Ekonomi

OJK: Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa sektor jasa keuangan tetap stabil meskipun menghadapi tantangan geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia...

A
Adhe Dharma
06 October 2026 23 pembaca
Septiani Teberlina
Septiani Teberlina

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa kondisi sektor jasa keuangan (SJK) masih berada dalam keadaan stabil meskipun terdapat ketidakpastian yang disebabkan oleh faktor geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter di tingkat global. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers yang diadakan setelah Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK di Jakarta pada hari Senin, 5 Oktober.

Friderica menjelaskan bahwa indikator terbaru menunjukkan perekonomian yang kuat dengan inflasi yang tetap terjaga. Stabilitas inflasi ini berkontribusi pada permintaan domestik yang tinggi dan tingkat konsumsi masyarakat yang kuat, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam hal ini, OECD juga telah meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 sebesar 0,5%, yang mencerminkan kepercayaan global terhadap ketahanan perekonomian Indonesia.

Perkembangan Pasar Modal dan Pertumbuhan Investor

Perkembangan positif ini didukung oleh sektor keuangan yang terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan, dengan stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga berkat fundamental industri jasa keuangan yang solid. Pasar saham domestik menunjukkan pergerakan dinamis pada bulan September 2026, meskipun terjadi peningkatan volatilitas di pasar keuangan global akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan kenaikan suku bunga global.

Di tengah situasi ini, ketahanan dan likuiditas pasar modal domestik tetap terpantau baik. Rata-rata bid-ask spread di pasar saham tercatat stabil di level 1,20 persen, sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 1,17 persen. Jumlah investor di pasar modal juga mengalami peningkatan, dengan tambahan 1,03 juta investor pada bulan September 2026, sehingga total investor mencapai 32,17 juta, mencatatkan pertumbuhan sebesar 57,96% secara year-to-date (ytd).

Perkembangan Kredit dan Kualitas Perbankan

Penghimpunan dana oleh perusahaan domestik di pasar modal juga tetap kuat, dengan nilai penawaran umum yang telah mencapai Rp186,03 triliun secara year-to-date. Saat ini terdapat 29 rencana penawaran umum dengan total nilai indikatif mencapai Rp26,47 triliun. Di sektor perbankan, pertumbuhan kredit pada Agustus 2026 meningkat menjadi 13,65% year-on-year (yoy), dari sebelumnya 13,58% yoy, sehingga total penyaluran kredit mencapai Rp9.178 triliun.

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi menunjukkan pertumbuhan tertinggi sebesar 25,11% yoy, diikuti oleh kredit modal kerja sebesar 11,45% yoy, sedangkan kredit konsumsi tumbuh sebesar 5,07% yoy. Dari sisi debitur, kredit korporasi mengalami pertumbuhan tertinggi dengan angka 22,18% yoy, sementara kredit UMKM juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 2,32% yoy.

Kualitas kredit di sektor perbankan tetap terjaga, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross berada di level 2,11% dan NPL net sebesar 0,84%. Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,56%, sedangkan Return on Assets (ROA) bank berada di level 2,43%. Ketahanan perbankan juga tercatat kuat, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 24,10%.

Secara keseluruhan, kinerja industri perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun (PPDP) tetap stabil. Aset industri asuransi pada Agustus 2026 mencapai Rp1.200,55 triliun, meningkat 2,56% yoy. Untuk industri dana pensiun, total aset tumbuh sebesar 6,99% yoy, mencapai Rp1.724,14 triliun. OJK memproyeksikan bahwa kinerja sektor PPDP hingga akhir 2026 akan tetap tumbuh positif, meskipun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan target awal tahun.

Pertumbuhan program asuransi diperkirakan berada di kisaran 2% hingga 4%, sementara dana pensiun diproyeksikan tumbuh antara 4% hingga 6%. Di sisi lain, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,68% yoy, menjadi Rp514,08 triliun, didorong oleh peningkatan pembiayaan modal kerja.

Profil risiko perusahaan pembiayaan terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat 3,04% dan NPF net sebesar 0,83%. Gearing ratio perusahaan pembiayaan berada di angka 2,04 kali, jauh di bawah batas maksimum 10 kali. Pembiayaan modal ventura pada Agustus 2026 tumbuh 1,05% yoy, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp16,50 triliun.

Di sektor lembaga keuangan mikro, penyaluran pembiayaan pada Agustus 2026 mengalami kontraksi 0,33% yoy menjadi Rp1,05 triliun, sementara simpanan tumbuh 7,70% yoy menjadi Rp0,63 triliun. Di industri pinjaman daring, outstanding pembiayaan tumbuh 22,07% yoy, mencapai Rp106,94 triliun, dengan tingkat risiko kredit macet tercatat di posisi 4,73%. Dalam industri pergadaian, penyaluran pembiayaan tumbuh 44,60% yoy menjadi Rp156,61 triliun, dengan produk gadai menyumbang 84,82% dari total pembiayaan.

Artikel Terkait