Kesehatan

Penyalahgunaan Obat Pencahar: Dampak Berbahaya bagi Kesehatan Usus

Sebuah video kolonoskopi yang viral menunjukkan perbedaan mencolok antara usus besar normal dan usus yang mengalami penyalahgunaan obat pencahar, memicu diskusi di media sosial mengenai risiko kesehat...

I
Indriani Atmaja
03 October 2026 24 pembaca
Efek laxative abuse? Foto: Viral 'X' @docakx
Efek laxative abuse? Foto: Viral 'X' @docakx

Jakarta - Sebuah video yang memperlihatkan hasil pemeriksaan kolonoskopi menjadi viral dan memicu perdebatan di media sosial X. Video tersebut diunggah oleh seorang dokter dari India, Dr. AK, dengan akun @docakx. Dalam tayangan tersebut, terlihat perbedaan yang signifikan antara usus besar yang sehat dan usus pasien yang mengalami penyalahgunaan obat pencahar (laxative abuse). Pada usus pasien tersebut, dindingnya tampak memiliki corak gelap menyerupai kulit harimau.

Fenomena ini menarik perhatian publik, terutama di kalangan pengguna produk teh pelangsing, teh detoks, dan suplemen yang diklaim dapat memperlancar buang air besar (BAB) untuk menurunkan berat badan.

Penjelasan Medis tentang Laxative Abuse

Konsultan gastroenterohepatologi dari Mayapada Hospital, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, FINASIM, memberikan penjelasan mengenai kondisi yang menjadi viral tersebut. Menurut dr. Aru, kondisi yang dialami pasien dalam video tersebut disebabkan oleh penyalahgunaan obat pencahar yang tidak sesuai dengan anjuran medis. Banyak individu yang mengonsumsi obat pencahar secara mandiri tanpa pengawasan dokter untuk mencapai berat badan ideal.

"Jadi, itu adalah suatu kondisi di mana orang itu butuh banget dengan pencahar. Jadi, ketergantungan akan suatu obat-obatan untuk membantu buang air besar supaya bisa normal. Jadi, penggunaan obat-obat pencahar yang tidak sesuai aturan medis yang jelas," ujarnya.

Risiko Kesehatan dari Penyalahgunaan Obat Pencahar

Dr. Aru menambahkan bahwa upaya untuk menurunkan berat badan dengan cara berlebihan memicu BAB dapat berisiko bagi kesehatan usus. Ia menjelaskan bahwa corak gelap pada usus besar bukanlah hal yang berhubungan dengan mistis, melainkan merupakan reaksi kimia dari jenis obat pencahar tertentu.

Obat pencahar yang termasuk dalam golongan antrakuinona, yang sering ditemukan pada tanaman herbal, bisa menjadi penyebabnya. "Jadi, itu adalah obat pencahar yang golongannya namanya jenisnya anthraquinone. Jadi anthraquinone itu biasanya jenis-jenisnya adalah seperti dia mengandung Senna. Senna itu sejenis tanaman, ada Senna atau mengandung aloe vera atau lidah buaya, atau mengandung Cascara," jelasnya.

Dr. Aru menekankan pentingnya penggunaan obat pencahar yang terkontrol dan sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mengonsumsinya, agar terhindar dari efek samping yang merugikan.

Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya penyalahgunaan obat pencahar, diharapkan masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih cara untuk menurunkan berat badan dan menjaga kesehatan usus mereka.

Artikel Terkait