Ekonomi

Perjalanan Inspiratif Bengkel Autotama di Ujung Timur Bali

Bengkel Autotama, yang didirikan oleh I Wayan Sutama, telah menghadapi berbagai tantangan sejak berdiri pada tahun 2004, namun kini menjadi salah satu bengkel terbesar di Karangasem, Bali.

J
Jaya Abdi
29 September 2026 17 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

Ketika Katadata mengunjungi Bengkel Autotama pada awal Juni lalu, terik matahari menyambut kedatangan mereka. I Wayan Sutama, pemilik bengkel berusia 50 tahun, menyambut dengan hangat, didampingi oleh para pegawainya yang mengenakan seragam berwarna hitam, merah, dan biru. Bengkel ini telah beroperasi sejak tahun 2004 dan dimulai dengan modal nekat tanpa pengalaman di bidang otomotif.

Sebelum membuka Autotama, Sutama menjalankan usaha toko pertanian di lokasi yang sama, dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan petani di Karangasem. Ia kemudian memutuskan untuk membuka bengkel sebagai usaha kedua. "Saya tidak punya basic di bidang otomotif. Pendidikan tidak ada, pekerjaan juga tidak pernah di bidang itu, jadi kalau dibilang buka usaha tanpa adanya bekal," ungkap Sutama saat ditemui di Karangasem.

Awal yang Sulit

Modal awalnya hanya berasal dari hobi memperbaiki kendaraan keluarga. Nama Autotama diambil dari namanya sendiri dan kata "auto". Saat itu, ia dibantu oleh empat orang, terdiri dari satu admin dan tiga mekanik. Namun, perjalanan usahanya tidak semudah yang dibayangkan. Enam bulan setelah berdiri, ketiga mekanik tersebut memutuskan untuk keluar. Sutama mengakui bahwa ia sering dibohongi karena kurangnya pemahaman tentang teknis bengkel. "Tiga karyawan saya itu semuanya berhenti karena saya dibohongi. Saya kan tidak tahu apa-apa, jadi mudah dibohongi sama mekanik," jelasnya.

Setelah sempat bangkit, Sutama menghadapi pukulan berat pada tahun 2009 ketika mekanik kepercayaannya pergi, membawa sebagian pelanggan dan membuka usaha sendiri. Ia menyebut masa-masa itu sebagai titik terendah dalam perjalanan bisnisnya. Lima tahun berlalu, usaha Sutama tidak kunjung balik modal. Dalam kebuntuan tersebut, ia mencoba menghubungi Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dengan mengirimkan proposal untuk mendapatkan pembinaan dari PT Astra International Tbk pada tahun 2010. Tanpa banyak harapan, ia terkejut ketika mendapat respons positif dan pengajuan pembinaannya disetujui.

Transformasi Melalui Pembinaan

Sejak saat itu, bengkel Sutama memasuki fase baru. Bersama mekaniknya, ia berangkat ke Jakarta untuk mengikuti serangkaian pelatihan dan pendampingan dari YDBA. Melalui pembinaan ini, Sutama belajar tentang pengelolaan sumber daya manusia, penyusunan prosedur kerja, dan strategi pemasaran. Ia menerapkan konsep service advisor dan budaya kerja 5R, yaitu ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin di bengkelnya. "Pelatihan 5R ini yang ada di YDBA Astra, jadi kami berupaya melatih 5R itu sehingga benar-benar bisa berguna bagi perkembangan bengkel Autotama," ucap Sutama.

Hasil dari penerapan 5R sangat terasa di lantai bengkel. I Komang Putu Astana, Manajer Operasional Bengkel Autotama, yang pernah menjadi ketua tim 5R, berhasil membawa timnya meraih juara ketiga dalam Kompetisi 5R yang diadakan oleh Yayasan Astra pada tahun 2023-2024. Menurut Astana, penerapan 5R memberikan tiga manfaat utama: peningkatan efisiensi dan prioritas kerja, lingkungan kerja yang lebih tertata, serta perubahan kebiasaan mekanik menjadi lebih rutin dalam menjaga kebersihan.

Sebelum 5R diterapkan, banyak alat yang hilang dan mudah rusak. Namun, setelah implementasi 5R, totalitas kerja meningkat, dan kebersihan menjadi nilai jual bagi pelanggan. "Jadi konsumen mempercayakan untuk perawatan ataupun perbaikan kendaraan di Bengkel Autotama," ungkap Astana. Secara bertahap, perubahan ini meluas ke seluruh bengkel, dan Autotama membuka cabang kedua pada tahun 2013 dan cabang ketiga pada tahun 2017, kini memiliki tiga lokasi di Karangasem dengan total 49 karyawan.

