Ekonomi

Peluncuran Indeks KESGI 50 oleh Katadata: Menyongsong Era Keberlanjutan di Pasar Modal

Katadata akan segera meluncurkan indeks KESGI 50 yang mengintegrasikan kinerja ESG dengan kondisi fundamental perusahaan, sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan akan investasi berkelanjutan.

A
Agus Wigati
16 September 2026 22 pembaca
Karunia Putri
Karunia Putri

Kebutuhan perusahaan untuk menerapkan prinsip keberlanjutan, yang dikenal sebagai environmental, social and governance (ESG), semakin meningkat seiring dengan permintaan untuk investasi jangka panjang. Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mendorong perusahaan yang terdaftar untuk meningkatkan penerapan dan keterbukaan informasi terkait ESG. Menurut data dari BEI per Agustus 2026, sebanyak 83% perusahaan yang terdaftar telah menyampaikan laporan keberlanjutan untuk tahun 2025, meskipun hanya sekitar 15% dari perusahaan tersebut yang menggunakan independent assurance dalam laporan mereka.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengadopsi prinsip ESG, investor perlu lebih selektif dalam memilih emiten untuk portofolio investasi mereka. Heri Susanto, Chief Content Officer (CCO) Katadata, mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat, Katadata akan meluncurkan indeks KESGI 50, yang menggabungkan penilaian kinerja ESG dengan kondisi fundamental dan daya tarik investasi saham. Indeks ini akan fokus pada integrasi mendalam dengan overlay valuasi untuk keputusan alokasi investasi.

Filosofi Indeks KESGI 50

“Kami susun filosofinya dengan 3 lensa fundamental dan 1 lensa investor. Lensa fundamental ini ada kinerja ESG, artinya perusahaan dengan ESG yang terbaik inilah yang kami pilih. Kemudian financial quality artinya tentu saja perusahaan dengan kinerja keuangan yang juga sehat,” jelas Heri dalam acara Katadata SAFE 2026 di Jakarta pada Rabu, 16 September.

Dalam proses pemilihan emiten, Katadata akan menilai sekitar 400 perusahaan berdasarkan indikator ESG. Dari penilaian ini, sekitar 50 emiten akan dipilih untuk dimasukkan dalam indeks KESGI 50. Heri menambahkan bahwa indeks ini tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan indeks ESG yang sudah ada di pasar, seperti IDX ESG Leaders dan IDX KEHATI. Sebaliknya, KESGI 50 diharapkan dapat melengkapi indeks yang sudah ada dengan memberikan informasi yang lebih komprehensif kepada investor.

Pentingnya Keberlanjutan dalam Investasi

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menyatakan bahwa penerapan ESG seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa hijau suatu perusahaan. Aspek keberlanjutan juga harus dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam menghadapi perubahan ekonomi, menjaga daya saing, dan tetap menarik bagi investor. “Kalau berbicara mengenai capital markets for a sustainable future, pertanyaannya bukan hanya apakah perusahaan kita sudah cukup green, tetapi apakah perusahaan kita cukup resilient, competitive, dan investable untuk menghadapi perubahan ekonomi ke depan,” ungkap Iding.

Iding menekankan bahwa pada akhirnya, investor tetap akan mengejar imbal hasil atau return. Namun, untuk memahami potensi return dalam jangka panjang, mereka juga perlu mempertimbangkan risiko, ketahanan bisnis, dan tata kelola perusahaan. Ia menegaskan bahwa ESG tidak dapat menggantikan fundamental perusahaan, melainkan seharusnya membantu investor memahami fundamental perusahaan secara lebih menyeluruh. Dengan demikian, perusahaan tidak otomatis menjadi investasi yang baik hanya karena memiliki label hijau; perusahaan tetap harus memiliki profitabilitas, tata kelola yang baik, ketahanan bisnis, serta strategi jangka panjang yang kredibel.

