sensasi nyeri, bukan gangguan penglihatan. Selain itu, letak rongga mata yang berdekatan dengan akar gigi geraham atas juga dapat menyebabkan infeksi di area tersebut mempengaruhi daerah sekitarnya.
Apakah Cabut Gigi Bisa Menyebabkan Kebutaan?
Jawaban singkatnya adalah tidak; kebutaan bukanlah akibat umum dari pencabutan gigi. Namun, penting untuk diakui bahwa komplikasi mata setelah tindakan kedokteran gigi tidak sepenuhnya mustahil. Sebuah tinjauan ilmiah yang akan diterbitkan pada tahun 2025 mencatat adanya komplikasi mata yang jarang terjadi setelah prosedur kedokteran gigi, termasuk gangguan penglihatan. Kasus-kasus ini sangat jarang dan penyebabnya bukan karena hubungan antara saraf gigi dan saraf optik, melainkan lebih kepada kedekatan anatomi, seperti penyebaran infeksi atau, dalam kasus yang sangat jarang, obat bius lokal yang dapat menyebar ke area mata dan menyebabkan gangguan penglihatan sementara.
Oleh karena itu, gambaran yang paling akurat adalah: kebutaan bukanlah konsekuensi umum dari pencabutan gigi. Komplikasi yang sangat jarang dapat terjadi, sehingga gejalanya perlu dikenali. Risiko yang jarang ini tidak sebanding dengan risiko membiarkan gigi bermasalah tanpa penanganan.
Bahaya Infeksi yang Dibiarkan
Ironisnya, yang lebih berbahaya bagi mata sering kali bukan tindakan ke dokter gigi, melainkan ketidakberanian untuk pergi sama sekali. Infeksi gigi yang parah dan tidak ditangani dapat menyebar ke jaringan wajah, termasuk area rongga mata. Ini berbeda dari anggapan bahwa pencabutan gigi atas secara langsung menyebabkan kebutaan. Segera cari pertolongan medis jika Anda mengalami:
- Sakit gigi disertai bengkak di pipi atau wajah yang semakin membesar
- Demam yang menyertai nyeri gigi
- Kelopak mata bengkak, nyeri, atau memerah
- Pandangan kabur, ganda, atau menurun
- Kesulitan membuka mulut, menelan, atau bernapas
Gejala-gejala ini perlu ditangani dengan cepat oleh dokter, bukan ditunda.
Mengatasi Rasa Takut ke Dokter Gigi
Rasa takut adalah hal yang wajar, tetapi dapat dikelola. Keputusan untuk mencabut gigi biasanya diambil setelah pemeriksaan menyeluruh. Dokter akan menilai kondisi gigi, sering kali dengan bantuan rontgen, sebelum menentukan langkah yang tepat. Tidak semua gigi yang bermasalah harus dicabut; banyak gigi masih bisa diselamatkan melalui tambalan atau perawatan saluran akar. Pencabutan biasanya menjadi pilihan terakhir ketika gigi tidak dapat diselamatkan.
Komunikasikan kekhawatiran Anda kepada dokter. Sampaikan dengan jujur bahwa Anda merasa takut. Dokter yang baik akan menjelaskan prosedur dan menjawab semua pertanyaan Anda. Selain itu, penting untuk memberi tahu riwayat kesehatan Anda, seperti diabetes, gangguan pembekuan darah, atau obat yang sedang dikonsumsi, agar tindakan dapat dilakukan dengan aman.
Periksalah gigi secara rutin, jangan tunggu sampai sakit. Kontrol setiap enam bulan sekali dapat membantu mendeteksi masalah sebelum berkembang menjadi lebih besar, sehingga perawatannya menjadi lebih sederhana.