Sutama kini tidak hanya fokus pada cara bertahan. Setelah lebih dari dua dekade, ia menyatakan bahwa Autotama telah menjadi salah satu bengkel umum terbesar di Karangasem. "Visi kami menjadi bengkel terlengkap dan terpercaya, dan menjadi pilihan kedua setelah bengkel resmi," katanya.

Menghadapi Tantangan Pandemi

Meskipun sempat tertekan akibat pandemi Covid-19, yang membuat permintaan servis kendaraan menurun drastis, Sutama tetap berusaha. "Saat Covid itu kami sampai di titik terbawah," ujarnya. Namun, seiring dengan pemulihan ekonomi Bali, omzet Autotama meningkat dari sekitar Rp 1,5 miliar pada tahun 2022 menjadi Rp 2,7 miliar pada tahun 2023, dan kini mencapai sekitar Rp 7 miliar per tahun.

Melalui pelatihan dari Yayasan Astra dan jaringan Himpunan Bengkel Binaan Astra (HBBA), Sutama dan timnya belajar mengelola sumber daya manusia, menyusun prosedur kerja, serta merancang strategi pemasaran. Ia mengidentifikasi lima faktor yang membuat Bengkel Autotama dapat bertahan: kolaborasi antara mekanik berpengalaman dan service advisor, budaya pelatihan rutin, peralatan modern, standar operasional yang ketat, serta budaya kerja 5R.

Sebelum mengikuti pelatihan Astra, Sutama mengakui sering salah dalam menangani limbah bengkel. Kini, bengkelnya mampu mengelola limbah B3 dengan baik. Limbah seperti kaleng oli dan material berbahaya lainnya tidak lagi dibuang sembarangan. Oli bekas, misalnya, dimanfaatkan untuk pabrik keramik di Bali sebagai bahan bakar. "Kita tidak memandang itu uangnya, tapi bagaimana itu bermanfaat untuk orang di Bali," kata Sutama.

Selain itu, Sutama dan tim juga dilatih untuk mengelola limbah organik dan limbah kaca. "Kami harus berbenah untuk mengurangi seminimal mungkin dampak dari usaha kita, karena bengkel identik dengan bahaya," tambahnya. Autotama juga merupakan bagian dari Himpunan Bengkel Binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (HBBA) yang kini menaungi sekitar 95 bengkel di regional Jawa Timur-Bali.

HBBA adalah komunitas bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bengkel roda empat umum di Indonesia yang dibina oleh YDBA. Komunitas ini memberikan ruang bagi pemilik bengkel untuk berbagi pengalaman, memperluas jaringan, serta belajar dari praktik terbaik bengkel yang lebih maju.

Sutama merasakan manfaat dari pembinaan ini hingga ke detail teknis pengelolaan bengkel, termasuk manajemen, penataan, dan pengelolaan karyawan. "Dengan adanya HBBA ini, kami para pelaku usaha bengkel sangat banyak mendapat manfaat dari Yayasan Astra dengan binaannya, awalnya kami ini bengkel-bengkel otodidak," ungkapnya.

Pengalaman serupa juga dialami oleh I Wayan Supardi, pemilik Pardi Motor dan Bendahara Koordinator Wilayah Bali HBBA Jatim-Bali. Meskipun memiliki bekal teknis, bengkelnya stagnan karena dikelola secara konvensional. Titik balik datang pada tahun 2019 ketika Pardi Motor bergabung dengan HBBA, yang memberikan banyak kesempatan belajar dan tantangan untuk berkembang. "Ini hal yang luar biasa. Tidak banyak orang yang bisa ada di posisi ini," kata Supardi.

Saat ini, Pardi Motor bersiap membuka cabang kedua yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2026. Supardi percaya bahwa perjalanan pengusaha bengkel biasanya dimulai dari mekanik yang andal, namun tantangan saat menjadi pemilik usaha jauh lebih kompleks. Ia optimistis semua tantangan dapat dilalui dengan terus belajar dan berkomitmen untuk mengembangkan usaha.

Sutama menambahkan bahwa nilai kearifan lokal Bali, seperti Tri Hita Karana, sangat berpengaruh dalam pengelolaan bengkel. "Sehingga untuk bisa ikhlas kami harus merdeka di bisnis kami, bengkel kami harus mandiri tanpa kami," ujarnya. Hubungan antarmanusia dan hubungan dengan alam juga menjadi fokus dalam pembinaan, yang sejalan dengan misi Yayasan Astra.

Melalui penerapan 5R, pengelolaan limbah, dan manajemen yang baik, Sutama dan para pelaku usaha di HBBA berkomitmen untuk memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Artikel Terkait