Iding menambahkan bahwa fondasi penerapan ESG di pasar modal Indonesia mulai terbentuk, terlihat dari semakin banyaknya perusahaan yang menyampaikan laporan keberlanjutan. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas, keterbandingan, keandalan, dan kredibilitas informasi yang disampaikan oleh perusahaan.

Dari sisi produk investasi, BEI telah menyediakan berbagai indeks ESG. Hingga Agustus 2026, dana kelolaan produk berbasis ESG di Indonesia telah mencapai Rp 5,97 triliun. Selain itu, akumulasi penerbitan green, social, dan sustainable bonds serta sukuk telah mencapai sekitar Rp 86,97 triliun. Lebih dari separuh perusahaan yang masuk dalam indeks IDX80 telah memiliki komitmen untuk mencapai net zero.

Iding menjelaskan bahwa BEI melihat pengembangan pasar modal berkelanjutan melalui empat area utama. Pertama adalah informasi; tanpa informasi yang kredibel, tidak akan ada keuangan berkelanjutan. Investor juga harus mampu membedakan antara klaim hijau dan kinerja hijau perusahaan. Kedua adalah pengembangan instrumen, di mana BEI telah menyediakan berbagai indeks ESG dan instrumen keberlanjutan lainnya. Namun, sustainable finance tidak seharusnya hanya membiayai perusahaan yang sudah berstatus hijau.

Indonesia masih memerlukan sektor-sektor seperti energi, mineral, manufaktur, infrastruktur, dan transportasi yang tidak dapat beralih menjadi rendah karbon dalam waktu singkat. Menurut Iding, transisi yang kredibel berarti perusahaan memiliki target yang jelas, peta jalan yang terukur, investasi yang konsisten dengan peta jalan tersebut, serta keterbukaan informasi dan akuntabilitas terhadap pencapaiannya.

Ketiga adalah mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam pengambilan keputusan investasi. Iding menekankan bahwa ESG tidak boleh menjadi aspek yang terpisah dari keputusan investasi. Investor harus tetap mempertimbangkan imbal hasil, risiko, ketahanan bisnis, dan kualitas tata kelola. ESG seharusnya menjadi bagian dari pemahaman terhadap kinerja keuangan perusahaan dalam jangka panjang, bukan sebagai pertentangan dengan kinerja finansial.

Iding menyoroti tiga perubahan yang perlu didorong dalam pengembangan ESG di pasar modal. Pertama, dari disclosure menjadi credibility, yaitu tidak hanya memperbanyak laporan tetapi juga meningkatkan kualitas dan kredibilitas informasi. Kedua, dari commitment menuju measurable impact; perusahaan tidak cukup hanya menetapkan target dan komitmen, tetapi juga perlu menunjukkan dampak dan perkembangan pencapaiannya secara terukur. Ketiga, mengubah pandangan sustainability dari sekadar compliance menjadi competitiveness. “Pada akhirnya, perusahaan yang mampu mengelola sustainability dengan baik seharusnya menjadi perusahaan yang lebih resilient, lebih kompetitif, dan lebih investable,” tuturnya.

Iding menegaskan bahwa BEI ingin menjadikan pasar modal Indonesia lebih dari sekadar tempat transaksi efek. Pasar modal diharapkan menjadi tempat bertemunya modal dengan peluang ekonomi, serta memberikan penghargaan kepada perusahaan dengan tata kelola yang baik dan mendorong pembiayaan bagi transformasi yang kredibel. Indonesia membutuhkan pembiayaan dalam jumlah besar untuk melaksanakan berbagai transformasi ekonomi, di sisi lain, Indonesia juga memiliki peluang ekonomi yang besar. “Tantangannya adalah bagaimana mempertemukan real economic opportunity di Indonesia dengan domestic and global long-term capital,” ujarnya. Oleh karena itu, pasar modal Indonesia perlu memiliki karakter yang kredibel, investable, likuid, dan dipercaya.

Artikel Terkait