Jakarta - Prof. Budi Wiwieko, Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), mengingatkan masyarakat, terutama perempuan, mengenai risiko yang ditimbulkan oleh paparan Bisfenol A (BPA) yang sering ditemukan dalam kemasan makanan dan minuman. Meskipun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan batas aman BPA sebesar 0,6 ppm, zat ini tetap berpotensi terakumulasi di dalam tubuh.
Prof. Budi menjelaskan bahwa akumulasi BPA dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan gangguan hormonal yang berpotensi mengganggu proses reproduksi. "Nah, kalau terakumulasi dalam kadar tertentu, akan terjadilah gangguan kerja. Misalkan ya, hormon yang dikeluarkan oleh otak untuk memerintahkan indung telur memproduksi sel telur, sehingga akan terjadi gangguan pematangan sel telur," ungkapnya.
Batas Regulasi BPOM dan Risiko Akumulasi Dalam Tubuh
Terkait dengan regulasi yang ada, BPOM telah menetapkan batas aman untuk kandungan BPA. Namun, masyarakat tetap perlu waspada terhadap tingkat paparan harian yang mungkin terjadi. "Badan POM dalam regulasi menyampaikan batas maksimal kadar Bisfenol itu 0,6 ppm (parts per million). Tetapi seperti yang kita ketahui, walaupun dia dalam kadar yang sangat kecil, kalau terekspos berulang kali akan terjadi akumulasi," jelas Budi.
Ancaman Endocrine Disrupting Chemical bagi Perempuan
Prof. Budi menekankan pentingnya kesadaran masyarakat, terutama wanita, mengenai bahaya dari Endocrine Disrupting Chemical (EDC) atau bahan kimia yang dapat mengganggu keseimbangan hormon. "Mengapa masyarakat, terutama perempuan, harus sadar betul bahwa paparan (exposure) terhadap Endocrine Disrupting Chemical atau Bisfenol ini akan sangat membahayakan untuk kesehatan reproduksinya. Dan itu salah satu sumber paparan yang paling erat dalam kehidupan sehari-hari adalah kemasan minuman maupun kemasan makanan," tuturnya.
Risiko Pencucian dan Sinar Matahari pada Galon Guna Ulang
Selain kemasan makanan, Prof. Budi juga menyoroti risiko pelepasan BPA dari kemasan yang digunakan berulang kali, seperti galon isi ulang yang sering dicuci dan terpapar sinar matahari. "Dan kita tahu juga risiko-risiko bila menggunakan kemasan yang digunakan berulang, salah satu contoh, galon isi (guna) ulang. Salah satu risikonya, dengan dia dicuci, pencucian berulang kali, exposure dengan sinar matahari, itu juga justru akan meningkatkan kandungan BPA di dalam air yang berada di dalam kemasan tersebut," tegasnya.