Kesehatan

Perdebatan Skin Booster Kolagen dari Jaringan Kulit Mayat di Media Sosial

Sebuah produk skin booster asal Korea Selatan yang menggunakan jaringan kulit dari donor yang telah meninggal dunia menjadi sorotan di media sosial. Produk ini dikenal sebagai Elravie Re2O dan memicu...

J
Jarot Kusna
16 September 2026 25 pembaca
Foto: Ilustrasi skin booster (Getty Images/Dobrila Vignjevic)
Foto: Ilustrasi skin booster (Getty Images/Dobrila Vignjevic)

Jakarta - Sebuah perawatan kulit yang dikenal sebagai skin booster kini tengah menjadi topik hangat di kalangan pengguna media sosial. Produk tersebut, yang bernama Elravie Re2O, merupakan injeksi anti-aging dari Korea Selatan yang memanfaatkan jaringan kulit manusia dari donor yang telah meninggal dunia.

Menurut penjelasan Dr. Taylor-Davies, seorang mantan dokter unit gawat darurat yang kini beralih menjadi praktisi estetika, jaringan kulit yang digunakan berasal dari donor yang telah memberikan izin untuk penggunaan jaringannya. Proses pengolahan jaringan ini melibatkan penghilangan sel dan materi genetik dari donor, sementara protein struktural seperti kolagen dan elastin tetap dipertahankan. Setelah itu, jaringan tersebut dimurnikan, disterilkan, dan diproses menjadi partikel kecil yang dapat disuntikkan.

Proses Pengolahan Jaringan Kulit

Dalam istilah medis, bahan yang digunakan disebut sebagai processed human dermal matrix. Istilah ini dianggap lebih tepat dibandingkan dengan menyebutnya sebagai "kolagen dari tubuh orang yang telah meninggal". Menurut Kim Han-saem, seorang dokter kulit dan kepala DoD Dermatology Clinic di Seoul, jaringan yang digunakan telah melalui proses penghilangan seluruh sel untuk mencegah penolakan oleh sistem imun serta efek samping seperti alergi.

Dr. Taylor-Davies juga menjelaskan bahwa jaringan dari jenazah tersebut telah diproses untuk menghilangkan sel dan materi genetik. Protein struktural seperti kolagen dan elastin tetap dipertahankan, dan jaringan tersebut kemudian dimurnikan serta disterilkan agar dapat disuntikkan dengan aman.

Manfaat dan Keterbatasan Penelitian

Penelitian menunjukkan adanya perbaikan dalam kepadatan dan elastisitas kulit, serta pengurangan kerutan dan pori-pori setelah perawatan. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mungkin mengalami kulit yang lebih halus, kencang, dan terhidrasi dengan tekstur yang lebih baik secara keseluruhan. Namun, Dr. Taylor-Davies juga mencatat bahwa penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti durasi studi yang hanya berlangsung selama 20 minggu dan jumlah peserta yang relatif sedikit, serta dilakukan oleh peneliti yang terlibat dalam pengembangan produk.

Dengan demikian, meskipun produk ini menarik perhatian, penting bagi calon pengguna untuk mempertimbangkan semua aspek dan melakukan penelitian lebih lanjut sebelum memutuskan untuk mencoba perawatan ini.

Artikel Terkait