Ekonomi

Penurunan Pangsa Pasar Global Komoditas Ekspor Indonesia: Karet, Gula, dan Teh Terpuruk

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pangsa pasar global untuk beberapa komoditas ekspor Indonesia mengalami penurunan signifikan. Karet, gula, dan teh, yang dulunya menjadi andalan, kini h...

D
Dinda Mughni
08 October 2026 22 pembaca
Ade Rosman
Ade Rosman

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pangsa pasar global untuk berbagai komoditas ekspor Indonesia telah merosot drastis dibandingkan hampir satu abad yang lalu. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan bahwa karet, gula, dan teh yang sebelumnya menjadi andalan ekspor Indonesia kini hanya menguasai sebagian kecil dari pangsa pasar dunia.

Amalia menjelaskan bahwa kondisi ini memberikan pelajaran penting bahwa perekonomian yang bergantung pada komoditas tanpa adanya pengolahan dan teknologi akan sulit untuk dipertahankan dalam jangka panjang. “Artinya perekonomian yang berbasis komoditas tanpa sentuhan teknologi, tanpa diolah menjadi produk hilir yang bernilai tambah tinggi, tidak akan sustain,” ujar Amalia pada acara Mata Lokal Fest 2026 yang berlangsung di Jakarta pada hari Rabu, 7 Oktober.

Penurunan Pangsa Pasar Karet dan Gula

Ia mencatat bahwa pada tahun 1927, Indonesia mampu memenuhi sekitar 37% kebutuhan pasar ekspor karet global. Namun, saat ini, pangsa ekspor karet Indonesia di pasar dunia hanya tersisa 2,4%. Penurunan serupa juga terjadi pada komoditas gula, di mana pada tahun 1927, Indonesia menyuplai sekitar 10% pasar gula dunia, tetapi kini hanya tersisa sekitar 0,75%.

Pangsa ekspor teh Indonesia pada tahun 1927 juga mencapai 16% dari pasar global, tetapi kini telah menurun menjadi 0,67%. Amalia menegaskan bahwa penurunan ini menunjukkan bahwa keunggulan sebagai negara penghasil komoditas tidak serta merta menjamin daya saing Indonesia di pasar internasional.

Pentingnya Hilirisasi untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi

Oleh karena itu, ia menilai bahwa Indonesia perlu merubah strategi dengan mengolah sumber daya alam menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Menurut Amalia, hilirisasi merupakan salah satu cara untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan. “Nah, ini saatnya kita sekarang bagaimana mengolah sumber daya alam yang dimiliki menjadi produk bernilai tambah tinggi dengan sentuhan teknologi,” jelasnya.

Dengan melakukan pengolahan terhadap komoditas tersebut, Indonesia dapat meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan. Sebagai contoh, komoditas kelapa sawit dapat diolah menjadi minyak goreng, yang meningkatkan nilai tambahnya sekitar empat hingga enam kali lipat. Begitu pula biji kopi yang setelah diolah menjadi bubuk kopi dapat meningkatkan nilai tambahnya dua hingga tiga kali lipat. “Kelapa, jangan jual kelapa butiran, tapi ketika kelapa diolah menjadi minyak kelapa, nilai tambahnya naik sampai 2 sampai 5 kali lipat,” tambah Amalia.

Amalia juga menekankan bahwa penciptaan nilai tambah tidak hanya bergantung pada proses produksi, tetapi juga pada teknologi, pengemasan, dan kemampuan untuk membangun merek yang dapat bersaing di pasar global. Ia memberikan contoh Singapura yang berhasil membangun merek teh TWG meskipun tidak memiliki perkebunan teh, serta Maroko yang memiliki merek kopi Bacha Coffee meskipun biji kopinya berasal dari negara lain. “Nilai tambah yang diciptakan adalah branding, kemasan, teknologi, dan lain-lain,” tuturnya.

Amalia menilai bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan produk bernilai tambah dan membangun merek di tingkat global, berkat kekayaan sumber daya alam yang dimiliki. Ia mencatat kopi sebagai salah satu komoditas dengan peluang besar, di mana beberapa kopi Indonesia seperti kopi Gayo, Kintamani, Toraja, dan kopi Jawa telah dikenal di pasar global.

BPS mencatat bahwa Indonesia memiliki sekitar 461.991 kedai kopi, dan ekspor kopi Indonesia pada semester pertama tahun 2026 mencapai sekitar 208.000 ton dengan nilai sekitar 1 miliar dolar AS. Menurut Amalia, potensi ini perlu terus dikembangkan agar Indonesia tidak hanya berhenti sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu menguasai bagian yang lebih besar dari rantai nilai global. “Jadi saatnya Indonesia naik kelas lewat hilirisasi, lewat nilai tambah,” pungkas Amalia.

Artikel Terkait