Ekonomi

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,3% Tahun Ini, Belanja Pemerintah Jadi Penopang Utama

Bank DBS memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,3% pada tahun ini, didorong oleh belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat yang relatif stabil.

A
Adhe Dharma
10 September 2026 27 pembaca
Agustiyanti
Agustiyanti

Bank DBS memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai angka 5,3% pada tahun ini. Radhika Rao, seorang ekonom senior dari DBS Bank, menekankan bahwa pertumbuhan tersebut akan didorong terutama oleh belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat.

Peran Belanja Pemerintah dalam Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Radhika, belanja pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini terlihat dari peningkatan realisasi belanja pemerintah di berbagai sektor. “Jika melihat data fiskal bulanan, hal tersebut terlihat cukup jelas. Pemerintah membelanjakan anggaran untuk sektor sosial, tetapi juga untuk dukungan publik, investasi, serta belanja modal,” ungkap Radhika dalam acara media briefing mengenai prospek investasi multinasional pada Kamis (10/9).

Dia menambahkan bahwa kenaikan belanja pemerintah berlangsung cukup luas, sehingga dapat berfungsi sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi tahun ini. Selain itu, konsumsi masyarakat juga dinilai masih mampu bertahan. Salah satu faktor yang mendukung konsumsi adalah harga bahan bakar minyak (BBM) domestik yang tetap stabil meskipun harga minyak global mengalami kenaikan. “Karena kenaikan harga bahan bakar yang terjadi di luar negeri belum benar-benar berdampak kepada konsumen ritel di Indonesia. Harga minyak di dalam negeri, khususnya harga bahan bakar yang disubsidi, masih tidak berubah,” jelas Radhika.

Perdagangan dan Stabilitas Pasar Keuangan

Radhika juga mencatat bahwa sektor perdagangan diperkirakan akan memberikan kontribusi yang lebih kecil terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, terutama disebabkan oleh tingginya volume impor. “Kami memperkirakan perdagangan akan memainkan peran yang lebih kecil terhadap pertumbuhan karena impor masih tinggi,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Bank DBS menilai belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat sebagai dua pilar utama yang akan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini. Radhika juga mengamati bahwa pasar keuangan domestik Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda stabilitas dibandingkan dengan dua hingga tiga bulan sebelumnya. Stabilitas ini terlihat meskipun bagian panjang kurva imbal hasil masih merespons perkembangan pasar global, sedangkan bagian pendek kurva imbal hasil tetap relatif stabil. “Kami melihat pasar keuangan domestik menjadi jauh lebih stabil,” tambahnya.

Arus modal juga mulai kembali mengalir ke Indonesia, yang turut mendukung stabilitas pasar keuangan domestik. Radhika menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat pada paruh pertama tahun ini berkontribusi dalam memperbaiki sentimen terhadap perekonomian dan pasar keuangan. “Pertumbuhan ekonomi mencatatkan kinerja yang sangat kuat pada paruh pertama tahun ini. Seluruh faktor tersebut membantu menstabilkan narasi ekonomi dan bahkan mendorong stabilitas tersebut ke pasar keuangan domestik,” katanya.

Dari segi pembiayaan, pertumbuhan kredit, terutama untuk sektor industri, menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Namun, pertumbuhan kredit konsumen tidak mengalami peningkatan yang sama dengan kredit industri. Meskipun demikian, secara keseluruhan, pertumbuhan kredit masih berada dalam kisaran 8%-10%. Radhika menilai perkembangan ini menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam menilai prospek ekonomi Indonesia dalam tiga hingga enam bulan ke depan, di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung.

Artikel Terkait