Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara anak berinteraksi di lingkungan sekolah. Galih Sulistyaningra, seorang guru SD dan Co-Founder Smartick Indonesia, mengungkapkan bahwa semakin banyak anak yang mengalami kondisi sosial canggung atau socially awkward. Istilah ini merujuk pada situasi di mana individu merasa tidak nyaman atau kikuk saat berinteraksi dengan orang lain, yang terlihat dari kesulitan dalam memulai percakapan dan membangun hubungan sosial.
Pengaruh Smartphone terhadap Interaksi Anak
Menurut Galih, kemajuan teknologi dan AI adalah hal yang tidak dapat dihindari, terutama dengan semakin luasnya penggunaan smartphone di kalangan anak-anak. Hal ini menyebabkan anak lebih banyak berinteraksi dengan perangkat digital, yang pada gilirannya dapat mengurangi interaksi mereka dengan dunia nyata. Namun, ia menekankan bahwa guru dan orang tua tidak seharusnya hanya menyalahkan teknologi atas perubahan pola interaksi tersebut. Lingkungan rumah dan sekolah seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk belajar menggunakan teknologi dengan bijak.
Pentingnya Empati dan Interaksi Manusia
Di tengah kemajuan teknologi, Galih menilai bahwa hubungan dan interaksi antarmanusia tetap sangat penting. Ia berpendapat bahwa rasa empati dan kepedulian terhadap anak harus dibangun dari lingkungan terdekat, seperti rumah dan sekolah. Pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga melibatkan orang tua dan orang dewasa lainnya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kemampuan bersosialisasi dan empati anak. "Kita sering mendengar bahwa dibutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak," ujarnya.
Galih juga menekankan bahwa diskusi dan percakapan di dalam kelas sangat penting. Komunikasi langsung antara orang dewasa dan anak dianggap sebagai cara untuk membangun kedekatan. Ia percaya bahwa interaksi tatap muka tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI, meskipun teknologi tersebut dapat membantu merangkum hasil percakapan. Kesan dan kepercayaan yang terbentuk tetap bergantung pada koneksi antarmanusia.
Adaptasi Pendidikan terhadap Perkembangan AI
Walaupun mengakui tantangan yang dihadapi anak akibat perubahan gaya hidup, Galih berpendapat bahwa dunia pendidikan harus beradaptasi dengan perkembangan AI. Saat ini, ia sedang mengembangkan platform pembelajaran matematika adaptif berbasis AI yang bertujuan untuk membuat proses belajar lebih personal sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Teknologi ini diharapkan dapat membantu guru yang biasanya menangani sekitar 30 murid dengan kebutuhan belajar yang beragam. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan untuk meringankan beban mereka dan mendukung keberagaman kebutuhan belajar siswa, sehingga proses pembelajaran dapat lebih efektif.