Pendidikan

Pendidikan Pesantren: Mengasah Akal dan Kebersihan Hati Menurut Menag Nasaruddin Umar

Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya pendidikan pesantren dalam membangun santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kedalaman batin dan kebersihan hati.

A
Adhe Dharma
19 September 2026 18 pembaca
Menteri Agama, Nasaruddin Umar./Antara
Menteri Agama, Nasaruddin Umar./Antara

KEDIRI— Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa pendidikan di pesantren memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk karakter santri. Ia menekankan bahwa santri perlu dibekali dengan kecerdasan intelektual yang seimbang dengan kebersihan hati dan kedalaman batin. Dalam pandangannya, untuk memperoleh ilmu Allah, tidak hanya cukup dengan belajar dan menghafal, melainkan hati juga harus dalam keadaan bersih.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Nasaruddin saat melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Al Amin di Kediri, yang dipimpin oleh Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.

Pendidikan yang Seimbang antara Akal dan Batin

Nasaruddin menjelaskan bahwa pesantren berfungsi sebagai tempat pendidikan yang memungkinkan santri untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kebersihan hati secara bersamaan. Menurutnya, proses menuntut ilmu tidak dapat hanya bergantung pada kecerdasan akal. Kebersihan hati sangat penting agar ilmu yang dipelajari dapat diterima dan dipahami dengan lebih mendalam.

Ia berharap pendidikan di pesantren mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki akhlak yang baik, nurani yang tajam, dan kedalaman spiritual. “Pesantren tidak hanya (mengajarkan) dengan akal, tetapi juga batin, intuisi, nurani, wahyu, dan ilham,” ungkapnya. Pandangan ini mencerminkan perhatian Nasaruddin terhadap pengembangan pendidikan pesantren yang lebih holistik, tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik tetapi juga pada pembentukan karakter dan aspek spiritual santri.

Dukungan untuk Santri dalam Menguasai Bahasa Asing

Setelah berkunjung ke Pesantren Al Amin, Nasaruddin melanjutkan agenda kunjungannya ke Pondok Pesantren Salafiy Terpadu (PPST) Ar-Risalah Lirboyo, Kediri. Di sana, ia disambut oleh Pengasuh PPST Ar-Risalah Lirboyo, Nyai Hajah Aina ‘Ainaul Mardliyah Anwar. Di hadapan para santri, Nasaruddin memberikan motivasi agar mereka rajin belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan global.

Salah satu fokus perhatian Nasaruddin adalah pentingnya penguasaan bahasa asing. PPST Ar-Risalah Lirboyo sendiri telah mengembangkan pembelajaran berbagai bahasa, termasuk bahasa Arab, Inggris, dan Mandarin. Ia mendorong para santri untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan serius agar kemampuan bahasa mereka dapat memperluas interaksi sosial. “Belajarlah bahasa sebanyak-banyaknya. Bahasa adalah jendela untuk mengenal dunia. Dengan menguasai bahasa, santri dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas,” tegasnya.

Penguatan Ekosistem Pesantren oleh Kemenag

Kunjungan Menag ke Pondok Pesantren Al Amin dan PPST Ar-Risalah Lirboyo merupakan bagian dari upaya Kementerian Agama untuk memperkuat perhatian terhadap pesantren secara menyeluruh. Langkah ini sejalan dengan pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren yang secara khusus menangani pengembangan dan penguatan ekosistem pesantren.

Dengan penguatan ini, pendidikan pesantren diharapkan dapat mencakup pengembangan kemampuan intelektual, pembentukan akhlak dan nurani, kedalaman spiritual, serta kesiapan santri dalam menghadapi tantangan global melalui penguasaan bahasa asing.

Artikel Terkait