Kesehatan

Penelitian Mengungkap Makanan yang Meningkatkan Risiko Kematian Dini

Sebuah studi terbaru mengidentifikasi jenis makanan yang berhubungan dengan harapan hidup, menunjukkan beberapa makanan dan minuman dapat meningkatkan risiko kematian dini.

D
Darma Yudhistira
11 September 2026 28 pembaca
Foto: Ilustrasi makan Getty Images/kyotokushige
Foto: Ilustrasi makan Getty Images/kyotokushige

Jakarta - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pilihan makanan yang kita sukai dapat memengaruhi harapan hidup. Dalam studi ini, para peneliti menemukan enam jenis makanan yang berkaitan dengan umur yang lebih panjang, sementara lima jenis lainnya berhubungan dengan risiko kematian yang lebih tinggi. Penelitian ini melibatkan lebih dari 177.000 partisipan dari seluruh Inggris.

Alih-alih meminta peserta untuk mengingat makanan yang mereka konsumsi dalam beberapa hari terakhir, peneliti memilih untuk menanyakan makanan yang mereka sukai. Menurut para peneliti, preferensi makanan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat tentang pola makan seseorang dalam jangka panjang, karena selera makanan cenderung tetap stabil, sementara konsumsi makanan bisa berubah seiring waktu.

Makanan dan Minuman yang Meningkatkan Risiko Kematian

Hasil penelitian menunjukkan beberapa makanan dan minuman yang berhubungan dengan peningkatan risiko kematian. Soda memiliki hubungan yang paling kuat, dengan risiko kematian meningkat sebesar 38 persen. Diikuti oleh soda diet yang menunjukkan peningkatan risiko sebesar 23 persen.

Soda dikenal memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, termasuk obesitas dan masalah regulasi gula darah. Selain itu, soda dapat memengaruhi penyerapan nutrisi dalam tubuh. Dua minuman lainnya yang juga berisiko adalah teh manis dengan peningkatan risiko kematian sebesar 22 persen dan susu murni dengan risiko 18 persen lebih tinggi. Keduanya dapat memberikan lebih banyak kalori dibandingkan dengan teh tanpa pemanis atau susu skim, tergantung pada jumlah yang dikonsumsi.

Selain itu, sereal jagung juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian sebesar 20 persen. Temuan ini menyoroti bahwa makanan olahan ultraprocessed (UPF) tidak hanya meningkatkan kalori, tetapi juga menambah zat aditif yang tidak bermanfaat bagi kesehatan.

Selama penelitian, sekitar 3.300 peserta meninggal, tetapi angka ini tidak cukup representatif untuk menarik kesimpulan yang kuat mengenai makanan yang berhubungan dengan kematian. Penting untuk dicatat bahwa kematian tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, sehingga tidak selalu berkaitan langsung dengan pola makan atau penyakit metabolik.

Makanan yang Menurunkan Risiko Kematian

Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan enam jenis makanan yang berhubungan dengan penurunan risiko kematian. Beberapa makanan yang memiliki manfaat kesehatan bahkan bukanlah makanan yang biasanya dimakan secara langsung. Misalnya, minyak zaitun extra virgin dikaitkan dengan penurunan risiko kematian sebesar 33 persen, sedangkan lada hitam menunjukkan penurunan risiko sebesar 28 persen.

Hasil ini menunjukkan bahwa memasak makanan sendiri dapat memberikan manfaat kesehatan. Memasak di rumah dapat membantu mengurangi asupan kalori dan menurunkan risiko penyakit kronis, seperti diabetes. Dari kelompok makanan, asparagus dan brokoli menunjukkan hubungan paling kuat dengan penurunan risiko kematian, masing-masing sebesar 31 persen dan 25 persen untuk labu butternut, serta 21 persen untuk terong.

Roti gandum utuh juga menunjukkan penurunan angka kematian yang signifikan, mirip dengan minyak zaitun. Selain itu, sayuran seperti bayam, salad, bawang bombai, jamur, lentil, kacang-kacangan, dan paprika juga berhubungan dengan umur yang lebih panjang. Secara keseluruhan, temuan ini mendukung pentingnya mengonsumsi lebih banyak makanan utuh dan segar dalam pola makan, yang merupakan ciri khas diet Mediterania, yang terbukti efektif dalam mengontrol berat badan dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Artikel Terkait