Pemerintah Indonesia menetapkan target untuk menarik investasi hingga Rp3.800 triliun dalam kurun waktu empat tahun mendatang melalui inisiatif hilirisasi sumber daya alam. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, investasi ini diharapkan dapat menciptakan 3 juta lapangan kerja baru.
“Dari segi lapangan kerja, hilirisasi diharapkan bisa mempekerjakan 3 juta tenaga kerja, dan investasi ditargetkan mencapai 3.800 triliun dalam 4 tahun ke depan,” ungkap Airlangga saat menghadiri acara BIG Downstream Insights: Outlook Kebijakan Hilirisasi 2026, yang berlangsung di Financial Hall, Grha CIMB Niaga Sudirman, Jakarta, pada Selasa (6/10).
Realisasi Investasi dan Sektor yang Dituju
Airlangga menjelaskan bahwa investasi hilirisasi yang telah terealisasi pada semester pertama tahun 2026 mencapai sekitar Rp300 triliun, meningkat sekitar 6,9%-7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ia menekankan bahwa pengembangan hilirisasi tidak hanya berfokus pada komoditas mineral dan batu bara, tetapi juga mencakup sumber daya alam terbarukan, seperti sektor perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan kelautan.
Contohnya, pengembangan industri turunan kelapa sawit telah menghasilkan lebih dari 200 jenis produk. Hilirisasi juga dilakukan pada komoditas karet, yang menghasilkan produk seperti ban. “Jadi hilirisasi bukan hanya mineral, tetapi komoditas-komoditas sumber daya yang renewable juga,” tambahnya.
Peta Jalan Hilirisasi dan Dampaknya
Pemerintah telah menyusun peta jalan hilirisasi untuk 28 komoditas yang terbagi dalam delapan sektor, dengan total investasi yang dibutuhkan mencapai US$618 miliar. Investasi ini diharapkan dapat meningkatkan ekspor Indonesia hingga mencapai US$857 miliar dan menghasilkan nilai tambah sebesar US$235,9 miliar. “Sebagai tambahan, ekspor kita mendekati 500 billion, jadi sebetulnya kalau dengan hilirisasi ini nambah, maka ekspor kita bisa double dari angka tersebut,” jelas Airlangga.
Dia juga menilai bahwa hilirisasi telah memberikan dampak positif terhadap beberapa komoditas, seperti nikel, yang nilai ekspornya meningkat dari sekitar US$1,3 miliar pada tahun 2016 menjadi US$34 miliar pada tahun lalu. Selain itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi komoditas terbarukan, di mana produk turunan kelapa sawit kini telah mencapai sekitar 208 jenis, dan ekspor produk kelapa diperkirakan mencapai sekitar US$2,39 miliar pada tahun 2025, tumbuh hampir 50%.
Airlangga menambahkan bahwa hilirisasi juga berkontribusi pada penyebaran investasi ke luar Jawa, dengan sekitar 75,7% investasi berada di luar pulau tersebut, mengingat sebagian besar sumber daya mineral dan bahan baku terletak di wilayah tersebut. Hal ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua.
“Jadi pembaginya kalau di Jawa itu manufaktur, di luar Jawa itu sumber daya mineral atau sumber daya alam base. Jadi itu yang mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Sulawesi ataupun di wilayah Maluku dan Papua bisa bergerak double digit,” kata Airlangga.
Dia memberikan contoh investasi berbasis nikel di Sulawesi Tengah yang telah mencapai Rp56,1 triliun dan di Maluku sebesar Rp53,9 triliun. Di Maluku Utara, pengembangan kawasan industri telah menyerap lebih dari 25.000 pekerja.
Walaupun demikian, Airlangga mengingatkan bahwa hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan bahan mentah. Pemerintah perlu mendorong industri nasional untuk naik kelas menuju manufaktur berteknologi tinggi, digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), hingga semikonduktor. “Hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri,” tegasnya.
Menurutnya, langkah ini sangat penting agar Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan ekonominya dari sekitar 5% saat ini menuju target pertumbuhan 8%. Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah juga menyiapkan pengembangan sumber daya manusia melalui program magang dan vokasi serta kerja sama dengan perusahaan teknologi, seperti Arm, untuk mendorong pengembangan desain semikonduktor dan chip. Pemerintah menargetkan untuk mencetak 15.000 talenta yang memiliki literasi AI dan semikonduktor dalam waktu tiga tahun ke depan.