Kisah inspiratif muncul dari penerimaan mahasiswa baru di Universitas Gadjah Mada (UGM), di mana Salma Nadhifah Hasna Khairiyyah, seorang gadis berusia 19 tahun, berhasil diterima di UGM melalui jalur SNBP 2026 (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi). Salma, yang kehilangan ayahnya pada tahun 2021, tinggal bersama ibunya, Riyanti, yang berusia 48 tahun dan berjuang sendirian untuk memastikan pendidikan putrinya tidak terhenti. Pada Maret 2026, Salma diterima di Program Studi Psikologi UGM.
Perjuangan Ibu untuk Pendidikan Anak
Keberhasilan Salma tidak terlepas dari perjuangan panjang ibunya, Riyanti, yang menjadi tulang punggung keluarga. Meskipun menghadapi tantangan ekonomi, Riyanti tidak pernah memadamkan harapan untuk pendidikan putrinya. Ketika Salma mengungkapkan keinginannya untuk berkuliah di UGM, Riyanti berkomitmen untuk mendukungnya sepenuh hati, meskipun ia belum tahu bagaimana biaya pendidikan tersebut akan terpenuhi. Bagi Riyanti, mimpi anak adalah sesuatu yang harus diperjuangkan bersama. “Salma cerita kalau dia mau kuliah. Saya bilang pokoknya semangat belajar, insyaallah ada jalannya. Meskipun ada keterbatasan ekonomi, saya tetap dukung. Tidak tahu jalannya dari mana, tapi dicoba dulu saja,” ungkapnya.
Salma tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, terutama dalam jurnalistik di sekolah. Selain diterima di UGM, Salma juga mendapatkan kabar baik lain dengan memperoleh subsidi UKT (Uang Kuliah Tunggal) 100 persen dari UGM. “Keadaan ekonomi kini memang sulit, tetapi ternyata alhamdulillah UGM memberi subsidi sampai 100 persen dan itu di luar bayangan saya selama ini,” ujarnya dengan haru.
Usaha dan Ketekunan dalam Menjalani Hidup
Riyanti, setelah ditinggal suaminya, tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia mencari cara untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mulai berjualan air minum kemasan. Dari usaha kecil ini, ia berusaha bertahan hingga kini. Setiap hari, ia menggunakan telepon genggam untuk menerima pesanan melalui WhatsApp dan mengantarkan air minum ke pelanggan. Meski tidak memiliki toko atau sistem penjualan yang pasti, penghasilan Riyanti berkisar Rp1,5 juta per bulan. Namun, ia tidak pernah menyerah. “Saya sering ada di titik terendah dalam keluarga. Tapi Tuhan itu Maha Baik. Kita berusaha terus. Kalau hari ini tidak jualan, nanti ada rezeki lain yang tiba-tiba datang,” tuturnya.
Selama ini, Riyanti berusaha mencari berbagai kemungkinan bantuan pendidikan untuk Salma. Ia percaya bahwa ada campur tangan Tuhan yang membuka jalan bagi putrinya. “Alhamdulillah saat Salma dapat subsidi UKT 100 persen. Selama ini saya terus berusaha mencarikan jalan untuk pendidikan anak. Saya cuma bisa berdoa, bismillah Allah yang kasih jalan,” katanya.
Salma menyadari betapa besar peran ibunya dalam hidupnya. Ia menyebut ibunya sebagai sosok yang kuat dan selalu memberikan dukungan dalam setiap langkah yang diambil. “Peran ibu sangat penting bagi saya karena ibu sendiri yang sudah membesarkan saya dari saya kecil. Beliau adalah sosok yang kuat, yang selalu memberi saya support sampai sekarang. Saya tidak akan berada di titik ini kecuali dengan ibu saya. Makasih umi,” ungkap Salma.