Jakarta - Kanker payudara dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti usia dan genetika. Meskipun ada beberapa faktor yang tidak dapat diubah, terdapat aspek yang bisa diatur melalui pilihan gaya hidup, termasuk olahraga yang dianggap sebagai salah satu cara untuk menjaga kesehatan. Namun, seberapa besar pengaruh olahraga dalam mencegah kanker payudara?
Direktur dan Kepala Klinik Onkologi Radiasi di Dharmshila Narayana Superspeciality Hospital, Delhi, India, dr Kanika Sood Sharma, memberikan penjelasan mengenai peran olahraga dalam mengurangi risiko kanker payudara serta jenis latihan yang sebaiknya dilakukan.
Olahraga dan Risiko Kanker Payudara
Menurut dr Sharma, kanker payudara lebih umum terjadi pada individu yang mengalami obesitas. Hal ini disebabkan oleh penumpukan lemak di area perut yang berfungsi sebagai penghasil hormon. "Biasanya, hormon estrogen dan progesteron disekresikan oleh gonad, dengan ovarium sebagai sumber utama, tetapi lemak itu sendiri juga merupakan sumbernya," ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa penumpukan lemak di sekitar perut harus menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan aktivitas hormonal. "Jadi, di mana pun terdapat penumpukan lemak yang besar di sekitar perut Anda, sumber tambahan akan ditambahkan, dan itu merangsang estrogen yang tidak terkendali. Stimulasi estrogen yang tidak terkendali adalah salah satu penyebab kanker payudara," jelasnya.
Lokasi penumpukan lemak berpengaruh pada hormon dan dapat berhubungan dengan risiko kanker. Namun, olahraga tidak dapat secara spesifik membakar lemak di perut. Oleh karena itu, penting untuk mengurangi lemak tubuh secara keseluruhan melalui aktivitas fisik yang rutin dan pola makan yang seimbang.
Jenis Olahraga untuk Mencegah Kanker Payudara
dr Sharma menyatakan bahwa tidak ada satu jenis olahraga yang dapat dianggap sebagai solusi ajaib. Yang lebih penting adalah konsistensi dan motivasi untuk tetap aktif. Alih-alih mencari satu jenis olahraga yang terbaik, disarankan untuk melakukan berbagai aktivitas fisik yang sesuai dengan usia, tingkat kebugaran, dan kemampuan masing-masing individu.
Latihan kekuatan, misalnya, sangat bermanfaat bagi perempuan, tidak hanya dalam konteks pencegahan kanker payudara. "Latihan kekuatan, khususnya bagi wanita, penting tidak hanya untuk pencegahan kanker payudara, tetapi juga untuk kesehatan tulang mereka," kata dr Sharma.
Seiring bertambahnya usia, dr Sharma menyarankan agar wanita lebih fokus pada pemeliharaan otot dan tulang yang dapat didukung dengan latihan kekuatan, alih-alih hanya bergantung pada latihan kardio. Mempertahankan massa otot yang baik juga sangat penting untuk kesehatan metabolisme, karena otot berperan dalam pemanfaatan glukosa dan sensitivitas insulin, yang pada gilirannya dapat memengaruhi keseimbangan hormon.
Oleh karena itu, tidak ada satu latihan yang paling baik. Untuk mencegah kanker payudara, wanita disarankan untuk menggabungkan berbagai jenis latihan seperti peregangan, kardio, dan latihan kekuatan. Kuncinya adalah tetap aktif secara fisik. "Ketika Anda mulai berkeringat, itu berarti aktivitas kardiovaskular Anda meningkat, dan detak jantung Anda naik," jelasnya. Cara ini membuat tubuh bekerja dengan intensitas lebih tinggi dan membakar lemak.
dr Sharma juga menekankan pentingnya menyesuaikan olahraga dengan usia, kondisi kesehatan, kemampuan bergerak, dan tingkat kebugaran sebelum menentukan jenis dan intensitas latihan. Ia menegaskan bahwa latihan untuk seseorang yang berusia 80 tahun tidak bisa disamakan dengan latihan bagi orang berusia 40 tahun. Selain itu, olahraga berlebihan juga harus dihindari, dan jenis serta intensitas latihan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan tubuh agar tetap aman, karena latihan yang terlalu berat dapat meningkatkan risiko cedera.