Kesehatan

Peningkatan Kasus Stroke pada Usia Muda: Apa Penyebabnya?

Studi terbaru menunjukkan bahwa insiden stroke pada orang dewasa muda mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa dekade terakhir, dengan faktor risiko yang juga meningkat. Penelitian ini menyorot...

D
Darma Yudhistira
28 September 2026 21 pembaca
Foto: Getty Images/ThitareeSarmkasat
Foto: Getty Images/ThitareeSarmkasat

Jakarta - Selama ini, stroke dikenal sebagai penyakit yang lebih sering menyerang individu yang lebih tua. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa jumlah kasus stroke pada orang dewasa muda justru meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Neurology mengungkapkan bahwa angka stroke pada kelompok usia ini hampir dua kali lipat dalam kurun waktu tiga dekade.

Dalam penelitian tersebut, angka kejadian stroke meningkat dari 33,9 kasus per 100 ribu orang pada periode 1993-1994 menjadi 62,2 kasus per 100 ribu orang pada tahun 2020. Penelitian ini berfokus pada orang dewasa berusia antara 20 hingga 54 tahun yang tinggal di wilayah Greater Cincinnati dan Northern Kentucky, Amerika Serikat. Selama periode 1993 hingga 2020, tercatat sebanyak 2.076 kasus stroke pertama dalam kelompok tersebut.

Jenis Stroke yang Meningkat

Stroke iskemik menjadi jenis stroke yang paling banyak berkontribusi terhadap peningkatan angka tersebut. Kondisi ini terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat, sehingga jaringan otak tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi yang diperlukan.

Faktor Risiko yang Meningkat

Penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa faktor risiko stroke mengalami peningkatan yang signifikan selama periode tersebut. Misalnya, hipertensi meningkat dari 47 persen menjadi 60 persen, diabetes dari 19 persen menjadi 26 persen, dan atrial fibrilasi dari 1 persen menjadi 6 persen. Selain itu, penggunaan zat terlarang juga meningkat dari 5 persen menjadi 40 persen, yang sebagian besar terkait dengan peningkatan penggunaan ganja.

Walaupun demikian, para peneliti menekankan bahwa data ini belum dapat membuktikan secara langsung bahwa perubahan faktor risiko tersebut menyebabkan peningkatan angka stroke, karena tidak ada data pembanding dari individu yang tidak mengalami stroke.

Dokter David Robinson, penulis senior studi, menyatakan bahwa meningkatnya kasus stroke pada usia muda menjadi perhatian serius karena dampaknya dapat berlangsung lama. "Stroke adalah penyakit yang sangat merusak pada usia berapa pun. Dampaknya sangat berat ketika terjadi pada orang yang lebih muda," ungkap Robinson. Stroke pada usia muda dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk pekerjaan dan kemampuan merawat anak.

Oleh karena itu, Robinson menyarankan agar kesehatan kardiovaskular mulai diperhatikan sejak usia muda. Ia merekomendasikan agar orang dewasa muda mulai memperhatikan berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular dengan menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Robinson juga merujuk pada daftar "Essential 8" dari American Heart Association, yang mencakup pola makan yang sehat, aktivitas fisik, tidak merokok, tidur yang berkualitas, serta menjaga berat badan, kadar kolesterol, tekanan darah, dan gula darah. Memiliki dokter layanan primer juga dianggap penting untuk memantau faktor risiko kesehatan sejak dini.

"Yang penting adalah mulai memikirkan kesehatan kardiovaskular ketika masih muda, karena kita mungkin memiliki kesempatan terbaik untuk melakukan intervensi dan mengurangi dampak buruk jika kita mengetahuinya lebih awal," tambah Robinson.

Pakar neurologi lainnya, Dr Christopher Anderson, menegaskan bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya. Sementara itu, Dr Michelle Leppert menekankan bahwa meskipun stroke tetap merupakan kejadian yang relatif jarang pada orang dewasa muda, temuan ini tidak perlu menimbulkan kepanikan. Namun, pemeriksaan kesehatan rutin tetap penting untuk mendeteksi dan menangani faktor risiko pembuluh darah sejak awal.

Khususnya bagi perempuan muda, Leppert menyarankan agar tekanan darah diperhatikan selama kehamilan dan setelah melahirkan. Perempuan yang mengalami migrain disertai gangguan penglihatan dan menggunakan pil kontrasepsi yang mengandung estrogen juga dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Menurut Anderson, stres yang tinggi, pola makan yang tidak sehat, kurang tidur, dan kurangnya aktivitas fisik sejak usia muda dapat berkontribusi pada risiko penyakit seperti stroke. "Risiko yang terakumulasi tersebut tidak harus menunggu sampai usia pensiun untuk memberikan dampak besar terhadap kesehatan," ujarnya.

Artikel Terkait