Pendidikan

PISA 2025: Singapura Memimpin, Indonesia Alami Kenaikan Skor Membaca

Hasil PISA 2025 menunjukkan Singapura menduduki peringkat teratas dengan skor membaca 535, sementara Indonesia mencatatkan skor 365, meningkat 6 poin dari sebelumnya.

J
Jarot Kusna
29 September 2026 19 pembaca
Ilustrasi anak-anak tengah belajar membaca/magnific
Ilustrasi anak-anak tengah belajar membaca/magnific

Hasil dari Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) 2025 menunjukkan bahwa Singapura berhasil meraih skor tertinggi dalam kemampuan membaca, yaitu 535 poin. Di sisi lain, Indonesia mencatat skor 365 poin, mengalami peningkatan sebesar 6 poin dibandingkan dengan hasil PISA 2022.

PISA, yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun. Penilaian ini tidak hanya menilai kemampuan mengingat materi, tetapi juga kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Partisipasi Global dan Fokus Penilaian

PISA 2025 melibatkan lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi, yang mewakili sekitar 33 juta anak berusia 15 tahun di seluruh dunia. Pada edisi kali ini, sains menjadi fokus utama penilaian, sementara membaca dan matematika tetap diukur sebagai domain tambahan.

Dalam hal kemampuan membaca, Singapura mencatatkan skor rata-rata 535 poin, diikuti oleh B-S-J-Z (China) dengan 527 poin, Chinese Taipei dengan 508 poin, dan Jepang dengan 503 poin. Rata-rata skor membaca untuk negara-negara anggota OECD adalah 461 poin.

Dominasi Asia dalam Skor Membaca

Dominasi negara-negara Asia terlihat jelas dalam kelompok dengan performa membaca tertinggi. Singapura berada di posisi teratas, diikuti oleh B-S-J-Z (China), Chinese Taipei, Jepang, Makau, dan Korea. OECD mencatat bahwa Singapura memperoleh skor 535 poin dan menduduki peringkat pertama dari 89 sistem pendidikan dengan data yang dapat dibandingkan untuk domain membaca. Sebanyak 86% siswa Singapura mencapai setidaknya Level 2 dalam membaca, sementara rata-rata OECD hanya 69%.

Kemampuan pada Level 2 atau lebih tinggi menunjukkan bahwa siswa setidaknya mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan tingkat kesulitan sedang, mencari informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan. Di tingkat yang lebih tinggi, sekitar 22% siswa Singapura mencapai Level 5 atau lebih dalam membaca, dibandingkan dengan rata-rata OECD yang hanya 6%.

Di Eropa, Irlandia menjadi salah satu negara dengan skor membaca tertinggi, yaitu 500 poin, hanya terpaut satu poin dari Estonia yang memperoleh 499 poin. Inggris mencatat 494 poin, diikuti oleh Finlandia dan Italia yang sama-sama mencatat 474 poin. Polandia mencatat 482 poin, Jerman 465 poin, dan Spanyol 447 poin dalam data OECD 2025.

Hasil ini terjadi di tengah penurunan rata-rata kemampuan membaca di negara-negara OECD. OECD mencatat bahwa skor membaca rata-rata negara-negara anggota turun 28 poin antara 2015 dan 2025, setara dengan sekitar satu setengah tahun pembelajaran. Selain itu, peningkatan digitalisasi, waktu penggunaan layar yang lebih lama, serta menurunnya kebiasaan membaca untuk kesenangan beriringan dengan hasil literasi yang lebih lemah. Namun, OECD menekankan bahwa tren ini tidak terjadi secara seragam di semua sistem pendidikan.

Amerika Serikat dan Kanada masing-masing mencatat skor membaca 490 poin, yang 29 poin lebih tinggi dari rata-rata OECD yang sebesar 461. Amerika Serikat berada di bawah Inggris, Australia, dan Irlandia dalam kelompok negara yang tercantum dalam tabel tersebut, sementara Kanada juga mencatat 490 poin, dengan hasil membaca yang berada di atas rata-rata OECD.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa skor membaca tidak hanya mencerminkan kemampuan siswa dalam memahami teks, tetapi juga menjadi indikator untuk melihat perbedaan capaian antar sistem pendidikan.

Indonesia mencatatkan skor membaca 365 poin pada PISA 2025, meningkat 6 poin dari 359 poin pada PISA 2022. Dalam data PISA 2025, Indonesia berada di peringkat 74 dari 90 negara dan ekonomi yang memiliki data membaca. Kenaikan ini terjadi di tengah penurunan rata-rata skor membaca di negara-negara OECD, sehingga pemerintah Indonesia menganggap peningkatan enam poin ini sebagai perkembangan positif dalam capaian literasi membaca nasional.

Namun, ada faktor lain yang perlu diperhatikan saat menilai hasil Indonesia. Coverage Index Indonesia meningkat dari 0,46 pada partisipasi PISA pertama di tahun 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025. Indeks ini menunjukkan proporsi anak berusia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal.

OECD juga memberikan apresiasi terhadap perkembangan ini. Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, menilai Indonesia berhasil memperluas akses pendidikan formal tanpa mengorbankan kualitas.

Selain skor membaca, data PISA 2025 juga menunjukkan beberapa karakteristik lain pada siswa Indonesia. Menurut Kemendikdasmen, siswa Indonesia menunjukkan tingkat keingintahuan yang tinggi dan kemampuan belajar mandiri. Mereka juga menunjukkan keterlibatan yang relatif tinggi dalam pembelajaran untuk menilai kredibilitas konten yang dihasilkan menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Secara keseluruhan, hasil PISA 2025 memberikan gambaran dualitas bagi Indonesia: skor membaca meningkat enam poin, namun jarak dengan sistem pendidikan teratas masih terlihat dari perbedaan skor. Data ini menjadi bagian dari gambaran capaian pendidikan Indonesia dalam asesmen internasional terbaru.

Artikel Terkait