Ekonomi

Peluang Ekspansi Bisnis Tembaga oleh United Tractors

PT United Tractors Tbk (UNTR) menjajaki kemungkinan untuk memperluas portofolio bisnisnya di sektor tambang tembaga, meskipun saat ini belum ada proyek yang terencana.

D
Dinda Mughni
08 September 2026 35 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

PT United Tractors Tbk (UNTR) sedang mempertimbangkan untuk memperluas bisnis pertambangannya, khususnya dalam sektor mineral tembaga. Presiden Direktur UNTR, Iwan Hadiantoro, mengungkapkan bahwa perusahaan berencana untuk terjun ke bisnis tembaga, yang saat ini menjadi salah satu komoditas yang sedang dipertimbangkan.

“Rencana ada, tetap tembaga merupakan salah satu komoditas yang kami pertimbangkan. Namun untuk saat ini belum ada proyek tembaga di pipeline United Tractors,” jelas Iwan dalam paparan publik yang disampaikan pada 7 September 2026. Ia juga menambahkan bahwa strategi investasi perusahaan saat ini masih terfokus pada dua komoditas utama, termasuk sektor pertambangan mineral yang meliputi emas, nikel, dan logam dasar lainnya seperti tembaga.

Strategi Investasi dan Fokus Aset

Iwan menyatakan bahwa proporsi investasi UNTR pada tahun 2027 akan disesuaikan dengan kondisi keuangan perusahaan dan peluang yang ada. Dengan ukuran bisnis yang sudah besar, Iwan berharap perusahaan dapat mengakuisisi aset baru yang juga memiliki skala besar dan valuasi yang baik sesuai dengan kriteria investasi UNTR. “Nah tentunya untuk melihat size yang UT (United Tractors) sudah besar saat ini, kami berharap bahwa bisnis-bisnis baru yang akan kami akuisisi itu cukup sizeable dan memiliki valuasi yang baik tentunya sesuai dengan kriteria investasi UT,” ucapnya.

Walaupun demikian, Iwan menegaskan bahwa saat ini UNTR masih memfokuskan pencarian aset tambang di Indonesia dan Australia. Ia mencatat bahwa cadangan mineral di Australia sangat besar. “Jadi kami masih memfokuskan usaha merger dan akuisisi kami untuk Australia dan belum ada rencana untuk perkembangan di negara Asia lainnya,” tambahnya.

Kinerja Keuangan yang Lesu

Melihat kinerja keuangan UNTR hingga semester pertama tahun 2026, perusahaan mengalami penurunan yang signifikan pada kuartal pertama. Laba bersih yang dicatatkan mencapai Rp 642,75 miliar, mengalami penurunan sebesar 80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 3,18 triliun. Selain itu, pendapatan UNTR juga turun 17% secara tahunan menjadi Rp 28,55 triliun, dari sebelumnya Rp 34,26 triliun.

Manajemen UNTR menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya kontribusi dari PT Agincourt Resources yang tidak melakukan penjualan emas. Selain itu, kinerja segmen mesin konstruksi dan kontraktor juga tertekan akibat penurunan alokasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara nasional pada tahun 2026. Meskipun demikian, pertumbuhan pendapatan dari segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi dapat menahan tekanan tersebut, berkat kenaikan harga rata-rata batu bara.

Secara rinci, pendapatan segmen kontraktor penambangan tercatat sebesar Rp 11,9 triliun, turun 6%. Sementara itu, pendapatan dari segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi meningkat 13% menjadi Rp 8 triliun. Pendapatan segmen mesin konstruksi turun 31% menjadi Rp 7,5 triliun, dan pendapatan dari pertambangan emas serta mineral lainnya merosot 76% menjadi Rp 692 miliar.

Artikel Terkait