PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) kini memasuki fase baru dengan mendiversifikasi bisnisnya ke sektor data center. Langkah ini diambil untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan infrastruktur digital yang semakin meningkat seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI). REAL melakukan ekspansi ini melalui anak usahanya, PT Repower Global Sinergitama (RGST), yang baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Quanta Tunas Abadi.
Kerja sama ini merupakan langkah awal dalam persiapan akuisisi yang bertujuan untuk mengembangkan bisnis RGST dalam bidang layanan terkelola, infrastruktur teknologi informasi, internet, dan data center. Quanta Tunas Abadi sendiri dikenal sebagai penyedia layanan internet dan infrastruktur jaringan di Indonesia dengan merek Higen. “Penandatanganan MoU ini menjadi landasan bagi RGST dan HIGEN dalam mempersiapkan dan membahas langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam rangka pengembangan kegiatan usaha di bidang tersebut,” jelas Direktur REAL, Sjafardamsah, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (7/10).
Proses Akuisisi dan Implikasi Saham
Setelah akuisisi selesai, REAL akan memiliki kesempatan untuk memperluas dan mengembangkan bisnis di sektor infrastruktur teknologi informasi, internet, dan data center. Namun, perlu dicatat bahwa transaksi ini belum bersifat final dan masih bergantung pada hasil uji tuntas, pemenuhan persyaratan internal masing-masing pihak, penandatanganan perjanjian definitif, serta persetujuan dari otoritas terkait sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Usai pengumuman tersebut, saham REAL mengalami lonjakan sebesar 16,28% hingga mencapai level Rp 50. Sebelumnya, REAL berfokus pada bisnis properti dan real estate, yang mencakup pembelian, penjualan, penyewaan, serta pengoperasian aset properti baik yang dimiliki maupun disewa. Beberapa proyek yang telah dikembangkan oleh REAL meliputi Botanical Puri Asri di Depok, Jawa Barat, yang memiliki luas lebih dari 1,8 hektare, serta proyek lainnya seperti Green Botanical Garden di Jakarta Selatan dan Apartemen Bekasi Timur.
Peluang di Sektor Digital dan Tantangan bagi Investor
Dengan masuknya REAL ke dalam bisnis data center, perusahaan ini bergabung dengan sejumlah emiten lain di BEI yang telah mulai mengincar sektor infrastruktur digital. Kenaikan permintaan akan komputasi dan penyimpanan data akibat perkembangan AI mendorong banyak emiten untuk berinvestasi di ekosistem data center. Beberapa emiten yang telah berinvestasi di sektor ini antara lain PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai bahwa tren akuisisi dan diversifikasi ke data center menunjukkan arah bisnis emiten Indonesia dalam mengejar peluang pertumbuhan di masa depan. Ia menekankan bahwa meskipun banyak perusahaan beralih ke sektor baru, tidak semua perubahan tersebut menunjukkan transformasi strategis yang kuat. “Pola ini konsisten dengan upaya konglomerasi memindahkan modal dari bisnis matang menuju sektor dengan pertumbuhan struktural lebih tinggi,” ungkapnya.
Syafruddin juga mengingatkan bahwa diversifikasi hanya memberikan nilai tambah jika perusahaan mampu memindahkan keunggulan dari bisnis lama ke bisnis baru. Jika hubungan antara kedua bisnis tersebut lemah, diversifikasi bisa menambah kompleksitas dan menekan valuasi perusahaan. Oleh karena itu, investor perlu mempertimbangkan beberapa faktor dalam menilai akuisisi, seperti harga, sumber pendanaan, integrasi, dan hasil.
Dalam hal ini, investor harus membandingkan akuisisi dengan perusahaan sejenis, memperhatikan sumber pendanaan, serta menilai kemampuan integrasi pasca-transaksi. “Reaksi harga saham saat pengumuman bukan bukti final,” tegas Syafruddin.