Kesehatan

Pentingnya Mengganti Masker Secara Berkala Saat Menghadapi Abu Vulkanik

Penggunaan masker saat terpapar abu vulkanik memerlukan perhatian khusus, terutama dalam hal penggantian secara rutin untuk menjaga kesehatan pernapasan.

A
Adhe Dharma
07 September 2026 31 pembaca
Foto: Menyebarnya abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sebagian pengunjung CFD memakai masker (Andhika Prasetia/detikFoto)
Foto: Menyebarnya abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sebagian pengunjung CFD memakai masker (Andhika Prasetia/detikFoto)

Jakarta - Masker menjadi salah satu alat penting untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik. Namun, penggunaannya tidak boleh dilakukan secara terus-menerus tanpa penggantian. Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menekankan bahwa pedoman penggunaan masker dalam situasi bencana polusi umumnya merekomendasikan agar masker respirator diganti secara berkala.

“Secara berkala artinya, secara waktu tertentu harus diganti,” ungkap dr Agus dalam tayangan detikPagi pada Senin (7/9/2026). Menurutnya, masker yang berfungsi menyaring udara luar akan menangkap berbagai partikel kotoran, sementara udara yang dikeluarkan saat bernapas mengandung uap air.

Risiko Masker Lembap

“Nah, uap air dari napas kita itu akan membuat masker kita itu terasa lembap setelah sekian jam. Nah, kalau lembap itu menjadi sumber infeksi. Oleh karena itu, harus diganti misalnya 6-8 jam sekali,” jelasnya. Masker respirator dianggap sebagai pilihan terbaik saat terpapar abu vulkanik karena memiliki kemampuan filtrasi yang baik terhadap partikel halus.

“Rekomendasinya kemampuan filtrasinya harus di atas 95%. Namanya yang paling terkenal itu N95, KN95, atau FFP2, atau merek-merek lain. Prinsipnya, teman-teman bisa saja beli di berbagai online atau tempat, tapi harus dibaca,” tambahnya. Meskipun demikian, harga masker ini relatif mahal. Menurut dr Agus, masker yang lebih mudah diakses seperti masker bedah tetap bisa digunakan untuk perlindungan.

Efektivitas Masker Bedah

“Secara teori, tentu efektivitas memfiltrasinya di dalam literatur-literatur itu hanya sekitar 50-60%. Filtrasi terhadap partikel halus, 9,5%,” kata dr Agus. “Tetapi itu lebih baik daripada Anda tidak pakai sama sekali. Jadi, cara pakainya harus benar, yang rapat supaya tidak bocor. Itu yang paling penting, ya,” tambahnya.

Dengan demikian, mengganti masker secara rutin dan memastikan pemakaiannya yang benar sangat penting untuk menjaga kesehatan pernapasan, terutama dalam situasi yang berpotensi berbahaya seperti paparan abu vulkanik.

Artikel Terkait