Kesehatan

Pentingnya Memahami Mindfulness Tanpa Jatuh ke Dalam Toxic Positivity

Diskusi mengenai mindfulness di tengah situasi sulit perlu diimbangi dengan pemahaman yang benar agar tidak berujung pada toxic positivity, yang dapat merugikan orang lain.

J
Jarot Kusna
15 September 2026 28 pembaca
Foto: Getty Images/irina_girich
Foto: Getty Images/irina_girich

Jakarta - Perdebatan mengenai konsep mindfulness yang muncul di tengah bencana mendapat perhatian serius. Psikiater dari RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren, mengingatkan agar ajakan untuk selalu berpikir positif tidak berubah menjadi toxic positivity yang dapat menyakiti perasaan orang lain.

Menurut dr. Lahargo, toxic positivity muncul ketika dorongan untuk selalu bersikap positif mengabaikan atau menyangkal emosi negatif, penderitaan, dan realitas sulit yang dialami oleh para korban. Ia memberikan contoh kalimat yang sering digunakan, seperti 'Jangan sedih, harus bersyukur', 'Jangan terlalu dipikirkan, positive thinking saja', atau 'Semua pasti ada hikmahnya'. "Kalimat-kalimat tersebut tidak selalu salah, tetapi timing dan konteks sangat menentukan," ujarnya saat dihubungi pada Senin (14/9/2026).

Empati dalam Situasi Krisis

Dr. Lahargo menekankan bahwa dalam situasi krisis atau bencana, menunjukkan empati tidak selalu berarti memberikan nasihat atau ajakan untuk berpikir positif. Ungkapan yang dimaksudkan untuk perawatan diri bisa terasa menyakitkan jika disampaikan tanpa memperhatikan kondisi psikologis masyarakat yang sedang berduka.

Mindfulness Sejati dan Realitas

Meluruskan kesalahpahaman mengenai mindfulness, Lahargo menjelaskan bahwa mindfulness tidak berarti mengabaikan berita buruk atau berpaling dari bencana. Sebaliknya, mindfulness adalah kemampuan untuk menyadari realitas yang ada secara jelas agar seseorang bisa mengelola emosinya dan merespons dengan tindakan yang bermanfaat. "Jadi mindfulness bukan berarti menutup mata terhadap berita buruk, penderitaan, atau bencana. Justru kita mengakui realitas tersebut sambil menjaga agar emosi kita tidak sampai mengambil alih seluruh kemampuan untuk berpikir dan bertindak," jelasnya.

Ia juga menjelaskan perbedaan mendasar antara mindfulness dan toxic positivity terletak pada cara respons terhadap emosi yang muncul saat menghadapi bencana. "Dan mungkin pembeda paling sederhana antara mindfulness dan toxic positivity adalah, mindfulness memberi ruang pada emosi, toxic positivity menyuruh emosi segera pergi. Mindfulness bukan memalingkan wajah dari realitas. Mindfulness membantu kita menghadapi realitas tanpa kehilangan diri sendiri," tutup dr. Lahargo.

Artikel Terkait