Kesehatan

Pakar IDAI Berikan Penjelasan Terkait Kasus Hilang Ingatan Setelah Mengonsumsi Makan Bergizi Gratis

Seorang siswa SMA di Karo, Sumatra Utara, mengalami gangguan ingatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), memicu perhatian publik. Pakar kesehatan anak dari IDAI memberikan penjelasan menge...

I
Indriani Atmaja
12 September 2026 31 pembaca
Keracunan MBG. Foto: Getty Images/Rungruedee Malasri
Keracunan MBG. Foto: Getty Images/Rungruedee Malasri

Jakarta - Media sosial diramaikan oleh laporan mengenai seorang siswa SMA berinisial FP dari Kabupaten Karo, Sumatra Utara, yang dilaporkan mengalami masalah ingatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Siswa tersebut kemudian dirawat di RSUP Adam Malik, Medan, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan di beberapa fasilitas kesehatan.

Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA, Subsp NPM(K), seorang praktisi kesehatan anak dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa keracunan makanan akibat pencemaran bakteri atau kuman biasanya menunjukkan respons tubuh yang khas, seperti gejala gastrointestinal. Tubuh akan berusaha mengeluarkan racun tersebut secara alami.

"Kebanyakan kasus karena keracunan, reaksi tubuh adalah mengeluarkan lewat muntah atau diare. Itu prinsip dasarnya. Ada kuman masuk, dia keluarkan dengan badan itu mempunyai pertahanan," jelas Prof. Damayanti dalam sebuah media briefing daring.

Gejala dan Penyebab Keracunan

Lebih lanjut, Prof. Damayanti mengungkapkan bahwa jika terdapat gejala lain seperti demam atau sakit kepala, hal tersebut perlu dicermati. "Dia dikeluarkan lewat muntah, lewat diare. Nah, kalau dia sampai ada gejala yang lain, itu misalnya demam. Paling tinggi demam, kemudian sakit kepala," tambahnya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan kejang atau hilang ingatan akibat keracunan bakteri, Prof. Damayanti tidak ingin berspekulasi. Ia menyatakan bahwa ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. "Rasanya sih dari kuman-kuman yang ada di laporan, kayak nggak ada yang seperti itu. Nah, mungkin ada sebab lain yang kita belum tahu," ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa keracunan makanan biasanya tidak langsung menyebabkan kejang, kecuali jika disebabkan oleh zat kimia tertentu. "Tapi sepanjang saya tahu, tidak ada keracunan yang tiba-tiba bikin kejang-kejang. Itu sejauh ini ya, kalau bakteri nggak bikin kejang-kejang," jelasnya.

Pentingnya Keterbukaan Informasi Kesehatan

Prof. Damayanti juga menyoroti pentingnya keterbukaan dari fasilitas kesehatan mengenai jenis kuman atau zat pencemar yang ditemukan dalam kasus ini. "Bisa saja, semuanya bisa. Tapi kalau sampai kejang, itu rasanya nggak mungkin hanya masalah karena kumannya. Mungkin ada sebab lain. Ada penyakit dasar yang mempengaruhi sehingga gejalanya seperti itu," tuturnya.

Dengan demikian, penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasien dan mempertimbangkan kemungkinan adanya penyakit yang mendasari gejala yang muncul.

Artikel Terkait