Penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam kegiatan belajar semakin meningkat di kalangan pelajar Indonesia. Berdasarkan data dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2025, sebanyak 53% siswa di Indonesia memanfaatkan chatbot AI untuk membantu proses belajar mereka setidaknya sekali dalam seminggu. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang tercatat sebesar 46%.
Beragam Manfaat Chatbot AI untuk Pelajar
Penggunaan chatbot AI oleh siswa Indonesia mencakup berbagai aktivitas, mulai dari merangkum materi pelajaran hingga membantu dalam menyelesaikan tugas. Sebanyak 39% pelajar memanfaatkan teknologi ini untuk merangkum teks, sementara 32% menggunakannya untuk melakukan riset awal. Selain itu, 30% siswa menggunakan chatbot AI untuk membuat draf tugas menulis. Tak hanya itu, 29% siswa juga memanfaatkan AI untuk memahami materi pelajaran, dan 25% lainnya mencari ide atau inspirasi dalam mengerjakan tugas.
AI Sebagai Alat untuk Memeriksa Tugas
Data PISA 2025 juga menunjukkan bahwa chatbot AI digunakan oleh siswa untuk memeriksa dan memperbaiki pekerjaan mereka. Sekitar 24% siswa menggunakan AI untuk menemukan kesalahan dalam tugas, sedangkan 20% lainnya memanfaatkan teknologi ini untuk mendapatkan umpan balik terhadap pekerjaan yang telah mereka lakukan. Di sisi lain, hanya 7% pelajar yang mengaku hampir tidak pernah menggunakan chatbot AI dalam belajar, angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD yang mencapai 13%.
Penggunaan chatbot AI oleh pelajar Indonesia tidak hanya terbatas pada pencarian informasi, tetapi juga mencakup pengerjaan tugas sekolah. OECD mencatat bahwa teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk memperoleh penjelasan tentang konsep yang sulit, mencari ide, merangkum informasi, dan membantu dalam menyusun tugas.
Pentingnya Pemanfaatan AI yang Kritis
Meskipun penggunaan AI semakin meluas, OECD menegaskan bahwa pemanfaatan chatbot AI tidak selalu menjamin peningkatan dalam pembelajaran. Kemampuan siswa untuk menggunakan AI secara kritis dan memahami batasan teknologi ini menjadi sangat penting dalam konteks pendidikan. Penggunaan chatbot AI harus dibedakan antara membantu siswa memahami materi dan sekadar menghasilkan jawaban untuk menyelesaikan tugas. Kemampuan siswa dalam memanfaatkan teknologi secara tepat menjadi aspek penting seiring dengan meningkatnya penggunaan AI dalam kegiatan belajar.
Data PISA 2025 juga menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan AI di kalangan pelajar terjadi di saat kemampuan akademik Indonesia masih menghadapi tantangan. Dalam bidang matematika, hanya 17% pelajar Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih, yang merupakan tingkat kompetensi dasar dalam kerangka PISA. Angka ini jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 65%. Sementara dalam sains, 37% pelajar Indonesia mencapai Level 2 atau lebih, dibandingkan dengan 74% pada rata-rata OECD. Dalam kemampuan membaca, proporsi pelajar Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih adalah 27%, juga lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD yang mencapai 69%.
Fokus PISA 2025 pada Kemampuan Sains
PISA 2025 akan mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan untuk menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pada edisi 2025 ini, sains menjadi fokus utama asesmen, sedangkan matematika dan membaca akan menjadi area minor. Data ini memberikan gambaran mengenai penggunaan chatbot AI dalam kegiatan belajar serta kemampuan akademik pelajar Indonesia. Oleh karena itu, penggunaan teknologi AI dalam pendidikan perlu diimbangi dengan kemampuan siswa untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis.