Kesehatan

Peningkatan Kasus Gangguan Pernapasan di Malaysia Akibat Kabut Asap Karhutla

Kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan di Indonesia telah menyebabkan lonjakan kasus gangguan pernapasan di Malaysia, dengan banyak pasien yang memerlukan terapi nebulisasi.

J
Jaya Abdi
20 October 2026 4 pembaca
Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain
Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia telah mengakibatkan penyebaran kabut asap ke negara-negara tetangga, termasuk Malaysia. Hal ini berdampak signifikan terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut. Beberapa dokter di klinik swasta di Malaysia melaporkan adanya peningkatan jumlah pasien yang membutuhkan terapi nebulisasi akibat masalah pernapasan.

Peningkatan Pasien Gangguan Pernapasan

Sekretaris Jenderal Federation of Private Medical Practitioners' Associations Malaysia, dr Eugene Chooi, menyatakan bahwa lebih banyak pasien mengalami gejala seperti batuk, iritasi tenggorokan dan mata, hidung tersumbat, mengi, serta perburukan asma selama periode kualitas udara yang buruk. "Beberapa klinik juga melihat peningkatan jumlah pasien yang membutuhkan pengobatan bronkodilator atau nebulisasi, terutama mereka yang mengalami bronkospasme signifikan," ungkapnya.

Meski demikian, dr Chooi menekankan bahwa pemberian nebulisasi harus didasarkan pada hasil pemeriksaan klinis. Banyak kasus dengan gejala lebih ringan dapat ditangani secara efektif menggunakan inhaler salbutamol yang dilengkapi spacer. Ia juga menjelaskan bahwa kabut asap tidak secara langsung menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas akibat virus, tetapi dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi yang sudah ada.

Imbauan untuk Masyarakat

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu hingga mengalami kesulitan bernapas sebelum mencari pertolongan medis. "Pantau indeks pencemaran udara, kurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak perlu ketika kualitas udara tidak sehat, gunakan masker N95 yang terpasang dengan baik jika paparan di luar ruangan dalam waktu lama tidak dapat dihindari, serta pastikan inhaler dan obat-obatan rutin tersedia," jelasnya.

Dr Chooi juga mengingatkan agar segera mencari pertolongan medis jika mengalami mengi yang terus-menerus, sesak napas yang memburuk, atau jika inhaler tidak lagi efektif. Sebagai seorang dokter keluarga, ia menekankan pentingnya pencegahan untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih serius, terutama bagi anak-anak, orang lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya.

Di sisi lain, mantan Presiden Medical Practitioners Coalition Association of Malaysia, dr Raj Kumar Maharajah, mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan sekitar 20 persen pada pasien yang melaporkan gangguan kesehatan akibat kabut asap. "Banyak pasien melaporkan mengalami gangguan pernapasan dan iritasi kulit. Terlihat jelas adanya peningkatan jumlah pasien. Asma pada pasien yang memang memiliki kondisi tersebut semakin memburuk hingga membutuhkan nebulisasi," tuturnya.

Seorang dokter umum di klinik swasta yang hanya ingin disebut dr Lim juga melaporkan peningkatan pasien asma yang memerlukan terapi nebulisasi. Ia menyatakan bahwa kliniknya kini menerima rata-rata 10 pasien asma setiap hari untuk menjalani nebulisasi, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi biasanya.

Permintaan terhadap masker juga meningkat di apotek komunitas. Presiden Malaysian Community Pharmacy Guild (MCPG), Sarah Abdullah, melaporkan bahwa masyarakat semakin banyak mencari masker untuk melindungi diri dari polusi udara. "Pasien meminta masker N95 dan KN95. Permintaan obat tetes mata juga meningkat," tambahnya.

Artikel Terkait