Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pada semester pertama tahun 2026, terdapat 99 kabupaten/kota di Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi melebihi 6%. Sebagian besar daerah tersebut terletak di Pulau Jawa dan Sulawesi.
Data Pertumbuhan Berdasarkan Wilayah
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa dari 99 kabupaten/kota yang mengalami pertumbuhan di atas 6%, sebanyak 39 di antaranya berada di Pulau Jawa. Sementara itu, Sulawesi mencatatkan 29 kabupaten/kota dengan pertumbuhan serupa. "Di Sumatra, baru 9 kabupaten/kota yang ekonominya tumbuh di atas 6%," jelas Amalia pada acara Mata Lokal Fest 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, 7 Oktober.
Amalia menambahkan bahwa kondisi ini menjadi tantangan bagi Sumatra, yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar, namun masih terpengaruh oleh pemulihan dari bencana. "Di Sumatra banyak potensi sumber daya alamnya, tinggal didorong agar kabupaten/kotanya bisa menciptakan nilai tambah ekonominya supaya mampu juga tumbuh di atas 6%," ujarnya.
Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Kontribusi Provinsi
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,45% pada semester pertama 2026. Amalia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional merupakan hasil agregasi dari pertumbuhan seluruh provinsi, sedangkan pertumbuhan masing-masing provinsi merupakan hasil agregasi dari kabupaten/kota. Dari 38 provinsi yang ada, 17 di antaranya berhasil tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama.
Amalia juga menyoroti bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi lebih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, enam provinsi di Jawa menyumbang 56,85% terhadap perekonomian nasional. DKI Jakarta menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 16,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Selanjutnya, Jawa Timur menyumbang 14,4%, diikuti oleh Jawa Barat dengan 12,9%. Jawa Tengah, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta juga turut melengkapi enam provinsi yang secara keseluruhan menyumbang lebih dari separuh ekonomi nasional.
Amalia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak hanya terjadi di daerah yang berbasis tambang. Beberapa daerah berhasil mencatatkan pertumbuhan yang signifikan dengan meningkatkan produktivitas dan nilai tambah dari sektor ekonomi yang ada. Salah satu contohnya adalah Kabupaten Ngawi di Jawa Timur, yang mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 8,14% pada semester pertama 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh inovasi dalam sektor pertanian, termasuk penerapan teknologi smart farming dan penggunaan drone oleh petani muda.
Contoh lainnya adalah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) di Sulawesi Selatan, yang mengalami pertumbuhan sebesar 6,85%. Daerah ini meningkatkan produktivitas tanaman pangan dan peternakan serta mengembangkan komoditas porang untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. "Jadi intinya adalah kalau daerah itu mau tumbuh tinggi, tidak perlu harus berbasis tambang. Bisa kalau dia punya sumber daya alam lainnya, asal dinaikkan produktivitasnya, di kemudian digerakkan agar bisa menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi untuk ekonomi di wilayah tersebut," ungkap Amalia.
Amalia juga menekankan pentingnya penguatan nilai tambah agar pertumbuhan ekonomi daerah tidak hanya bergantung pada penjualan komoditas mentah, tetapi juga mampu menciptakan aktivitas industri, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.